> Resensi > Romantisme Cinta dalam Balutan Sains dan Fantasi

Romantisme Cinta dalam Balutan Sains dan Fantasi

Judul Film       : Supernova ‘Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh’

Tayang             : 11 Desember 2014

Genre               : Romance-Drama-Fantasy

Sutradara         : Rizal Mantovani

Produser          : Sunil Soraya

Produksi          : Soraya Intercine Films

Durasi              : 131 menit

 

“Akhirnya aku mengerti betapa rumitnya konstruksi batin manusia. Betapa sukarnya manusia meninggalkan bias, menarik batas antara masa lalu dan masa sekarang. Aku kini percaya manusia dirancang untuk terluka.” Itulah salah satu kutipan dialog dari film keluaran Soraya Intercine Films berjudul Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Film yang merupakan adaptasi dari serial pertama novel Supernova karya Dewi ‘Dee’ Lestari itu sukses menggemparkan bioskop di seluruh Indonesia sejak tayang 11 Desember 2014 lalu.

Film besutan Rizal Mantovani ini mengisahkan tentang sepasang gay bernama Dimas dan Reuben yang bertemu saat melaksanakan studi di Washington D.C. Mereka menjalin cinta dan menunaikan ikrar bersama dalam sebuah karya sebelum sepuluh tahun kemudian kembali ke negara asal mereka, Indonesia. Ikrar itu terwujud dalam sebuah kisah romansa fiksi ilmiah berjudul Kesatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Di sisi lain kota Jakarta, Ferre, seorang pengusaha muda yang sukses dan tampan, yang kemudian menjalin hubungan asmara dengan seorang wakil editor in chief dari sebuah majalah wanita bernama Rana. Namun, hubungan asmara tersebut “terlarang” karena Rana sudah bersuamikan Arwin, seorang pengusaha dari keluarga terkenal dan terpandang di Jakarta, yang nyaris sempurna menjadi suami bagi Rana.

Kisah indah Ferre dan Rana berlanjut dan semakin dalam. Bagaikan Kesatria dan Puteri di kerajaan cinta, keduanya mabuk dalam cinta yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Ferre dan Rana tidak bisa lepas dari kekacauan cinta terlarang yang terasa benar, dan keteraturan kehidupan pribadi rumah tangga Rana dan Arwin yang baik-baik saja, tetapi terasa salah.

Diva, seorang model yang memiliki profesi sampingan sebagai pelacur kelas atas, tiba-tiba muncul dalam kehidupan Ferre. Dengan segala kekacauan dan keteraturan semesta, dibawah malam penuh bintang dan kelebat bintang jatuh, Diva hadir.Tanpa ada yang bisa mengantisipasi, kehadiran sosok bernama Supernova menjadi kunci penentu yang akhirnya merajut kehidupan nyata antara Ferre, Rana, dan Diva dengan kisah fiksi karya Dimas-Reuben dalam satu dimensi kehidupan yang sama.

Film yang diproduseri oleh Sunil Soraya ini berhasil memikat hati para penontonnya melalui pembawaan cerita yang cukup ‘langka’ dalam perfilman Indonesia saat ini.Film Supernova merupakan salah satu film fantasi yang berhasil menyeimbangkan visualisasi yang ditampilkan dengan alur cerita yang disajikan melalui olahan visual yang watchable dan mampu ‘menghidupkan’ karakter yang digambarkan. Kisah cinta segitiga yang terlihat kompleks ditampilkan dengan alur yang sederhana dan konsisten, serta memiliki penyelesaian yang realistis. Chemistry yang kuat antara Herjunot Ali sebagai Ferre, Raline Syah sebagai Rana, dan Fedi Nuril sebagai Arwin, mampu ‘meledakkan’ hati para penontonnya. Karena 90 persen naskah film ini diadaptasi dari novel, pembaca setia novel Supernova akan lebih mudah dalam menikmati film tersebut.

Lokasi syuting yang diambil di Washington, Jakarta, Bali, Medan, Madura, dan Labuan Bajo itu tidak hanya mengadaptasi kisah roman dan science dari novel pertama Dewi ‘Dee’ Lestari, tetapi juga menyuguhkan pemandangan yang mempesona, masih didominasi dengan latar belakang keindahan alam Indonesia. Nidji yang didapuk kembali menjadi pengisi Original Soundtrack (OST) film produksi Soraya Intercine Films terbaru ini berhasil menghanyutkan penonton ke dalam aliran cerita melalui lagu-lagunya yang memiliki perpaduan antara genre pop dengan scoring yang dramatis.

Namun, dari segi isi cerita, film ini cukup sulit untuk dinikmati. Dialog-dialog yang digunakan memiliki tingkat bahasa yang terlalu tinggi dan banyak kosakata ilmiah baru yang tidak cukup dikenal oleh masyarakat, sehingga menuntut penonton untuk berpikir lebih dalam dan memahami makna dari berbagai kosakata tersebut, terutama bagi penonton awam yang belum pernah membaca novelnya.

Film ini cocok untuk ditonton para remaja dan orang dewasa. Bersiaplah untuk membuka mulut dan pikiran lebar-lebar karena fantasi cerita dan romantisme unik yang ditampilkan. (Citra Anastasia)

Baca Juga

Puasa Tanpa Buka

Oleh: Irfan Sholeh Fauzi Judul               : Tuhan Pun Berpuasa Pengarang       : Emha Ainun Nadjib …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *