> Tajuk > Romantisme Aktivis Ekologis Kampus

Romantisme Aktivis Ekologis Kampus

SAUL ZURATAS, tokoh dalam novel Mario Vargas Llosa, Sang Pengoceh (OAK, 2016), adalah  mahasiswa terjelek sejagat raya. Ia mahasiswa Jurusan Hukum Universitas San Marcos yang kepincut pada Etnologi. Zuratas datang dari kota Lima, Peru, yang punya sungai-sungai lebar, pohon-pohon besar, sampan-sampan ringkih, gubuk-gubuk rapuh yang didirikan di atas tiang-tian pincang. Mirip sekali dengan pedalaman Sumatera atau Borneo.

 

Namun, Lima tetaplah kota urban seperti kota-kota lain di dunia, termasuk Jakarta atau Solo. Tetap tempat segala yang ingar bingar menari-nari. Yang gemilang dan memukau berjingkat-jingkat. Zuratas justru memungkiri bahkan mengkritik kota yang, menurut pemikiran radikal Zuratas, menghancurkan hutan-hutan Peru.

 

Keputusannya untuk menghamba pada keteguhannya menyelami kehidupan suku-suku pedalaman sungguh patut dipisuhi! Dia, pria terjelek sejagat bumi itu, kini justru memilih jadi bagian dari orang-orang Machiguenga – suku pedalaman yang lebih percaya takhayul daripada rasionalitas modern. Keparatnya lagi, Zuratas berhasil jadi hablador – sejenis tukang dongeng – bagi suku Machiguenga. Jadilah ia aktivis ekologi termaharadikal sejagat bumi.

 

Zuratas tak hidup seperti para aktivis lingkungan yang muncul di kampus-kampus. Tanpa komunitas, tanpa juklak, bahkan tanpa ritual teriakan “Lestari!” Ia membenci para Linguis, membenci para Antropolog, mereka itu, menurut Zuratas, “…ibarat ulat yang menggerogot masuk ke dalam buah dan membusukkanya.” Membunuh peradaban hutan dengan cara yang halus dan melenakan.

 

Ia tak pernah merayakan hari mematikan listrik sedunia (Earth Hour), mengganti buku-buku dengan buku elektronik, apalagi ikut Car Free Day, demi membuat buminya lestari. Baginya, merawat bumi cukup dengan mempertahankan kepolosan alam. Menjaga mereka tetap perawan! Katanya, dengan begitu bumi bisa terselamatkan. Kurang termaharadikal apa coba?

 

Hal ini bukan cuma sulit tapi malah hampir tidak mungkin dilakukan. Pasalnya, ada yang selalu siap merangsek dan menggodai keluguan alam. Dialah ilmu pengetahuan. Dia adalah barang halal yang menjelma petaka memesona. Kita lihat, ia menggodai suku-suku di Papua untuk memakai baju dan meninggalkan koteka. Menggoda Orang Rimba berdagang ke pasar dan mengenal duit. Orang-orang tak lagi berlaku khusus terhadap pohon-pohon karena tak ada peri-peri yang harus di takuti. Batu-batu keramat di kali kini telah kehilangan wibawa. Batu-batu itu, bergilir hilang dari kali untuk dijual ke toko material. Ilmu pengetahuan telah mengubah itu.  “Ilmu pengetahuan dan saudara kandungnya, teknologi, adalah penguasa hari ini dan esok” (Goenawan Mohamad, 30 November 1998).

 

Polusi terbesar ilmu pengetahun (harusnya) ada di kampus-kampus perguruan tinggi. Meski pemuda-pemudinya telah tercemari oleh ilmu pengetahuan, nyatanya masih ada yang menamai diri sebagai aktivis lingkungan kampus. Karena walau bagaimanapun, nama akivis lingkungan terdengar jauh lebih suci ketimbang aktivis politik yang hobi bergelut dengan Jokowi dan Mohamad Nasir. Meski pada dasarnya, mereka itu sama-sama suka berteriak, sama-sama hobi mengepalkan tangan dan kecanduan mengutip Widji Thukul.  Tapi tetap saja, aktivis lingkungan itu lebih Malaikat-isme.

 

Ketimbang Zuratas, para aktivis lingkungan di kampus-kampus ini jauh lebih romantis terhadap lingkungan. Eh, maksudnya isu-isu lingkungan.  Silakan lihat bagaimana pohon diperlakukan oleh para aktivis lingkungan di kampus-kampus, bahkan juga oleh pihak kampus sendiri: pohon-pohon dimuliakan, jadi selebrita di media sosial kala ditanam – lebih-lebih jika ada tokoh-tokoh pesohor yang ikut merelakan tangannya untuk berkotor-kotor dengan bibit pohon itu. Kita sebatas tahu begaimana keadaan pohon-pohon itu saat ditanam, tanpa pernah tahu bagaimana kisah hidup pohon-pohon itu selanjutnya. Kadang terheran mengapa mereka tak kunjung tumbuh besar meski acara tanam pohon sudah terjadi sejak bertahun-tahun lalu.

 

Meski begitu, tak ada yang lebih mengukuhkan keberadaan aktivis lingkungan di kampus  selain kasus Kendeng.  Belasan aksi solidaritas untuk Kendeng yang terjadi di pelbagai daerah di Indonesia akhir-akhir ini, pun mau tak mau menghadirkan tanya, “apa iya kita sedang berusaha mempertahankan keperawanan kawasan karst Kendeng?” Dengan cara seperti inikah? Berteriak-teriak, membaca puisi, berlomba mengukir tagar di dunia maya? Ah, Zuratas sang aktivis lingkungan termaharadikal itu pun, aku yakin pasti tak pernah terbesit cara-cara seromantis ini dalam membela lingkungan.

 

Tapi para aktivis lingkungan di kampus-kampus itu, meski berstatus tersangka ilmu pengetahuan, terkadang ketradisionalan masih terpelihara dan secara malu-malu memeluk aktivis-aktivis lingkungan di kampus-kampus itu. Kadang ia bersembunyi. Maka terlalu sering kita mendapatkan “Ibu Bumi” sebagai alasan penentang pembangunan pabrik semen di Kendeng. Kita lebih takut dengan kemarahan sang Ibu.

 

Kegaiban itu. Harusnya tak lagi keluar dari mulut para aktivis-aktivis lingkungan kampus yang tahu bahwa pelangi terbentuk oleh pembiasan cahaya dan air, bukan tercipta sebagai jembatan bakal para bidadari-bidadari langit menyebrang dan mandi. Tahu bahwa gerhana terjadi karena bulan, matahari, dan bumi berada pada satu garis lurus, bukannya dimakan Kala.

 

Maka “Ibu Bumi”, yang tak pernah terlewat dalam orasi para aktivis lingkungan di kampus-kampus itu, harusnya tak sekadar jadi slogan. Melainkan mengilhami bahwa “Ibu bumi adalah perempuan telanjang, karena tanah yang kenyang dengan darah itu tak dapat lagi mendandaninya dengan busana bunga-bunga. Ibu bumi kesepian karena tak bisa lagi musik suara sabit dan gilingan jagung sebab dirinya yang tanah itu telah gersang” (Sindhunata, 1993).

 

Zuratas yang sarjana itu, mau meninggalkan pengetahuan modernnya dan menjadi bagian penting bagi suku Machiguenga. Kalau para aktivis penentang Kendeng, maukah meninggalkan bangku pendidikan formal, hanya bertani, dan jadi bagian alam Kendeng nun di sana?

 

Maka Marx seharusnya mau bangkit dari kubur dan meralat ucapannya,“kesejahteraan itu milik seluruh umat manusia”. Zuratas pasti akan misuh dan berkoar: Kesejahteraan itu seharusnya ya milik seluruh alam. Tabik! [,]

 

Baca Juga

Surat untuk Profesor

                              …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *