> Resensi > Roehana Koeddoes, Perempuan Sumatera Barat

Roehana Koeddoes, Perempuan Sumatera Barat

Roehana Koeddoes

 

Judul               : Roehana Koeddoes, Perempuan Sumatera Barat

Penulis             : Fitriyanti

Genre              : Non-fiksi

Penerbit           : Yayasan Jurnal Perempuan

Tebal               : 125 + xviii halaman

Terbit               : 2001 (cetakan ke-1)

Luar biasa sekali Kotogadang ini, di saat sebagian besar wanita di Eropa masih dalam kegelapan, ternyata Kotogadang sudah memiliki seorang wartawati. Kami memiliki dokumentasi yang lengkap tentang tokoho-tokoh seperti Roehana, apalagi beliau hidup di zaman pemerintahan Belanda di Indonesia tempo dulu. Jangan sampai anda datang jauh-jauh ke negeri kami, hanya untuk mengetahui dokumentasi tentang Roehana Koeddoes.”

(J.H. van Roijen, Duta Besar Belanda untuk Indonesia)

Buku Roehana Koeddoes, Perempuan Sumatera Barat merupakan bagian dari seri perempuan Indonesia yang diterbitkan oleh Yayasan Jurnal Perempuan. Buku ini dipandang layak terbit mengingat minimnya referensi tentang pejuang perempuan di Indonesia, terutama perempuan-perempuan di luar Jawa. Penulisan sejarah Indonesia memang terkesan Jawa-sentris, sangat kentara dengan bias Jawa. Orang-orang luar Jawa yang diabadikan oleh sejarah pun pada umumnya adalah mereka yang merantau dan mengikuti pergerakan di Jawa. Namun mereka yang bergerak di luar Jawa sering terlupakan, termasuk Roehana Koeddoes.

Buku yang tidak terlalu tebal ini dibuka dengan sekapur sirih persembahan dari Gadis Arivia. Bagian tersebut mengisahkan tentang sulitnya perjuangan yang ditempuh kaum perempuan untuk mendapat pengakuan. Sebagai contoh, Arivia mengenalkan Mary Wollstonecraft dari abad 18, Virginia Wolf dari abad 19, dan dari abad terakhir, Simone de Beauvoir. Dua perempuan yang pertama mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena tidak tahan hidup dalam keterisolasian sebagai balasan atas ide-ide progresif mereka tentang perempuan. De Beauvoir sedikit lebih beruntung hanya dicela sebagai perawan tua atau perempuan binal, karena tidak menikah namun hidup bersama teman lama sekaligus kekasihnya, Jean Paul Sartre.

Buku ini dibagi menjadi lima bagian. Bagian pertama mencakup penjelasan tentang konstruksi sosial di Kotogadang. Di sana mayoritas penduduknya adalah kaum perempuan, disebabkan para lelaki lebih banyak yang merantau daripada yang singgah di Kotogadang. Sesuai dengan pepatah Minang yang berbunyi “marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun”, yang mendorong lelaki Minang untuk merantau, karena dengan cara itu kelak mereka bisa berguna bagi masyarakat di daerah asalnya. Adat istiadat masyarakat Kotogadang memakai sistem matriarchaat yang menyematkan keistimewaan pada kaum perempuan. Kepemilikan sawah, ladang dan rumah gadang dipegang oleh para perempuan. Tak pelak hal ini membuat perempuan-perempuan disana merasa dimanjakan. Sedangkan kaum lelaki bersusah payah merantau untuk menghidupi dirinya dan keluarga.

Namun dalam hal pendidikan, kaum lelaki lebih beruntung. Mereka dapat menempuh pendidikan formal, baik di Sumatera maupun di daerah perantauan. Sedangkan kaum perempuan tak bisa merasakan bangku sekolah. Hanya mereka yang ikut merantau ke Jawa saja yang bisa bersekolah, karena saat itu di Sumatera belum ada sekolah yang menerima murid perempuan. Selain itu, masyarakat Kotogadang sendiri tak begitu respect terhadap pendidikan kaum perempuan. Bagi mereka, perempuan hanya perlu belajar memasak, mencuci, menyulam, dan pekerjaan rumah lainnya. Hanya itu saja, sehingga tak perlu bersekolah karena keterampilan-keterampilan tersebut dapat dipelajari dari orangtuanya.

Di bagian kedua buku ini, Fitriyanti mengenalkan kita kepada sosok perempuan yang luar biasa, yang lebih mencintai ilmu pengetahuan dibanding emas dan berlian. 14 Sapar 1303 atau pada tanggal 20 Desember 1884, setitik cahaya terang muncul di Nagari Kotogadang. Disana lahir anak perempuan, yang kelak menjadi salah satu perempuan terbaik yang dimiliki bangsa Indonesia. Anak perempuan tersebut bernama Siti Roehana Koeddoes. Roehana merupakan buah perkawinan Moehammad Rasjad Maharadja Soetan, seorang Hoofd Djaksa dengan Kiam. Roehana adalah putri sulung dari enam bersaudara. Namun secara keseluruhan, Roehana memiliki 25 adik, karena ayah Roehana mempunyai enam istri. Tokoh pergerakan pemuda, Sutan Sjahrir, adalah adik tiri Roehana.

Benih intelektual Roehana sudah terlihat sejak ia masih kecil, Roehana begitu menggemari buku, surat kabar dan majalah. Tak jarang pula Ia membaca buku-buku milik ayahnya. Padahal sebenarnya buku-buku tersebut belum bisa dicerna oleh anak-anak, seperti buku sastra, politik, dan hukum. Dalam usianya yang masih delapan tahun, Roehana sudah pandai menulis abjad Arab dan Latin serta menguasai bahasa Arab, Melayu, dan Belanda. Sejak kecil Roehana juga dididik ilmu agama, sehingga nilai-nilai keislaman sudah tertanam kuat dalam sanubarinya. Kecerdasan Roehana membuatnya begitu dicintai ayahnya dan mendapat julukan “Roehana Anak Ayah”.

Roehana memulai perjuangannya dengan membaca buku keras-keras. Kebiasaan tersebut membuat orang-orang di sekitarnya merasa heran. Jangankan dengan suara keras, sekadar membaca saja sudah aneh bila dilakukan oleh perempuan. Sebagian besar perempuan Kotogadang memang tidak bisa, tepatnya tidak dididik baca tulis. Roehana sendiri justru merasa kemampuan membaca dan menulisnya adalah wajar. Ia beranggapan bahwa setiap manusia harus mengamalkan ayat Al-Quran yang pertama diturunkan, yaitu ‘iqra (baca). Tidak ada diskriminasi dalam perintah Tuhan tersebut, sehingga perempuan juga berhak untuk mengenyam pendidikan.

Selain membuat heran, membaca buku keras-keras memungkinkan orang-orang di sekitarnya kecipratan ilmu dari buku yang Roehana baca. Sejak itulah Roehana memulai kiprahnya sebagai seorang “pengajar”. Banyak teman-teman seusianya yang tertarik mendengar Roehana membaca buku, namun lambat laun mereka tak puas jika hanya mendengarkan saja. Sejak saat itulah Roehana mengajarkan baca tulis kepada teman-temannya tersebut. Kegiatan baca tulis dimulai dengan langkah sederhana, yaitu mengeja nama masing-masing muridnya. Dalam dua hari saja mereka sudah bisa mengeja dan menulis namanya sendiri. Setelah itu murid-murid Roehana bertambah, bahkan mereka yang sudah bersuami juga ikut belajar kepadanya. Roehana pun mendapat julukan “One Roehana” (kakak Roehana).

Bagian ketiga menceritakan tentang perjuangan-perjuangan Roehana Koeddoes. Roehana dinikahi keponakan ayahnya yang bernama Abdoel Koeddoes dengan gelar Pamuncak Sutan. Abdoel Koeddoes adalah sarjana hukum yang bekerja sebagai notaris independen karena tak sudi mengabdi kepada Belanda. Beruntung Roehana memiliki suami yang taak hanya cerdas, namun juga mendukung Roehana memajukan perempuan Kotogadang. Pada 11 Februari 1911 Roehana membangun sekolah Kerajinan Amasi Setia (KAS) yang mengajarkan berbagai hal yang dibutuhkan perempuan, seperti membuat kerajinan, baca tulis, ilmu agama, kepandaian rumah tangga dan pengetahuan umum. Sejarah kemudian mencatat KAS sebagai home industry pertama di Kotogadang.

Sembari mengajar di KAS, Roehana juga rajin menulis. Ia selalu menyediakan dua jam sehari untuk menulis semacam catatan harian. Namun Roehana merasa sia-sia jika tulisannya tidak dipublikasikan. Roehana juga merasa kegiatan mengajarnya di KAS masih kurang, karena hanya di kalangan perempuan Kotogadang saja. Lalu Ia berpikir bagaimana caranya, agar ilmunya bermanfaat bagi banyak orang, tak sekadar perempuan Kotogadang. Surat kabar, itulah yang kemudian terbesit di benaknya. Roehana menyadari, di zaman itu peran surat kabar cukup vital dalam menambah wawasan. Setelah konsultasi dan mendapat restu dari ayah dan suaminya, Roehana mengirim surat kepada Soetan Maharadja, Pimpinan Redaksi Oetoesan Melajoe.

Siapa sangka, surat tersebut direspon dengan baik oleh Soetan Maharadja. Bahkan Ia rela datang jauh-jauh dari Padang untuk menindaklanjuti surat yang dikirimkan Roehana. Awalnya Soetan mengira Roehana ingin menulis di surat kabar Oetoesan Melajoe, namun keinginan Roehana ternyata lain. Ia ingin agar dibuatkan surat kabar khusus perempuan, dan Roehana yang akan menyumbang tulisan-tulisannya. Setelah terjadi kesepakatan, lahirlah surat kabar Soenting Melajoe (Perempuan Melayu), yang dikelola oleh Roehana Koeddoes dibantu Ratna Djoewita, putri dari Soetan Maharadja. Mereka berdua pun menjadi jurnalis perempuan pertama di Indonesia.

Soenting Melajoe terbit pertama kali pada 10 Juli 1912, dengan luas halaman yang sama dengan surat kabar Oetoesan Melajoe. Berisi pemikiran-pemikiran Roehana tentang perempuan, juga terdapat saduran dari buku-buku luar negeri yang diterjemahkan dalam bahasa Melayu. Sebelum tulisannya dimuat, Roehana selalu menunjukkan tulisannya kepada sang suami terlebih dahulu. Selain meminta pendapat, bila perlu Abdoel Koeddoes menjadi editor pertama atas tulisan Roehana. Kemudian tulisan tersebut dikirimkan ke Padang, untuk dikelola Ratna Djoewita yang bertanggungjawab atas penerbitannya. Kendati jauh lebih muda dan segmentasi yang lebih sempit, Soenting Melajoe mampu terbit lebih sering daripada Oetoesan Melajoe. Surat kabar Roehana terbit seminggu sekali, sedangkan Oetoesan Melajoe sendiri terbit setiap tiga minggu.

Bagian keempat mengisahkan berbagai rintangan dan cercaan yang ditujukan pada Roehana atas perjuangannya memajukan perempuan. Roehana dinilai telah mengajak perempuan Kotogadang untuk melawan adat. Ada pula yang mengatakan bahwa yang dilakukan percuma, pada hakikatnya perempuan hanya akan menjadi ibu rumah tangga, tidak usah berbuat macam-macam. Kendati demikian, Roehana mampu bersabar menghadapi segala tuduhan yang ditujukan padanya. Namun ada dua peristiwa yang benar-benar memukul batin Roehana. Pertama, Ia dilengserkan dari kursi pimpinan KAS oleh muridnya sendiri, yang tak akan menjadi cerdas tanpa didikan Roehana. Kedua, Roehana yang sering berkonsultasi dengan pemerintah Belanda justru dianggap memiliki hubungan gelap. Bahkan anak dalam kandungannya pun dituduh sebagai hasil perselingkuhannya dengan petinggi Belanda. Tidak tahan dengan keadaan di Kotogadang, Roehana beserta suami pindah ke Bukittinggi.

Pada bagian kelima buku ini, dipaparkan perjuangan Roehana setelah ia hijrah bersama sang suami. Walaupun bukan di daerah asalnya, Kotogadang yang tercinta, perjuangan tak boleh putus di tengah jalan. Roehana Koeddoes tetaplah Roehana Koeddoes, begitu besar keinginannya untuk memajukan perempuan-perempuan Indonesia. Setelah lepas dari kepengurusan KAS, di Bukittinggi Ia membangun Roehana School. Kurikulum Roehana School tak jauh beda dengan KAS. Jumlah murid yang tak sebanyak KAS memungkinkan Roehana mengelola Roehana School sendirian. Ia pun masih sempat menulis di surat kabar Soenting Melajoe serta menjalani tugas barunya, yaitu sebagai ibu dari Djasma Juni. Bukittinggi yang merupakan pusat pergerakan politik membuat Abdoel Koeddoes lebih leluasa dalam menjalankan pergerakan bawah tanahnya. Roehana pun ikut terlibat dalam pergerakan tersebut, bahkan Ialah yang memprakarsai penyelundupan senjata yang disembunyikan di antara sayuran dan buah-buahan. Dalam kiprah politiknya, Roehana memakai nama samaran “Sabai Nan Aluih”, Ia dijuluki demikian karena bertubuh kecil namun memiliki kemampuan yang luar biasa.

Tahun 1919, Roehana beserta suami pindah ke Lubuk Pakam memenuhi tawaran ayahnya untuk mengajar di sekolah cabang Dharma Putra. Awalnya Roehana yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal diremehkan oleh guru-guru yang lain. Namun anggapan tersebut sirna setelah mengetahui Roehana menguasai berbagai macam bidang ilmu, guru-guru itu pun malu sendiri dibuatnya. Setahun kemudian Roehana pindah ke Medan untuk mengajar sekolah pusat Dharma Putra. Selain mengajar, Ia rajin menulis di surat kabar Perempuan Bergerak. Setelah tiga tahun disana, akhirnya Roehana kembali ke Kotogadang. Disini Ia tak mau lagi terlibat dalam pengelolaan KAS, yan sebenarnya sudah mulai sepi peminat. Roehana masih ingat betapa sakitnya dikhianati oleh murid yang Ia besarkan dengan kasih sayang. Ia lebih memilih mengajar di Vereniging Studiesfonds sembari menjadi Redaktur surat kabar Radio dan Tjahaja Soematra.

Buku ini ditulis dengan cukup baik oleh Fitriyanti. Ketika membaca buku tersebut, sangat kental terasa bahasa jurnalistik yang digunakan oleh penulis. Ia tidak memakai bahasa-bahasa deskriptif yang kaku dan denotatif. Bagaimanapun juga Fitriyanti adalah jurnalis, dan ia menulis buku tentang sosok jurnalis pula. Namun bila boleh menyampaikan kekurangan buku ini, adalah risetnya yang kurang. Bukan Fitriyanti yang salah dalam hal ini, hanya saja memang pemerintah Indonesia kurang menjaga dan menghargai dokumen-dokumen peninggalan sejarah. Bahkan duta besar Belanda pun sampai berkata, “jangan sampai anda datang jauh-jauh ke negeri kami, hanya untuk mengetahui dokumentasi tentang Roehana Koeddoes”. Ironis bukan?

(Udji Kayang)

Baca Juga

Puasa Tanpa Buka

Oleh: Irfan Sholeh Fauzi Judul               : Tuhan Pun Berpuasa Pengarang       : Emha Ainun Nadjib …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *