> Resensi > Banda Neira dan Mitos Album
Gambar diambil dari hugumagita.blogspot.co.id.

Banda Neira dan Mitos Album

Artis                : Banda Neira

Album             : Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti

Tahun             : 2016

Label               : Sorge Records

 

BEBERAPA waktu lalu, ada sebuah artikel kontroversial terbitan Vice Indonesia yang menulis seputar alasan mengapa sebuah band atau grup musik harus bubar setelah mengeluarkan dua hingga tiga album. Tulisan ini tentunya menuai kritik dari berbagai kalangan. Tulisan dituding terlalu subjektif, tak berbasis data dan hanya tampak seperti mitos belaka. Spontan tulisan hanya dianggap angin lalu meski banyak pula yang memercayainya.

 

Namun, tak lama setelah tulisan ini muncul, dunia musik indie di Indonesia mendadak  dikejutkan oleh bubarnya sebuah grup musik –yang  bisa dikatakan mewakili penggambaran musik Indie di Indonesia saat ini, Banda  Neira.

 

Banda Neira yang terdiri dari Rara Sekar (vokal, xylophone, piano) dan Ananda Badudu (gitar, vokal) memberi kejutan pahit pada akhir tahun 2016 lalu, dengan mengeluarkan pernyataan resmi bahwa mereka bersepakat untuk membubarkan diri. Banda Neira bubar hanya dengan meninggalkan dua buah album. Hal ini tentunya membuat beberapa penggemarnya penasaran sekaligus kecewa. Pasalnya, karir bermusik mereka boleh dikatakan sedang meningkat akhir-akhir ini. Lagu-lagunya sering dinyanyikan di pelbagai konser, Pentas Seni (Pensi) bahkan beberapa kafe di Kota Solo rajin memutar lagu-lagu mereka.

 

Sebelumnya, pada sekitar awal 2016 Banda Neira sempat mengeluarkan sebuah album berjudul Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti. Meski tak seheboh album pertamanya, yakni Berjalan Lebih Jauh, namun kemunculan album ini setidaknya melepas dahaga para penggemar mereka, mengingat duo ini sangat jarang naik panggung lantaran kesibukan para personelnya.

 

Album Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti  ini terdiri dari 15 lagu, jika diakumulasikan lagu-lagu dalam album tersebut berdurasi selama satu setengah jam. Namun diantara kelimabelas lagu tersebut, Lagu Tini dan Yanti nampaknya yang paling patut untuk dicurigai. Lirik “Kepergianku buat hari esok yang gemilang…” dalam lagu Tini dan Yanti disebut-sebut sebagai tanda-tanda yang sudah dibuat oleh Banda Neira sebelum kepergian mereka. Namun, meski diberi tanda ataupun tidak, rasanya tak ada yang dapat mencegah kepergian Banda Neira.

 

Banda Neira yang kini “patah” kian dipertegas Ananda Badudu dalam laman pribadinya ia menulis, “Sekarang, siapapun boleh menyebut mereka Banda Neira”. Nampaknya Ananda telah mempersilakan Banda Neira-Banda Neira lain untuk “tumbuh”.

 

 

Apakah akan Tumbuh dan Berganti?

Lagu-lagu yang terbungkus dalam album kedua Banda Neira ini, secara keseluruhan lebih menonjolkan ciri mereka. Irama riang dan mendayu-dayu dengan teknik rekaman yang sudah lebih baik dengan cara live dan semi live. Nama-nama musisi ternama juga hadir dalam album ini seperti Gardika Gigih, Layur, Suta Suma Pangekshi, Jeremia Kimosabe, Dwi Ari Ramlan, dan Leilani Hermiasih (Frau). Lokasi rekaman juga sudah tidak dilakukan di Bandung, mereka mengambil lokasi rekaman di Yogyakarta dan Bali untuk menambah warna musik mereka.

 

Lagu berjudul Sebagai Kawan, dalam album keduanya, mengandung pesan mengenai kelanjutan duo ini. Terutama mengenai bagaimana hubungan mereka dengan para penggemar lama ataupun baru. Dalam lagu ini, mereka menyampaikan bahwa penggemar merupakan kawan, dan tidak ada pemisah antara Banda Neira dengan para penggemarnya.Tak ada sebutan khusus bagi para penggemarnya. Hal ini dibuktikan dengan Banda Neira yang sering memprioritaskan untuk selalu tampil membaur dengan para pendengarnya saat konser.

 

Pelukis Langit, lagu lain dalam album kedua Banda Neira, seakan membuktikan bahwa mereka memang salah satu pencipta lagu dengan Bahasa Indonesia terbaik yang mengacu pada keindahan sastra. Dalam lagu ini terkandung beberapa ciri khas dari musisi-musisi lainnya seperti Silampukau, Dialog Dini Hari, Iwan Fals, dan lainnya. Pelukis langit lari terburu-buru, hingga dia lupa warna kuning dan biru, Pelukis langit lari terburu-buru, hingga yang ada hanya kelabu”. Setiap liriknya dijamin puitis!

 

Tidak jelas memang apa alasan mereka membubarkan diri. Padahal sebelumnya mereka sempat mengatakan jika mereka sekadar hiatus pasca peluncuran album ini. Anda boleh saja menghubungkannya dengan tulisan kontroversial terkait mitos album sebelumnya. Silakan saja! Namun setidaknya apapun alasan mereka untuk pergi dari dunia musik indie Indonesia, nyatanya Banda Neira tak langsung begitu saja pergi. Justru nama Banda Neira semakin terkenal sejak mereka resmi menyatakan bubar. Bahkan sempat jadi trending topic di Twitter. Para pendengar setia pun secara berjamaah mengucapkan terimakasih terhadap Banda Neira atas karya mereka selama ini, entah itu dari penggemar setia atau dari pendengar dadakan.

 

Sekali lagi saya setuju dengan perkataan Ananda Badudu, bahwa siapapun sekarang bisa menjadi Banda Neira. Langkah baik bagi Banda Neira memang, jika dilihat dari antusias penggemar pasca mereka bubar. Meski Banda Neira sudah “patah”, nyatanya ia belum hilang karena masih ada di setiap kafe di Kota Solo, setiap radio, setiap Pensi, bahkan masih ada di tiap-tiap gawai atau laptop anak muda di Indonesia. Jika belum hilang, rasanya Banda Neira belum bisa diganti.[]

 

 


Dimas Alendra

Pernah dianggap aneh saat sekolah karena memiliki selera musik yang nyeleneh dari orang kebanyakan. Masih berharap suatu hari nanti bisa menonton Deafheaven dan Sajama Cut secara langsung. Surel: dimasalendra@gmail.com.

Baca Juga

Membatalkan Kematian

    Oleh : Vera Safitri, Pembaca menyedihkan   Judul buku    : Laut Bercerita Penulis    …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *