> Catatan Kentingan > Rektor Baru: Menuju UNS Berkelas Dunia dalam Kebersamaan

Rektor Baru: Menuju UNS Berkelas Dunia dalam Kebersamaan

Dengan terpilih dan dilantiknya rektor baru, mudah-mudahan dapat memberikan suntikan semangat baru dalam mewujudkan “Menuju UNS Berkelas Dunia dalam Kebersamaan”. Semangat menuju World Class University (WCU) bukan hanya langkah untuk berkompetisi dengan perguruan tinggi yang ada di luar negeri, melainkan juga dapat diarahkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, baik mulai dari taraf lokal, regio nal, maupun internasional.

Tentu saja, mewujudkan “mimpi” universitas berkelas dunia bukanlah suatu hal yang mudah, karena diperlukan perubahan yang mendasar, yaitu perubahan mental dari seluruh civitas akademika, yaitu menciptakan iklim yang kondusif untuk mewujudkan suatu keinginan menjadikan universitasnya menjadi berkelas dunia.

Fitur WCU
Pandangan dunia (world-view) perguruan tinggi yang hendak menjadi WCU semestinya memiliki pandangan dunia yang visioner, progresif, dan futuristik untuk tetap mengikuti dan relevan dengan perkembangan dunia mutakhir. Sekadar contoh, UNS memiliki visi “menjadi pusat pengembangan ilmu, teknologi, dan seni yang unggul di tingkat internasional dengan berlandaskan pada nilai-nilai luhur budaya nasional”, Universiti Kebangsaan Malaysia menganggap dirinya sebagai “the national university with an international reach”, University of Illinois at Urbana-Champaign menyebut dirinya sebagai “world-class university”. Penggambaran semacam ini akan memberikan daya dorong psiko logis bagi segenap civitas akademika untuk bersama-sama menjadi seperti yang digambaran di filosofi atau visinya.

Peluang (opportunity). Kemampuan membaca peluang akan memudahkan sebuah perguruan tinggi menjalin jejaring kerjasama dengan lembaga-lembaga di luar dirinya dalam rangka membesarkan dan memperluas peran akademisnya di masyarakat, baik di bidang inovasi pembelajaran maupun temuan penelitian.

Penelitian. Di hampir seluruh universitas kenamaan di dunia, penelitian menjadi entry-point utama bagi masuknya pundi-pundi keuangan (revenue-generation) yang akan menopang inovasi-inovasi universitas yang bersangkutan, baik di bidang pembelajaran maupun penelitian. Semakin banyak revenue-generation yang dihasilkan melalui penelitian yang berpotensi untuk dipatenkan, maka semakin baik reputasi sebuah universitas.

Hal inilah yang kemudian menjadi basis perguruan tinggi untuk mengembangkan research university-enterpreneur university, yang akhirnya menjadi world-class university. Derek Bok, mantan rektor di Harvard University, menyatakan bahwa hak ro yalti atas hasil-hasil penelitian memberikan dorongan bagi para peneliti dan pengajar sebuah perguruan tinggi untuk tetap produktif. Untuk memantapkan jejak langkah menuju WCU, perlu dilakukan pengembangan dan pemantapan strategi research focus atau bidang-bidang tertentu yang akan dijadikan “penelitian unggulan” dalam bentuk road map baik di tingkat fakultas, progam studi, maupun pusat studi.

Proses pembelajaran (instruction). Seluruh WCU memiliki tradisi pembelajaran yang luas dan variatif. Sebagian besar proses pembelajaran di kampus-kampus kelas dunia masih mensyaratkan pertemuan atau tatap muka intensif antara pengajar dan mahasiswa. Namun, sebagian dari mereka sudah banyak yang memberlakukan modus-modus pembelajaran baru seperti e-learning yang lebih banyak mengandalkan pertemuan virtual pengajar-mahasiswa.

Kekompakan (cohesiveness). Setajam apapun friksi politik di lingkungan universitas, fokus utama tetap membangun kekompa kan tim dalam rangka menghadapi tuntutan dan tantangan dari luar. Pihak pimpinan harus mampu membangun kebersamaan di tengah keragaman kepentingan para stafnya dengan cara, misalnya, me ngonstruksi lembaga-lembaga lain sebagai common competitor (jika bukan sebagai common enemy) bagi peningkatan ki nerja kelembagaan. Dengan cara seperti ini muncul rasa memiliki (sense of belonging) di kalangan seluruh civitas akademika.

Betapa jalan dan langkah UNS menuju WCU masih panjang. Bukan berarti mewujudkan WCU merupakan sesuatu yang tidak mungkin, musykil atau mustahil.  Memang masih banyak hal yang perlu dirumuskan dan dibenahi agar konsep WCU benar-benar menjadi realitas nyata. Tentunya, semua ini menuntut peran serta segenap civitas akademik dan stakeholders UNS untuk merumuskan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi langkah-langkah stra tegis secara terukur, terencana, dan berkelanjutan. Dengan upaya peningkatan kualitas layanan akademik secara simultan, harapan semakin baiknya peringkat sebuah universitas bukanlah mimpi belaka.[]

Oleh: Asep Yudhawirajaya (Dosen Sastra Indonesia, FSSR UNS)

Baca Juga

Ngasal Usul

Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *