> Resensi > Pacaran adalah Dosa Laki-Laki

Pacaran adalah Dosa Laki-Laki

Oleh: Udji Kayang Aditya Supriyanto

 

 

Judul               : Udah Putusin Aja

Penulis            : Felix Y. Siauw

Tahun Rilis     : Cetakan ke-7, Juli 2013

Penerbit         : Mizania

Tebal              : 180 halaman

 

 

“Buku terkeren yang pernah saya baca. Lucu, seru, menyentuh, dan penuh ilmu! Wajib Baca!”

(Oki Setiana Dewi)

 

 

USTADZ sejuta akhwat, Felix Siauw, mengawali bukunya dengan pernyataan yang lumayan serius, “sungguh maksiat pacaran ini sangat mengerikan, khususnya bagi muslimah.” Perhatikan ini, khususnya bagi muslimah! “Karena itulah,” lanjutnya, “kami memberanikan diri mengupas tentang maksiat pacaran di dalam Islam dan bagaimana menghindarinya.” Maka dari itu, Felix Siauw berharap, “buku ini dapat menjadi sebuah kontribusi dakwah di tengah-tengah umat, memberikan penjelasan bagi remaja dengan dalil-dalil Islam, dan berbagi pengalaman-pengalaman dengan kami.” Masya Allah!

 

 

Udah Putusin Aja! sebagai mahakarya Felix Siauw, sejauh ini memang laku keras di kalangan ukhti-ukhti. Rupanya Felix Siauw jadi begitu memesona dan karismatik di kalangan kaum hawa. Tentu saja buku karya mualaf nomor satu di Indonesia tersebut jadi besar pengaruhnya. Sampai-sampai, banyak laki-laki yang harus merasakan derita putus cinta lantaran pacarnya membaca buku best-seller itu. Tentu saja Felix Siauw tak peduli dengan nasib para jomblowan baru tersebut, sebab dalam Udah Putusin Aja! pun tendensinya adalah mengambinghitamkan pihak laki-laki. Wahai ukhti, semua laki-laki itu jahat! Makanya, udah putusin aja!

 

 

Sebetulnya dapat dimaklumi, Felix Siauw ingin melindungi para perempuan dari risiko pacaran, yang baginya sangat sederhana, yakni kehilangan keperawanan. Bahkan di setiap pemakaian kata “kehormatan” yang dikaitkan dengan perempuan, Felix Siauw sebetulnya senantiasa merujuk keperawanan. Memakai logika ini, rasanya agak rancu dengan pemilihan judul Udah Putusin Aja! Kalau telanjur hilang keperawanan gara-gara pacaran, meski sudah putus, kehormatannya juga kadung terenggut bukan? Semoga Felix Siauw tak bermaksud mengeksploitasi kegelisahan perempuan-perempuan baru putus itu. Pasti tidak. Malahan, dia jadi pahlawan bagi kaum perempuan.

 

 

Konsekuensi logis yang harus diterima Felix Siauw memang dibenci laki-laki, dan tampaknya ini bukan masalah, mengingat ia bukan gay. Dalam bukunya, sering sekali Felix Siauw membejatkan laki-laki. Misalnya, di halaman 36, “Saat kehormatan sudah direnggut, wanita kalang kabut. / Sementara lelaki tinggal kabur, lalu mencari korban yang lain.” Masih di halaman yang sama, Felix Siauw menulis, “Bagi lelaki yang sudah mendapatkan keinginannya, hilanglah daya pikat seorang wanita.” Berbagai pernyataan tersebut tak diklarifikasi sebagai kecenderungan, malah dibiarkan jadi generalisasi. Apa biar semua perempuan berpikir demikian? Afwan.

 

 

Felix Siauw secara ekstrem lantas menyimpulkan pacaran ujung-ujungnya seks. Jahatnya, laki-laki selalu dianggap pihak yang berinisiatif dan penjerumus, yang habis nakal lantas putus. Mari berpikir sejenak dengan cara pandang yang lain, biar adil. Coba perhatikan, lazimnya perempuan yang sedang kasmaran cenderung mencari cara agar bisa “menyentuh” laki-laki yang disukai, jawil-jawil gemes begitu. Tentu pihak lelaki akan menganggapnya sebagai tanda permisif. Bila pihak lelaki menanggapi, dan yang perempuan juga asyik saja, sentuhan-sentuhan yang terjadi bakal lebih intim. Sampai muncul gagasan berhubungan seks, pihak perempuan lazim meminta lelakinya untuk “berjanji.” Soal ini, Felix Siauw abai. Ia menganggap semua lelaki adalah pengumbar janji, tanpa terpikir bahwa pihak perempuan sendiri memang haus janji. Tapi ya sudah, lelaki memang selalu salah.

 

 

Seturut Jacques Lacan, setiap manusia memiliki hasrat yang senantiasa menuntut jouissance (penikmatan). Lacan mengatakan bahwa objek penikmatan itu tak selalu hal muluk-muluk semisal uang, makanan, perhiasan, bribikan atau apalah. Bahkan, jauh lebih sederhana lagi, objek mutlak dari jouissance adalah bahasa. Bayangkan, bukannya memastikan keamanan melalui alat kontrasepsi, si perempuan malah cuma meminta “bahasa” dari lelakinya. “Kalau ada apa-apa, kamu tanggung jawab ya sayang?” Begitu lelaki menjawab “iya”, ya sudah, lakukan! Janji-janji, sebagai “bahasa” yang ditagih perempuan dari lelaki, selalu dijadikan senjata yang membunuh kedua belah pihak. Ini lebih adil ketimbang menumpahkan segala kebejatan pada lelaki semata.

 

 

Terlepas dari nalar Felix Siauw yang lumayan membingungkan, rupanya ia agak demokratis, sekalipun banal. Ia menulis, “boleh kau anggap nasihat kami fiksi, sampai suatu saat jadi bagimu faksi.” Inilah salah satu bagian terpenting dalam Udah Putusin Aja! Ternyata dalam buku itu ada yang “boleh”, tidak melulu “haram”. Jadi, pembaca yang budiman boleh saja menganggap peringatan Felix Siauw sebagai fiksi. Tapi awas saja, nanti bakal jadi faksi lho! Apa itu faksi? Udah iyain aja![]

(Baca juga Islamisasi atau Deislamisasi Pacaran?)


Udji KayangUdji Kayang Aditya Supriyanto. Esais bujang, berdomisili di @udjias dan adiksikopi.blogspot.com.

Baca Juga

Puasa Tanpa Buka

Oleh: Irfan Sholeh Fauzi Judul               : Tuhan Pun Berpuasa Pengarang       : Emha Ainun Nadjib …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *