> Resensi > Orbit Baru dari Stars and Rabbit

Orbit Baru dari Stars and Rabbit

Oleh: Inang Jalaludin SH

Artis                : Stars & Rabbit

Album             : Constellation

Tanggal Rilis  : May 15, 2015

Label               : Green Island Music

Genre              : Pop, Folk

TANGGAL 23 Mei hingga 14 Juni 2015 silam bisa dibilang menjadi capaian yang cukup dahsyat bagi grup musik bernama Stars and Rabbit. Pasalnya, duo independen asal Yogyakarta ini menggelar tur Asia mereka. Mulai dari Malang, Bali, Shenzhen, Hong Kong, Guangzhou, Manila, dan berakhir di Jakarta hanya untuk promosi sebuah album perdana. Parahnya, tur ini dilakukan hanya seminggu setelah mereka merilis album yang bertajuk Constellation.

Stars and Rabbit sebenarnya tak bisa dibilang anak baru meskipun Constellation baru album pertama. Latar belakang tiap personil yang matang menghasikan musik yang rapi di setiap lagu dengan musikalitas yang tinggi. Untuk mengerucutkan genre pun susah. Kadang mereka terdengar bluesy, kadang juga folk tapi ada rasa pop. Pelafalan lirik berbahasa Inggris oleh sang vokalis, Elda Suryani, juga sangat memikiat. Elda, merupakan mantan vokalis band rock Evo yang memiliki suara childish dengan sedikit serak. Sangat ikonik.

Posisi gitar dipegang oleh Adi Widodo. Adi adalah pengejawantahan bunyi dari Elda yang mengaku tidak bisa memainkan instrumen. Bisa dibilang permainan gitar Adi sangat sederhana, tapi benar-benar maut. Boleh diduga kalau proses penulisan lagu dibuat dengan lirik terlebih dahulu baru diiringi oleh gitar. Hal ini terlihat di hampir setiap lagu. Suara gitar Adi seperti melodi vokal, baik di bagian chorus maupun verse. Dampaknya cukup signifikan. Musik mereka terlihat ramai. Selain itu, pada penampilan live, Adi juga bertugas untuk menjejak pedal bass drum.

Sebelas lagu Stars and Rabbit tak ubahnya sebuah kanvas penuh warna. Susah mengatakan ada warna merah atau biru karena pendengar mendengar, bukan melihat. Tapi itu barangkali yang terjadi ketika mendengar lagu mereka yang fanciful, manis, dan imajinatif. Duo lainnya seperti Endah and Reza barangkali bisa didefinisikan begitu. Bedanya, Stars and Rabbit tidak terdengar skillfull seperti Endah and Rhesa. Tapi lempeng saja, natural. Segi genre juga membuat Stars and Rabbit lebih berwarna. Kecuali pada live performance karena Endah and Rhesa bisa menjadi (si)apa saja.

Pada warna pertama, Like it here mengalun pelan sebagai lagu pembuka album. Suasananya murung, pengharapan sang pujaan untuk tetap tinggal. “Can I be yours for a day? A day… a day… a day…yang diulang-ulang benar-benar membuat galau. Elda sebagai peminta terbilang sukses. Kelihatan sekali mereka memakai format full band atau malah bantuan sedikit orchestra.

Lagu berikutnya adalah The House. Diawali dengan petikan gitar Adi yang terengar serius, Elda masuk dengan setengah berteriak, masih dengan nuansa sendu. Liriknya bercerita tentang perasaan rumah, fisik dan abstrak. Sepertinya duo ini memiliki konsep permainan dengan menaruh lirik di awal lagu. Kemudian sisanya yang sekitar satu menit dibiarkan hanyut mengikuti arus yang powerfull. Beberapa lagu seperti Worth It, I’ll Go Along, Summerfall, dan Like It Here juga terdengar begitu. Pada penampilan live mereka, terlihat jelas bagian ini sangat aransemen-able untuk bereksperimen.

Nomor-nomor seperti Worth it atau Rabbit Run berpeluang menjadi hits album. Worth it adalah single andalan duo ini dari awal karir mereka yang terbentuk di tahun 2011 silam. Dengan pengucapan bahasa Inggris seperti anak kecil, lagu ini begitu menarik Simak saja lirik “… are you coming baby eyes it takes two to do ocean.” Terdengar seperti menggerutu. Rabbit Run juga memiliki kekuatan dalam hal keunikan musik dan cara bernyanyi. Lagu ini mirip lagu anak atau cocok untuk backsong film Petualangan Serina atau yang berbau petualangan lainnya.

Pada live performance, Stars and Rabbit biasa bermain duo bersama seorang keyboardis, pernah pula tampil sebagai fullband. Seperti musisi indie lainnya, penampilan live justru yang paling istimewa. Musik mereka terdengar lebih berisik, warna-warni. Mungkin bisa ambil contoh The White Stripes yang minimalis tapi bisa terdengar sangat ramai. Selain itu, tak jarang menemui Elda di atas panggung sedang nge-fly yang sebenarnya adalah sihir bagi penonton untuk ikut menggila.

Sebelas lagu Stars and Rabbit menjadi kian spesial karena proses mastering mereka dikerjakan oleh John Davis dari London – music engineer untuk band-band seperti Led Zeppelin, Blur hingga Lana Del Rey. Tentu ini merupakan kebanggaan tersendiri untuk musik Indonesia atau musik indie khususnya. Pencapaian yang luar biasa untuk sebuah album perdana.[]

(Foto dilansir dari: starsandrabbit.com)


Inang JalaludinInang Jalaludin SH. Sedang berusaha “menjadi” mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Gemar menyanyi, menari, menggambar, menonton film/konser/pameran, membaca, dan menulis (kadang-kadang). Ingin menjadi wartawan di Rolling Stones. Surel: ijalaludinsh@gmail.com.

Baca Juga

Membatalkan Kematian

    Oleh : Vera Safitri, Pembaca menyedihkan   Judul buku    : Laut Bercerita Penulis    …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *