> Catatan Kentingan > Nasib Warisan Potret Masa Kini: Mati Segan Hidup tak Mampu

Nasib Warisan Potret Masa Kini: Mati Segan Hidup tak Mampu

Kebudayaan terbentuk sebagai hasil sintesa dan pengalaman masa lalu. Sebagaimana kebudayaan Indonesia yang telah “direkam” dalam naskah-naskah tua yang sangat beragam sebagai bukti bahwa Indonesia purba memiliki budaya tulis. Hingga kini nasibnya ditarik ulur di antara kenyataan dan ketidakpedulian.

Tidak hanya yang ditinggal  mati yang menerima warisan. Indonesia, negara kepulauan dengan penghuni 200 juta jiwa ini juga banyak menerima warisan. Mulai dari yang kondang hingga yang jarang dipandang. Siapa yang tak kenal batik? Salah warisan yang mendunia. Siapa pula yang tak kenal arca? Artefak arkeologis yang setidaknya cukup mendapat perhatian. Namun, adakah yang mengenal naskah nusantara? Salah satu sumber informasi berupa tulisan yang di dalamnya terkandung berbagai informasi dalam bentuk kode-kode tulisan yang dapat ditrasformasikan dalam bahasa.

Kekayaan budaya tulis di nusantara sudah tidak terbantahkan lagi. Naskah lahir pada masa transisi antara tradisi lisan dan tradisi cetak masyarakat nusantara. Beberapa di antaranya tersimpan di Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Jakarta, sebuah lembaga pe nyimpanan naskah sekaligus museum. Warisan budaya seperti naskah nusantara seyogyanya diselamatkan keberadaan serta kandungan isinya, sehingga nantinya kita tidak kehilangan identitas budaya sendiri. Sekarang ini, nasib naskah-naskah nusantara cukup terabaikan dan berangsur rusak, terlebih lagi yang tersimpan di tangan masyarakat. Tingkat kesadaran masyarakat akan nilai pentingnya benda cagar alam budaya tersebut masih rendah. Tidak tumbuhnya kesadaran serta perkembangan revolusi industri dan teknologi me-ngakibatkan jejak sejarah dan budaya masyarakat praindustri dikesampingkan. Sejak itulah kemusnahan naskah dimulai.

Konteks naskah di sini berarti segala bentuk karya lama yang ditulis tangan (manuscript atau handschriften) bukan naskah cetak. Naskah lama merupakan dokumen budaya suatu bangsa atau kelompok sosial yang berisi pikiran, perasaan, serta pengetahuan. Tidak hanya itu, naskah juga merupakan unsur budaya yang erat kaitannya de-ngan kehidupan sosial masyarakat. Belajar dari kearifan lokal masa lalu, orang dahulu menggunakan naskah sebagai petunjuk kehidup-an. Mulai dari adat istiadat dan tata krama, hukum, aktivitas sosial, ekonomi, politik, agama, hingga primbon. Bahkan ada pula naskah tentang takwil gempa.

Di jaman yang dikata “edan” ini banyak aktivitas yang ternyata terkandungan dalam naskah beberapa waktu silam. Tata karma tentang ketabuan sikap duduk perempuan yang selalu rapat, jawabannya ada pada era ini. Pun misteri rambut gimbal rakyat Dieng yang sekarang menjadi tren “gimbalisme” anak-anak rasta. Siapa sangka pula primbon awalnya tertulis dalam sebuah naskah, hingga kini tanpa tedeng aling-aling muncul di layar kaca “ketik reg (spasi) primbon kirim ke sekian-sekian”. Hal kecil semacam itu dapat menjadi sebuah perhatian bahwa masa ini mengekor pada zaman di mana naskah masih difungsikan. Benar jika konon sejarah tidak pernah mati. Entah sadar atau tidak, seringkali siklus kehidupan perputar dan berulang-ulang.

Jepang dan China adalah contoh bangsa yang mampu memperta-hankan warisan budayanya hingga sekarang karakter budaya mereka begitu kuat, khususnya budaya tulis mereka. Lantas bagaimana de-ngan Indonesia?

Tak perlu jauh-jauh menengok bagaimana kabar naskah nusantara yang ada di Leiden Belanda, tengok saja naskah yang ada di sekitar kita. Misalnya Keraton Mangkunegaran Surakarta. Hanya sekian naskah yang 100 % sehat dan selebihnya memprihatinkan. Melihat nasib naskah di nusantara yang demikian mengkhawatirkan,  Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Mannasa) mendukung program restorasi dan digitalisasi naskah. Program tersebut merupakan salah satu cara untuk menyelamatkan naskah-naskah nusantara, sehingga tidak ada lagi heboh jual beli naskah ke luar negeri. Jika melihat tren internasio-nal saat ini, penyelamatan dan pengenalan naskah lama sebenarnya sudah menjadi kesadaran bersama masyarakat dunia terutama melalui teknologi digital yang berkembang demikian pesat.  Meskipun pada suatu saat nanti keadaan fisik naskah-naskah nusantara itu secara alami akan musnah entah karena cuaca, gigitan serangga atau tingkat ketajaman tinta, setidaknya teks-teks yang terkadung dalamnya akan tetap dapat diwariskan dari generasi ke generasi.

Memang hanyalah sebuah kumpulan kertas yang lapuk lagi usang, tetapi warisan ini menjadi salah satu bukti adanya kehidupan Indonesia purba yang telah mengenal tulisan. Jangan melihat kasarnya kulit manggis atau tajamnya kulit durian. Rasakan kekayaan isi yang nantinya berguna untuk kemajuan bersama.[]

Oleh: Esti Dwi Rahmawati, Mahasiswa Sastra Indonesia FSSR UNS

Baca Juga

Ngasal Usul

Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *