> Ruang Sastra > Cerpen > Musim Dingin di Melbourne

Musim Dingin di Melbourne

SUDAH SEPEKAN Marine Band kunci C ini aku mainkan; Dan aku masih belum bisa juga mendapatkan F dari lubang nomor dua ataupun A dari lubang ketiga. Sarah bilang aku bukan pemain harmonika yang baik. Lidahku bukan lidah pemain harmonika, namun lidah peminum alkohol. Katanya, aku adalah lelaki yang tidak memiliki indera pengecap untuk rasa pahit, namun diam-diam mabuk.

 

Kukira, Melbourne, ketika kulihat pada peta dunia, tidak begitu jauh dengan kampung halamanku. Sepertinya aku lupa melihat skalanya. Meski dia berada lebih dekat dengan khatulistiwa daripada kutub selatan, dingin pertengahan tahun ini benar-benar menyiksaku. Aku alergi akan dingin. Hari-hari pertamaku kuhabiskan meringkuk di bawah selimut sambil menonton acara televisi berbahasa Inggris dengan aksen yang aneh. Sesekali beranjak, pun untuk sekadar menyalakan rokok atau mengambil makanan. Atau jika dipaksa oleh Sarah.

 

“Apa kau harus menunggu musim semi untuk mau bergerak?” Tanya Sarah yang seketika datang membawa barang belanjaan yang terlihat terlalu banyak.

**

Sarah hanya tujuh tahun lebih tua dariku. Rambutnya kuning seperti rambut jagung, matanya biru, dan hidungnya panjang. Jika saja dia bukan Sarah, orang yang itu, aku bisa saja jatuh cinta kepadanya. Atau setidaknya aku ingin memilikinya untuk waktu yang tidak selamanya. Sebagai bahan cerita ke anak-anakku bahwa sebelum bertemu Ibunya, ayah kalian ini pernah berhubungan dengan seorang Kaukasoid.

 

Perempuan Kaukasoid muda memang terlihat menarik bagi para lelaki berkulit coklat yang jarang melihat perempuan berkulit putih –apalagi yang rajin mencukur rambut kemaluannya hingga habis, bersih. Bahkan mungkin sebaliknya, terlalu banyak lelaki berkulit putih di Australia bagi para perempuan itu.

 

Jika kuhitung mundur, melalui analisa sederhanaku, mungkin waktu itu Sarah bertemu dengan ayahku pada usia 23, bahkan mungkin saat dia seumuranku sekarang. Sedangkan ayahku sedang berusia 43 tahun atau lebih muda. Mungkin pertemuan mereka terjadi saat Jess, adik perempuanku, masih belum mengalami menstruasi pertamanya. Saat aku masih menjadi objek bagi kakak-kakak kelas yang suka merisak, dan saat ibu sedang dalam puncak kepercayaannya terhadap hubungan cintanya dengan si suami.

 

Aku tidak begitu yakin atas apa yang telah mereka lakukan. Apakah mereka saling mencintai? Apakah mereka sudah berhubungan badan? –aku cukup yakin untuk menjawab ‘Iya’ atas pertanyaan ini. Dan apakah mereka telah, semacam berkomitmen?

**

“Lalu apa yang kau inginkan sekarang?” Tanya Sarah kepadaku yang masih berada di bawah selimut. “Sepertinya aku butuh, apa itu, Cetirizine?” jawabku. “Hey, kau hanya perlu meminum satu pil saja per hari”

 

Aku menyesalkan jawaban itu. Dia baru memberitahuku sekarang saat aku telah mengkonsumsi 20 pil dalam 10 hari. Kuharap itu tidak terlalu buruk.

 

“Atau berikan aku semacam lotion saja” Jawabku. Sesaat sebelum aku menyadari bahwa aku membenci kulit yang lengket, “Oh sepertinya itu ide yang buruk” terusku.

 

“Aku kira, kau hanya butuh untuk berkeringat. Cobalah bergerak” Dia menghampiriku, seperti dia akan menarikku untuk bangkit. “Equator boy, ini hanya empat derajat” Ucapnya, seraya menarik tanganku untuk bangkit. Sebuah ungkapan aneh baru saja kudengar: Anak khatulistiwa. Entah ini wajar, atau hanya dia saja yang menggunakan ungkapan itu, atau bahkan dia penemu ungkapan itu. “Mari kita mencari bir” Ajaknya. Dan aku cukup bersemangat untuk ini.

 

“Aku ingin membawa Marine Band-ku” Kataku. Dia hanya tersenyum, mengangguk. Apakah senyuman itu berarti “Terima kasih telah mencintai barang pemberianku” Sarah?

 

Kami berjalan menyusuri Swanston. Aku memainkan harmonikaku; Masih berusaha mendapatkan F dari lubang nomor dua dan A dari lubang ketiga. Aku mungkin belum akan beranjak ke nada-nada yang harus kudapatkan dengan bending sebelum dua tadi berhasil kudapat.

 

“RMIT gallery” serunya sambil menunjuk ke sebuah gedung di seberang jalan. Gedung yang tidak begitu mencolok.

 

“Lalu?” tanyaku, acuh. “Bukankah itu cita-citamu?” Timpalnya. “Ya. Lalu dimana birnya?”

 

Kemudian kami melanjutkan langkah ke arah selatan. Hingga sampailah kita di depan sebuah gedung yang terlihat cukup megah. Seperti istana. Namun juga seperti tempat wisata.

 

“Perpustakaan Victoria” serunya lagi. “Apakah perpustakaan di sini menjual bir?” Tanyaku sinis. “Duduklah” Dia mengajakku duduk di area rerumputan. “Aku akan menceritakan sesuatu kepadamu” lanjutnya.

**

Ibu adalah perempuan yang sangat sabar. Dia istri yang penurut. Bahkan terlalu penurut. Mungkin baginya, menuruti suami adalah pencapaian tertinggi bagi seorang istri.

 

Bahkan saat ibu mengetahui perihal perempuan bernama Sarah. Dia tak lantas memecahkan piring-piring di dapur, membanting pintu kamar, dan membuat berantakkan peralatan make-up –yang kalau pun ditumpahkan ke lantai, tidak terlihat begitu berantakkan karena miliknya tak seberapa.

 

Aku tak tahu pasti bagaimana perasaannya. Tapi apakah dia merasa bahwa itu -kejadian yang seperti perselingkuhan itu- adalah salahnya?

 

Dan aku masih saja heran bagaimana dia meninggal setelah serangan jantung. Hal yang masih belum bisa aku pahami; Terjadi pada perempuan lemah lembut sepertinya. Apakah selama ini ia memendam segala protesnya, segala pemberontakannya, dan segala marahnya? Hingga semua energi jahat itu terakumulasi pada hari kematiannya?

**

 

 

“Sebelumnya aku akan bertanya kepadamu, Kevin. Seberapa kau tahu tentang aku?” Tanyanya. “Aku tak begitu tahu siapa itu Nona Sarah Brown. Sosok perempuan itu hanya membuat wibawa seorang Adam menurun di mata anak-anaknya”.

 

“Aku sangat meminta maaf telah merusak rumah tangga kalian” dia menundukkan kepalanya. “Well, keluarga kami baik-baik saja. Ayah dan ibuku tak lantas bercerai. Hingga ibuku meninggal dunia”.

 

“Aku turut merduka mendengarnya. Tapi kau harus tahu satu hal Kevin” dia mengangkat kepalanya. Memandangku tajam. “Aku benar-benar mencintai Adam” akunya. “Adam bukan lelaki yang kaya” jawabku. “Tapi dia bisa begitu menghargai perempuan”

 

Apa yang ia maksud dengan menghargai perempuan? Berselingkuh?

 

“Aku sangat yakin bahwa dia sampai sekarang masih mencintai ibumu. Aku yakin dia tidak akan menikah lagi” Matanya mulai melunak, tak setajam tadi. “Lalu hubunganmu dengannya?” tanyaku penasaran.

 

“Kami bertemu di perpustakaan. Kami berbincang tentang banyak hal..”

 

“Singkatnya?”

 

“Kau harus mendengar seluruh ceritanya.. Tapi, Baiklah. Adam ingin bisa terus berkembang bersama perempuan yang mampu mendebatnya, yang mau menuntutnya. Perempuan yang tidak selalu menuruti setiap perkataannya. Dan dia mengharap perempuan itu adalah ibumu”

 

“Lantas, mengapa dia memilihmu? Mengapa dia tak berkata langsung saja kepada ibuku”

 

“Ayahmu tahu pilihan ibumu.”

 

Kemudian kami diam sejenak. Kami membiarkan burung-burung dara berterbangan di hadapan kami. Anak-anak berlarian, bermain bersama ayah ibunya. Angin berhembus, terasa semakin dingin, mungkin ini tiga derajat atau dua derajat, atau bahkan satu derajat.

 

“Kau bercinta dengan ayahku?”

 

“Mungkin ini terdengar buruk. Untukmu, untuk keluargamu, masyarakat, dan.. Tapi ya!” Jawabnya. “Tapi Kevin, kuharap kau mengerti. Aku bisa menjadi ibumu di sini. Biarkan aku menebus dosa-dosaku” perempuan itu memohon, hampir menangis.

 

“Semua penjelasanmu sungguh tak masuk akal. Seperti mengapa harmonika diatonik hanya membuat 10 lubang untuk 42 nada? Mengapa mereka tidak membuat 21 lubang saja sehingga aku tak kesusahan. Mengapa kau tak juga membeli bir saat belanja tadi? Mengapa harus kembali ke apartemen hanya untuk mengajakku membeli bir. Dan dimana sekarang birnya? Kau hanya ingin mengajakku ke perpustakaan? Ke sebuah tempat kau bertemu ayahku? Lalu mengapa ketika ayahku mencintai ibuku, dia bisa bercinta dengamu?” Aku benar-benar bingung. Semua benar-benar tak masuk akal.

 

“Beri aku gin atau vodka. Aku mau muntah tanpa merasakan pahit” pintaku.

 

“Jangan seperti itu. Kau adalah pemain harmonika yang baik, sayang” Sarah menangis. Anak-anak yang tadi berlarian berhenti, mendekati ibunya, dan kemudian seperti bertanya “Mengapa perempuan itu menangis?” kepada ibunya yang sedang memeluknya. Lalu ibunya seperti menenagkan anaknya bahwa “Dia tidak apa-apa, tidak ada perempuan yang disakiti. Mereka hanya mengenang masa lalu” dan si anak masih terlihat seperti kebingungan, “Apa yang masa lalu bisa perbuat sehingga perempuan meneteskan air matanya?”

**

Ayah menyuruhku untuk belajar di Australia. Dia menitipkan anaknya kepada semacam selingkuhannya dulu. Perempuan itu benar-benar tidak terlihat seperti ibu. Dia terlihat seperti seorang intelektual dengan gangguan mental. Mungkin aku akan kuliah di Jogja saja. Di Jogja juga ada penjual bir.[]

 

Bersambung…

 

 

 

Adhy Nugroho

Mahasiswa Pendidikan B. Inggris UNS 2016. Surel : dhynug@gmail.com

 

Baca Juga

Musim Semi di Melbourne

Oleh: Adhy Nugroho   AKU MEMEGANG LOLIPOP dengan tangan kiriku, di sampingku ada Ibu, saat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *