> Lha Nggih > Mukadimah

Mukadimah

Oleh: Udji Kayang Aditya Supriyanto

MUKADIMAH apa yang tepat digunakan menyambut pergantian nama laman berita LPM Kentingan? Sekadar informasi, mulai 1 September 2016, kita tidak usah mengetik lpmkentingan.com dengan huruf konsonan bertumpuk-tumpuk, jika hendak menengok berita-berita terbaru di kampus yang singkatannya aneh ini. Rasanya setiap kita setuju kalau laman berita lawas itu namanya kurang menarik, ora mbois. Maka dari itu, redaksi sepertinya coba berbaik hati, menggantinya jadi saluransebelas.com. Sebelas ya, bukan sebelah, apalagi sebel, ah!

Di televisi kita, saluran nomor sebelas bisa merujuk apa saja. Bisa ke Gombal TV, Indosirah, TV Anu, Kempes TV, atau yang lain, tergantung pada pengaturan televisinya. Namun, percayalah, di internet saluran sebelas dapat dipastikan merujuk laman berita yang dikelola LPM Kentingan. Konon, dulunya Saluran Sebelas adalah nama edaran berita kebanggan kampus Orde Baru ini. Sewaktu kampus sudah tidak terlalu bangga, diberedellah edaran itu. Di usia internet yang sudah 25 tahun ini (wayahe rabi), Saluran Sebelas dibangkitkan kembali sebagai laman berita daring.

Tunggu, kita sudah melantur ke sana-sini, padahal mukadimahnya belum ketemu. Kalau di mimbar-mimbar, kecuali Mimbar Mahasiswa, mukadimah haruslah berbahasa Arab, hukumnya fardhuain. Setelah assalamu’alaikum dan seterusnya, dilanjut dengan bacaan hamdalah, shalawat, serta ayat suci.

Di forum-forum aktivis mahasiswa (mereka sering pakai sebutan ampuh: kajian, diskusi, atau rapat), mukadimah yang dipilih relatif pendeks, “saya masuk!” Kata “masuk” nekat dipakai sekalipun pengujar sudah berada (dan menyadari dirinya) di dalam forum. “Masuk” ibarat menggantikan salam, yang lalu disusul dengan kata-kata meyakinkan, “saya pikir….” Ampun, pemikir!

Salah seorang dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, yang singkatannya tetap FISIP (bukan FISP), punya kata pertama andalan. Dosen termaksud sepertinya kesulitan mengucapkan sesuatu tanpa lebih dulu diawali dengan “saya kira.” Saya kira, Rangga di film Ada Apa dengan Cinta? 2 (2016) terinspirasi dari beliau.

Memilih kata pertama untuk mukadimah bukan perkara sepele. Penyusunan teks Undang-Undang Dasar 1945 juga membutuhkan kemujaraban “kata pertama” sebagai pembuka. Kita tahu, kalimat pertama Pembukaan UUD ’45 sebetulnya bisa dibahasakan dengan cukup sederhana: kemerdekaan adalah hak segala bangsa sehingga tak boleh ada penjajahan karena tidaklah sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Toh, para penyusun teks Pembukaan UUD ’45 tetap membutuhkan kata pembuka “bahwa” yang disusul dengan “sesungguhnya”. Bahwa sesungguhnya, mukadimah, terutama kata yang paling pertama itu penting saudara-saudara!

Setiap kita pasti punya kata pembuka andalan masing-masing, mengaku sajalah, tak usah malu-malu anjing. Eh, anjing sudah masuk kamus pisuhan ya? Astaghfirullah, maaf. Tapi begini ya, Saluran Sebelas kita bikin lain dari yang lain saja, liyan-nya liyan. Wah, filosofis banget! Kita tidak akan mengawali kiprah Saluran Sebelas dengan kata pembuka, melainkan sebaliknya: kata penutup. “Lha nggih” ialah kata terpilih itu, yang juga menjelma rubrik baru di laman kita. Lha nggih adalah afirmasi kudus, kalau kamu-kamu baca Nietzsche pasti tahu. Kalau tidak tahu, ya tempe.

Dari mana datangnya Lha nggih? Seorang kawan punya pengalaman mengobrol dengan pedagang angkringan. Dari obrolan itu, akhirnya kawan kita mengetahui bahwa pedagang tersebut bukan orang Solo asli. Ia lantas bertanya, “kok panjenengan jualan di Solo, Pak?” Pedagang angkringan dengan enteng menjawab, “lha nggih.” Pertanyaan itu berakhir dengan jawaban yang sebetulnya “iya”, afirmatif, tapi membiarkan banyak hal mengambang dan kita mesti “mencari.” Pembaca Saluran Sebelas dapat belajar dari obrolan angkringan itu. Setiap berita mengandung “iya” dan hal-hal tak terselesaikan. Lha nggih. []


Udji KayangUdji Kayang Aditya Suptiyanto. Esais bujang, berdomisili di @udjias dan adiksikopi.blogspot.com.

Baca Juga

Dari Anak Bidik Misi: Kita Tahu Rasanya Digantungin

Oleh: Satya Adhi   SI DAB yang sudah kurus kering, kempot pipi, rambut menipis, akhirnya …

Satu komentar

  1. saluransebelasa.com luar biasa…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *