> Ruang Sastra > Puisi > Menjaga Nama Baik
Ilustrasi oleh : Ari Arini./LPM Kentingan

Menjaga Nama Baik

Berita Palsu

Pagar-pagar rumah semakin tinggi. Menjadi pembatas antara diri sendiri dengan dunia luar yang tak pernah bisa terkendali. Namun mengenali dan mengendalikan orang lain bisa dilakukan melalui pesan-pesan instan dan berantai. Tanpa sua, jumpa, dan tanpa suara.

 

Berita-berita semakin beringas. Doa dirapal untuk meredam. Berendamlah dalam kubangan kata-kata.

 

Katamu aku harus membaca koran setiap pagi. Kau mengatakan hal-hal yang begitu menggangu; berita-berita bisa dipesan, pesanlah hari kematianmu!

 

Apakah aku bisa memesan tiket menuju kebenaran dan dijamin keberadaanku? Beritahu aku jika masih ada. Jaminan harga diri yang tak pernah dimiliki orang lain; kebohongan.

 

Berita-berita diperbarui setiap waktu. Berjalan cepat. Tetapi tak ada jaminan asli atau palsu. Kepalsuan-kepalsuan semakin merajalela. Merajam kebenaran dengan dunia kerja yang tak pernah bisa di percaya.

 

 

 

Menjaga Nama Baik

Orang-orang selalu menyembunyikan nama baiknya pada tumpukan baju kotor.

 

Meletakkanya di sudut kamar. Kemarahan adalah hal yang semakin hari semakin dipelihara. Peliharaan yang paling mudah dikembangbiakkan adalah amarah.

 

Murah hati tak lagi dimiliki oleh mereka. Merekam kebaikan selalu dilakukan, tetapi tak pernah ada satupun yang berhasil mengubah perasaan kesal menuju kata maaf. Maafkan bila jalanan selalu menyebabkan masalah untukmu. Mungkin saja orang-orang lebih suka menyalahkan orang lain daripada menyalahkan dirinya sendiri.

 

Sendirian adalah jalan lain menuju kesengsaraan.

 

Sasaran untuk melupakan amarah adalah orang-orang yang tak disukai. Mulai sekarang belajarlah untuk menjaga nama baikmu dengan sesering mungkin berkunjung ke tempat penatu. Bersihkan semua hal yang kau gunakan untuk menjatuhkan sekaligus menjauhkan orang lain. Lain kali belajarlah untuk mencintai. Cintailah dirimu sendiri dengan hati-hati.

 

[.]

 

 

Eko Setyawan

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS. Beberapa karyanya termaktub dalam buku antologi puisi bersama. Buku kumpulan puisinya yang pertama akan terbit antara September-Oktober. Dapat dihubungi melalui surel esetyawan450@gmail.com

Baca Juga

Ramadan

Puisi-puisi Rizka Nurlaily Mualifa   Ramadan surau-surau penuh sesak oleh tilawah anak-anak dusun yang seperti …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *