> Catatan Kentingan > Menjadi “Petruk” Kekinian

Menjadi “Petruk” Kekinian

 

PETRUK. Ia mungkin sudah jadi istilah asing. Padahal “Petruk” bukan cuma sebuah nama. Ia merupakan tokoh yang sangat erat kaitannya dengan budaya orang Jawa (Tengah), khususnya dalam pagelaran wayang kulit. Walaupun ia memang tak tercantum dalam kitab Mahabarata dari India, kitab yang konon dikenal sebagai salah satu sumber jalan cerita pewayangan itu. Petruk murni diciptakan dari leluhur seniman Jawa. Ia lahir dan hidup di tanah Jawa.

 

Oleh dalang kondang Sudjiwo Tedjo, Petruk digambarkan sebagai sosok yang ‘lepas dari segalanya’. Yang artinya, ia tidak terikat dengan apapun. Bebas berdiri sendiri. Konon, banyak hal yang masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Mirip dengan sebagian mahasiswa saat ini. Mulai dari rangsang kepekaan, nasehat kebaikan, sampai materi dalam perkuliahan, semua masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Termasuk saya pun begitu. Pokoke biablas. Hehe.

 

Pernah kita diberitahu agar jangan melakukan plagiarisme alias copy-paste tugas kuliah. Eh, hla kok masih dilakukan. Kita tahu kalau lampu bangjo warna merah itu menyala, berarti hukumnya wajib untuk berhenti. Kalau yang menyala warna hijau, baru boleh jalan terus. Eh, hla kok malah dilanggar. Ini pada (pura-pura) jadi buta warna, ya?

 

Kita kuliah duduk anteng mendengar dosen memberikan materi. Selepas keluar ruang kuliah, eh, hla kok sebutir materi pun tidak ada yang diingat. Selalu ingin maunya sendiri. Ini urusanku, itu urusanmu. Sebuah gambaran mahasiswa yang begitu menjiwai salah satu karakter Petruk.

 

Ada lagi. Dalam pewayangan jawa, ada lakon alias kisah  yang berjudul ‘Petruk Ilang Pethele’ (Petruk Kehilangan kapaknya). Lakon tersebut menceritakan Petruk yang kehilangan senjata pamungkasnya yang berharga. Senjata Petruk itu berupa kapak yang dalam bahasa jawa diistilahkan dengan pethel, sebuah alat pertukangan untuk membobol kayu. Tanpa alat itu dia tidak bisa apa-apa, bekerja tidak bisa, membela diri tidak bisa, bahkan simbol kebanggaan pun dia tidak punya.

 

Apabila kita melihat dalam dunia perkuliahan, menurut saya, mahasiswa saat ini cenderung malas dalam belajar. Lagi-lagi saya juga termasuk dalam pengelompokan ini. Hehe.

 

Seringkali, kita menjunjung tinggi mahzab sistem kebut semalam. Mengerjakan tugas semalam sebelum dikumpulkan, belajar untuk ujian juga semalam sebelum ujian. Jika memang demikian, patutlah kita berpikir lagi: apakah dengan semalam, ilmu yang kita pelajari kita sudah mumpuni?

 

Dengan tabiat belajar yang mepet-mepet begitu, apa ilmu yang sudah kita kuasai di jurusan kita ini? Entah hanya ingin merendah, atau memang kita benar-benar sadar bahwa kita belum menguasai apa-apa. Sering kita menjawab pertanyaan itu dengan pernyataan  ayem-ayem seperti, “memang ada banyak hal yang belum kita kuasai.”

 

Kita luput menyadari bahwa salah satu kebanggaan dari mahasiswa adalah ilmu. Ilmu dapat menjadi penyelesaian masalah, pembantu dalam pekerjaan, membela diri bahkan dapat dijadikan sebagai kebanggaan.

 

Lakon Petruk Ilang Pethele telah mengajarkan pada kita bahwa semua senjata dan kebanggaan yang kita miliki, bukan berarti tidak bisa hilang. Termasuk ilmu seorang mahasiswa. Mungkin saja mahasiswa sekarang (juga) telah kehilangan Pethele.

Selain itu, cerita mempesona juga dikisahkan dalam lakon ‘Petruk Dadi Ratu’ (Petruk Jadi Raja). Dalam lakon itu diceritakan bahwa Petruk memperoleh kekuasaan sebagai seorang Raja bergelar Prabu Welgeduwelbeh.

 

Ada dua pandangan yang memaknai lakon tersebut. Pertama, lakon tersebut menggambarkan ketidakmampuan orang biasa dalam memimpin kerajaan. Kedua, lakon tersebut menggambarkan bahwa orang biasa juga mampu menjadi seorang raja. Dan kalau saya pribadi boleh ngasal-usul dengan logika cocoklogi, kedua pandangan itu dapat disatukan. Hasilnya: “siapa saja mampu menjadi raja, tetapi belum tentu mampu dalam memimpin”.

 

Lihat saja gerakan mahasiswa sekarang ini. Kampanye di kampus selalu ada masa dan massanya sendiri. Mulai dari organisasi ini sampai organisasi itu. Gerakannya masif, merebak sampai ke dunia media sosial. Galang dukungan untuk dia dan untuk si dia.

 

Kita patut menganggap wajar apabila sebuah organisasi digunakan untuk belajar mengembangkan kemampuan dan salah satunya adalah kemampuan meraih dukungan serta memperoleh kekuasaan. Wajar juga kalau hal demikian digunakan sebagai bekal di masa depan, entah bekal untuk politik yang baik atau sebaliknya.

 

Sebagian mahasiswa berlomba memperoleh kekuasaan, menjadi seorang pemimpin. Tapi anehnya, ada sebagian mahasiswa  yang sangat gemar dalam mengkritik sebuah kepemimpinan. Entah itu ditujukan kepada pemimpin tinggi lembaga ataupun penguasa daerah. Sekecil apapun kesalahan mereka, pasti dikritik habis-habisan sampai turun ke jalan dan tak lupa membakar ban.

 

Sungguh berutungnya saya menjadi mahasiswa! Semua tabiat seperti plagiarisme alias tugas copy-paste, menerobos bangjo Ngoresan, kerap tidak paham materi kuliah dan datang kuliah terlambat tidak pernah mendapat dikritik. Beruntung juga saya tidak didemo dan tidak ada yang membakar ban di depan rumah

 

Ya, berlomba menjadi pemimpin boleh. Tapi mbok kita tahu kapasitas diri dan perilaku kita dulu.

 

Dinamika dan gambaran sosok Petruk memang menjadi cermin bagi kita semua, seorang yang biasa. Cermin untuk melihat ke depan, juga cermin untuk merenung melihat ke belakang. Jalan cerita dan jalan hidup yang berliku, memang terkadang lalai dan kerap kalah dari ego.

 

Namun, jangan lupa kalau Petruk bukanlah tokoh yang jahat. Ia bukan pula tokoh antagonis. Dalam pewayangan, Petruk adalah tokoh protagonis yang kehadirannya selalu dinanti. Dalam benak penikmat seni wayang, Petruk memiliki watak yang lekat dengan penghibur. Seorang tokoh yang jenaka, yang juga mengabdi pada kebaikan.

 

Saya masih meyakini bahwa watak-watak seperti itu sebenarnya dapat kita wujudkan dalam diri sendiri. Sehingga, walaupun tanpa sebuah kekuasaan akan tetap ada kesempatan yang luas bagi kita – mahasiswa – untuk mengabdi pada sebuah kebaikan. Dan walaupun dengan ilmu yang belum mumpuni, kita sebagai mahasiswa setidaknya bisa selalu menghibur dengan berlaku jenaka. Ya, tho? [.]

 

 

Puji Utomo. Pendidikan Matematika 2015. Mahasiswa pengen gondrong tapi terhalang rambut keriting dan niat PPL

Baca Juga

Surat Terbuka untuk Mahasiswa Baru UNS 2018

Oleh: Arief Noer Prayogi     /1/   Ketika saya mengetik tulisan ini, saya menyadari bahwa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *