> Kabar > Menilik Dunia Hiperealitas
(http://spacious110.wordpress.com/)

Menilik Dunia Hiperealitas

(http://spacious110.wordpress.com/)
(http://spacious110.wordpress.com/)

Welcome to the world of hipereality”, begitulah ucap Triana Rahmawati tatkala membuka Seminar Nasional Ketahanan Energi Perkotaan. Seminar yang bertema “Menilik Ketahanan Energi Masyarakat Urban dalam Konsumsi Bahan Bakar Minyak” tersebut diselenggarakan Rabu, 20 November 2013 di Aula FISIP UNS. Alasan digelarnya seminar itu adalah sebagai penunaian tugas mata kuliah sosiologi perkotaan, selain untuk memberi pencerdasan bagi khalayak. Seminar yang dimulai pada pukul 08.00 sampai 12.00 tersebut diisi oleh empat pembicara, yaitu; Darmawan Prasodjo (pengamat energi), Derajad Sulistyo Widhyharto (sosiolog UGM), Yulius Slamet (sosiolog UNS) dan Triana Rahmawati (mahasiswa sosiologi UNS). Sedianya Aria Bima menjadi juga bertindak sebagai pembicara, namun ia berhalangan hadir karena harus memimpin rapat Pansus.

Sebelum seminar diselenggarakan, tim sosiologi perkotaan melakukan penelitian selama dua bulan. Penelitian fenomenologi yang mereka lakukan didasarkan atas teori Jean Baudrillard tentang dunia hiperealitas. Dunia dimana manusia bukan lagi membeli suatu barang, melainkan hanya nilai dari barang tersebut. Manusia bukan lagi membeli sesuatu atas dasar kebutuhan, namun hanya didasari keinginan. Hiperealitas adalah gejala dimana banyak bertebaran realitas-realitas artifisial (buatan) yang bahkan tampak lebih real dari realitas yang sebenarnya. Misalnya ketika mengunjungi Disneyland, orang-orang membayar tiket masuk dengan uang asli hanya demi menikmati pengalaman layaknya dalam dunia fantasi. Gejala hiperealitas tersebut menandai pola perilaku masyarakat yang konsumtif. Kemudian muncul masalah dari konsumtivisme masyarakat ini, yaitu masalah ketahanan energi terkait penggunaan bahan bakar minyak.

Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya memakai bahan bakar minyak bumi. Darmawan membandingkannya dengan Brazil yang sudah menggunakan bahan bakar etanol. Dalam satuan rupiah, bahan bakar etanol harganya sekitar Rp 7000,00, lebih murah dari harga bahan bakar minyak yaitu Rp 11000,00. Namun di SPBU harga bahan bakar minyak hanya Rp 6500,00 lantaran ada subsidi pemerintah. Artinya, dalam setiap liter bahan bakar minyak beli, anggaran negara berkurang karena subsidi. Tahun ini subsidi bahan bakar minyak dari negara sebesar 47 miliar liter. Jika saja Indonesia mau beralih menggunakan bahan bakar minyak etanol, tanpa menaikkan harga bahan bakar, negara ini sudah mampu mengurangi subsidi sebesar 14 triliun rupiah. Hanya saja kendaraan-kendaraan perlu sedikit penyesuaian untuk menanggulangi sifat etanol yang korosif. Kendati demikian, bersusah payah sementara demi perbaikan ke depan lebih baik daripada menggantungkan diri pada asing yang menguasai 82% minyak bumi di Indonesia. Mungkin belum banyak yang tahu bahwa penguasa energi kita adalah pihak asing, inilah dunia hiperealitas. (Udji Supriyanto)

Baca Juga

Kuliah Eksorsisme Bikin Mahasiswa Merinding

  (Patricia)   Surakarta, saluransebelas.com – Pastoral Mahasiswa Surakarta (Parmas) menggelar kuliah umum agama Katolik …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *