> Laporan Khusus > Menelusuri Satu Tahun Implementasi UNS Solo Active

Menelusuri Satu Tahun Implementasi UNS Solo Active

Budaya kerja UNS Solo Active menjadi tata nilai kebersamaan dan pengikat moral tinggi. Jargon itu pun menjelma bak ruh yang dibangun untuk mewujudkan “UNS adalah satu milik kita bersama.”

Genap satu tahun sudah Prof. Dr. Ravik Karsidi, MS. memegang tampuk kekuasaan tertinggi sebagai rektor UNS Solo. Selama masa itu pula jargon baru mewarnai kehidupan kampus. Jargon baru itu memuat enam unsur, meliputi: Achivement Orientation (Orientasi Berprestasi), Customer Satisfaction (Kepuasan Pengguna Jasa), Teamwork (Kerjasama), Integrity (Integritas), Visionary (Visioner), dan Entrepreneurship (kewirausahaan).

Jargon baru itu bukanlah hal baru di UNS. Ia merupakan penyederhanaan dari 10 Budaya Kerja pada masa kepemimpinan Prof. Dr. HM, Syamsulhadi, dr. Sp.KJ (K). Penyederhanaan itu menjadi strategi agar rumusan budaya kerja menjadi efisien, sederhana dan mudah diingat.

“Sebetulnya dulu 10 Budaya Kerja yang kini menjadi enam itu adalah supaya  kita  dapat  menyosialisasikan nilai budaya yang mudah diingat dan sederhana, tetapi dengan semangatnya  sama.  Jadi  sebenarnya  esensinya tetap sama,” ungkap Pembantu Rektor IV, Dr.Widodo Muktiyo, S.E., M.Com., saat ditemui di ruang kerjanya.

Sosialisasi

Pelbagai upaya sosialisasipun ditempuh dengan mahal. Menurut hasil pengamatan Civitas, X-banner berisi penjabaran Active dapat ditemui hampir di semua ruangan dan gedung. Selain itu, pembagian pin “UNS Solo Active” pada saat Orientasi Mahasiswa Baru (OSMARU) serta roadshow tenaga pendidikan ke setiap fakultas, dan melalui program UNS Menyapa yang disiarkan televisi lokal.

Berjuta harapan mengenai budaya kerja baru pun lahir tak hanya dari pimpinan universitas. Harapan  tersebut  datang  dari  mahasiswa,  dosen, birokrat, dan segenap stakeholders lainnya. Seperti yang diharapkan Menteri Dalam Negeri BEM UNS periode 2011/2012, Adiwena Yusuf, mahasiswa sastra inggris itu kepada Civitas meng-ungkapkan harapannya, “Harapannya sih, semua warga kampus melaksanakan Active secara konsisten mulai dari dosen, staf, mahasiswa sampai dengan karyawan tata usaha.”

Hal senada juga diungkapkan Kepala UPT Mata Kuliah Umum (MKU), Drs. H. Utomo, M.Pd.. “Untuk memotivasi pelaksanaan budaya kerja dalam segala kesempatan, misalnya  dalam  acara kajian pimpinan yang rutin diadakan setiap bulan. Pak Rektor menekankan pentingnya UNS Solo Active dan nantinya disampaikan ke bawah, poin yang di-sampaikan misalnya pencanangan pendidikan karakter.”

Terlepas dari harapan yang ada, sosialisasi jargon UNS Solo Active masih menyisakan “pekerjaan rumah”  yang belum  terselesaikan. Indikasi ketidakmerataan sosialisasi muncul  dengan banyaknya civitas akademika yang hanya mengenal jargon tersebut tanpa mengerti maksud dan tujuannya. Seperti yang diungkapkan Melina Anggraini. Mahasiswi FKIP angkatan 2010 itu berujar, “Saya hanya  tahu  lewat banner-banner yang ada. Selanjutnya saya benar-benar tidak paham. Mungkin kurang sosialisasi untuk apa jargon-jargon itu ada.”

Hal senada juga diungkapkan Tori Nuariza, anggota Dewan Mahasiswa UNS. Dia menilai sosialisasi jargon baru UNS belum optimal. Untuk mengatasi hal itu, ia berpendapat, perlu dilakukan pengenalan jargon baru UNS me-lalui pemilihan Duta UNS Solo Active  di  setiap  fakultas. “Pemilihan duta Active ini mungkin bisa jadi alternatif yang baik. Sebagai duta Active, mereka harus memiliki program baru dan niat untuk mensosialisasikan Active, bukan sekedar ingin mendapatkan gelar saja,” ujarnya.

Satu Tahun

Disinggung tentang implementasi budaya kerja UNS Solo Active, Pembantu Rektor IV mengata-kan bahwa nilai-nilai itu harus dijalankan menjadi budaya perusahaan. “Misalkan Achievement Orientation. Jadi, baik dosen, karyawan maupun mahasiswa yang di UNS ini orientasi-nya dalam bekerja itu harus berprestasi tidak sekadar menghabiskan waktu. Kemudian untuk customer satisfaction,.kalau saya dosen maka saya harus bisa bekerja sama dengan sesama dosen, karyawan, dan juga mahasiswa. Jadi, kita bekerja itu harus memuaskan customer.”

Kini, setelah satu tahun lamanya budaya kerja UNS Solo Active disosialisasikan, beberapa hal telah diraih UNS, salah satunya adalah penghargaan untuk UNS Solo. UNS menyandang gelar baru sebagai PTN termuda yang paling berprestasi di Indonesia. Pencapaian di bidang Keunggulan dalam Internasionalisasi dan Pencitraan Publik  menyebutkan bahwa UNS menempati peringkat terbaik 1.186 dunia, 31 terbaik Asia Tenggara, dan 7 terbaik Perguruan Tinggi Indonesia versi webometrics.

“Capaian peringkat universitas ini, akan lebih memacu pelaksanaan program strategis UNS dalam delapan Keunggulan Pengembangan, dengan penerapan budaya kerja UNS Solo Active,” tutur Prof. Dr. Ravik Karsidi, MS. pada acara sidang senat terbuka dalam rangka Dies Natalies ke-36 UNS.   Saat  ini  juga  sudah  banyak dosen dan mahasiswa yang berprestasi di tingkat nasional maupun internasional. Sebuah fakta yang  meliputi salah satu poin  Active, Achievement Orientation.

Namun, kemajuan yang telah dirasakan dari adanya budaya kerja ini, belum seluruhnya menjangkau kegiatan yang ada di UNS Solo. Seperti yang dirasakan oleh Devi Nirmala mengenai cara pelayanan yang ia dapatkan saat di perpustakaan. “Pelayanan di perpustaka-an masih kurang bagus, terutama customer service-nya mereka masih kurang ramah sama mahasiswa,” keluh Devi, mahasiswi Fakultas Sastra dan Seni Rupa tersebut.

Sudah  selayaknya  para  civitas  akademika  dapat merasakan pelayanan terbaik yang di-berikan oleh  pihak terkait. Sayangnya sebagian civitas akademika merasa ada beberapa aspek yang masih belum optimal dalam melayani, membantu, dan juga memenuhi kebutuhan mahasiswa.

Harapan

Meskipun implementasi budaya kerja baru ini dirasa masih kurang optimal, para warga UNS, terutama dikalangan dosen-dosen dan pihak rektorat, tak berhenti untuk terus memperjuangkan eksistensi UNS Solo Active agar menjadi  budaya yang merasuk dalam nilai-nilai kesehari-an para  civitas akademika.

“Untuk mengembangkan nilai-nilai budaya ini tidak hanya sekadar slogan kemudian hanya artifisial. Tapi bagaimana kemudian supaya stakeholder itu tahu dan kita membuat program nanti, dosen-dosen, perwakilan kita training apa itu Active, dan manifestasinya itu seperti apa,” tegas Widodo.

Senada dengan itu, Fitria Akhmerti Primasita, SS, MA dosen Fakultas Sastra dan Seni Rupa menambahkan, “Semoga dengan budaya kerja Active ini, UNS dapat mewujudkan cita-citanya menjadi world class university.”

Cita-cita yang ditambatkan pada budaya kerja ini begitu besar. Untuk itu diperlukan kerjasama dari semua pihak dalam mewujudkannya. Jika semua pihak telah berpartisipasi, tentunya ke-luaran ini bukan sekadar harapan saja bukan?[] (Nindya, Nurahma, Anna)

Baca Juga

Petani dari Kampus Buru

Oleh: Satya Adhi dan Vera Safitri   DI RUMAH Paiman, orang-orang berdatangan hampir tiap hari. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *