> Jeda > Mendarah Dangdut, Menggoyang Aksara
Foto oleh: Satya Adhi/ LPM Kentingan UNS

Mendarah Dangdut, Menggoyang Aksara

Oleh: Satya Adhi

 

SETIAP MANGGUNG di Madura, Orkes Melayu (OM) Monata berubah jadi penguasa jalanan. Sopir-sopir muda mereka ngebut melawan arah di jalur yang lengang biar bisa sampai di tempat kerja tepat waktu. Kalau ditegur polisi, kasih saja lima puluh ribu.

 

 

“Oh, dari Monata…. Lewat!” Polisi bakal menerima duit sambil bilang begitu.

 

 

Jalan penghidupan mereka memang harus lewat jalanan. Kebut-kebutan baru satu soal saja. Yang lain, misalnya soal tempat menginap. Jangan bayangkan biduanita dan kru Monata bakal menginap di hotel mewah, atau paling tidak, losmen kecil-kecilan. Lah, sehari manggung saja, paling tidak mereka harus pindah ke dua hajatan berbeda. Menginap di hotel? Boros duit dan waktu, Rek!

 

 

Makanya, buat anak-anak Monata, hotel paling mewah adalah adalah Hotel Pertamina alias pom bensin. Tinggal parkir, istirahat, kencing paling bayar dua ribu.

 

 

Paling sedih kalau bulan Ramadan, bulan penuh berkah yang justru bikin mereka kere parah. Di bulan itu, polisi jarang mau mengeluarkan izin keramaian. Konser dangdut jadi sepi. Padahal, anak, istri, dan suami kru Monata butuh tabungan buat hari raya.

 

 

Dian, Manajer OM Monata, banyak berkisah demikian. Ia jadi saksi pergulatan orkes dangdut asal Sidoarjo itu sejak 1995. Soal bayaran, misalnya. “Sekali job itu kita memang dibayar puluhan, seratusan juta,” kata Dian. “Tapi kalau ada yang nawar, kami juga pusing.”

 

 

Bagaimana tidak pusing? Menggelar sebuah konser dangdut bukan perkara murah dan mudah. Satu mik buat penyanyi saja harganya bisa 95 sampai 125 juta! Itu baru satu mik. Hitung saja sendiri kalau satu orkes butuh belasan mik. Belum sepaket perangkat sound yang harganya bisa mencapai 2 miliar. Belum lampu-lampu panggung. Belum duit transportasi.

 

 

Semua duit untuk modal manggung barangkali sudah cukup untuk modal kampanye. Dan dengan semua duit itu, alih-alih nyaleg atau nyalon jadi Gubernur, Dian malah masih punya pikiran buat menerbitkan buku. Monata jadi orkes dangdut pertama yang menerbitkan buku.

 

 

Buku berisi goyangan kata-kata itu punya judul Goyang Aksara, Ditulis 17 esais kurang kerjaan yang sempat-sempatnya mengurusi dangdut, diterbitkan lewat kerja sama dengan Bilik Literasi Solo, dan diobrolkan Bentara Muda di Balai Soedjatmoko, Solo, 26 April 2018 malam.

 

 

Buku ini bukan diterbitkan oleh penerbit kampus, pers mahasiswa, atau lembaga penelitian serius. Para penulisnya pun tidak muluk-muluk ingin menyaingi kajian Andrew N. Weintraub dalam Dangdut: Musik, Identitas dan Budaya Indonesia (Kepustakaan Populer Gramedia, 2012). Kebanyakan tulisan berangkat dari pengalaman personal penulisnya soal dangdut.

 

 

Dari Panggung ke Buku

 

 

Udji Kayang Aditya Supriyanto, esais cabul, sarjana rumah tangga, sekaligus penyunting buku Goyang Aksara, berujar soal keagungan dangdut. “Semakin dewasa seseorang, dia akan sadar kalau musik yang paling agung adalah dangdut.” Orang-orang yang hadir tersenyum, tertawa, atau cuma meringis kecil sambil coba berpikir liar.

 

 

“Menurut saya dangdut itu musik yang membumi, alih-alih agung, sesedih apapun lagunya, dangdut tetap bisa dijogeti,” nantinya, Tika, mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Solo menangapi demikian.

 

 

“Wah, itu si Udji harus mempertanggungjawabkan ucapannya,” Denis Setiaji kali ini yang bicara. Vianisti cabang Juwiring sejak 2011 itu melanjutkan omongan. “Berarti dangdut lebih agung dari gamelan, dong? He-he.”

 

 

Dalam tesisnya di jurusan Etnomusikologi ISI Solo, Denis mengkaji berbagai pola gendang dangdut. Sejak era Boneka India, Rhoma Irama, hingga dangdut Koplo, penabuh gendang adalah penguasa berbagai kultur musik. Denis menyimpulkan ini setelah menemukan bahwa pola gendang dangdut ternyata dipengaruhi pola-pola gendang tradisional. Misalnya gendang Tayub di Banyumas, gendang Jaipong di Jawa Barat, juga gendang jaran kepang di Jawa Timur.

 

 

“Bahkan pola gendang ‘buka sithik jos’ itu sudah ada sejak 1970-an di Banyumas,” katanya. Buat dangdut, gendang adalah akal. Ia jadi pembeda antara dangdut dengan musik lainnya.

 

 

Tak hanya di panggung-panggung Pantura, dangdut ternyata juga hadir di kampus. Pada perayaan Dies Natalis ke 42 bulan Maret kemarin misalnya, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo menggelar konser dangdut di lapangan gedung rektorat. Kampus tidak lagi hanya diperdengarkan lantunan ayat Tuhan dari para hafiz atau nyanyian selawat Syekhermania, tapi juga suara merdu para biduanita dangdut.

 

 

Ini bukan pertama kalinya dangdut hadir di UNS. November 2015, mahasiswa Fakultas Hukum (FH) nekat menggelar konser dangdut kecil-kecilan tanpa izin dekanat. Alih-alih melarang, Supanto, Dekan FH, malah ikut berjoget. Saluransebelas.com mencatat, Supanto bergoyang sangat gayeng saat itu.

 

 

“Supanto naik ke atas panggung. Masih mengenakan kemeja panjang kantoran berdasi. Tangannya digerakkan ke kanan, ke kiri. Kakinya sedikit dihentak-hentakkan mengikuti alunan gendang dangdut koplo yang khas. Tak berselang lama, tangan Supanto dilekuk membentuk ular kobra. Pinggulnya tak berhenti bergoyang.”

 

 

Soal mahasiswa yang berdangdut, Muhammad Ilham, salah satu esais di Goyang Aksara, bahkan punya cerita menarik ketika dia menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di salah satu dusun di Karanganyar. “Di sana, anak-anak SD lebih fasih menyanyi dangdut daripada lagu nasional.” Seisi Balai Seodjatmoko tertawa.

 

 

Dian Monata berharap Goyang Aksara terus bergoyang dengan menerbitkan seri kedua, ketiga, dan seterusnya. Buku-buku semacam ini akan ikut menghidupi dangdut. Apalagi, kini dangdut ada di mana-mana. Di teve, di Youtube, di warung-warung, di indekos-indekos sumuk.

 

 

Dangdut bukan hanya rok mini, gendang merdu, atau cengkok melayu. Dangdut adalah sopir truk ugal-ugalan, pom bensin yang disulap menjadi hotel, juga punggung-punggung perkasa para pengangkut perangkat sound. Dia agung sekaligus membumi. Dia hidup dan menghidupi. “Dangdut itu soal penghidupan,” tegas Dian.[]

 

 

Baca Juga

PKKMB Generasi Emas, Atraksi dan Ambisi nan Suci

(Oleh: Adhy Nugroho)   SEORANG laki-laki terlihat dari belakang, tungkuk lehernya merah terbakar. Juga para …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *