> Jeda > Mendadak Njawani

Mendadak Njawani

 

Oleh: Muhammad Abdunnaim Alghiffari

 

TERLIHAT dari jauh, Rektor, Wakil Rektor, jajaran Dekanat Universitas Sebelas Maret beserta keluarga turun dari mobil masing-masing. Rombongan pejabat UNS itu seolah-olah takut rumput yang diinjak akan melahap mereka. Langkah mereka pun begitu pelan dan hati-hati menuju singgasana empuk di barisan depan acara pagelaran Wayang Kulit, salah satu rangkaian kegiatan Dies Natalis ke- 42 UNS pada 17 Maret 2018.

 

 

Tak seperti hari-hari biasanya. Pada pagelaran kali ini terdapat pemandangan menarik yang sengaja diperlihatkan para pejabat UNS. Satu set pakaian adat Jawa Tengah yang acapkali disebut beskap, menjadi sandangan para pejabat pria yang hadir.

 

 

Warna coklat, abu-abu, dan krem menjadi pilihan warna dominan  untuk beskap yang mereka kenakan. Tak ingin merusak tatanan warna dresscode yang apik, para pejabat dan sanak keluarga perempuan turut memakai kebaya yang berwarna senada. Garis kontras cukup terlihat di antara tempat duduk barisan depan denganbarisan belakang. Para pejabat UNS yang njawani itu terlihat lebih kinclong daripada para penonton lain yang berpakaian seadanya.

 

 

Blangkon khas Solo, stagen, kain jarik bermotif lereng, dan sendal slop hitam menempel manis di tubuh para pejabat pria. Hanya butuh kehadiran kumis tebal nan lebat untuk bisa sampai hati memanggil mereka dengan julukan “Pak Raden”. Beskap, mau tak mau, telah memaksa para pejabat untuk mengeluarkan aura njawani mereka.

 

 

Dengan gerak kaki dan tubuh yang terbatas karena tertahan lilitan kain, Prof. Sholihin As’ad selaku Ketua Pelaksana Kegiatan Dies Natalis ke- 42 UNS perlahan naik ke panggung. Ia kemudian memberi sambutan dalam bahasa jawa krama halus. Riuh tepuk tangan penonton semakin lantang sesaat setelah master of ceremony alias sang pranata acara menginformasikan bahwa ia merupakan orang Makasar.

 

 

“Saya belajar seharian untuk bisa berpidato bahasa jawa.” Menurut Solihin, pakaian yang dikenakan harus selaras dengan bahasa yang dituturkan. “Saya rasa jika memakai pakaian jawa seperti ini, saya juga harus mampu berbahasa jawa. Apalagi ini adalah acara kebudayaan,” jelas Dekan Fakultas Teknik UNS ini sambil menata beskapnya yang mulai longgar.

 

 

Busana yang dikenakan para pejabat UNS tersebut bukan semata-mata bermaksud untuk meraih kalimat ‘enak dilihat’ saja. Prof. Widodo Muktiyo, Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama, menjelaskan bahwa tujuan pemakaian beskap adalah upaya UNS untuk menjaga dan melestarikan budaya nasional khsusunya budaya jawa. “Walaupun kita memang sedang giat-giatnya mencanangkan World Class University.” []

 

Baca Juga

Bukan Salah Anak Tidak Membaca, tapi Salah Kita Tidak Membacakan

  Oleh: Satya Adhi   Kalau Setyaningsih pulang dan keponakan tiga tahunnya nggelendot minta digendong, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *