> Resensi > Memberi Nada pada Puisi

Memberi Nada pada Puisi

Oleh: Dimas Alendra

Judul Album  : Menyanyikan Puisi

Artis                  : AriReda                                

Genre                : Folk

Tahun Rilis     : 2015

ARIREDA tidak pernah menulis sendiri lirik lagu mereka. Grup musik minimalis yang beranggotakan Ari Malibu dan Reda Gaudimo ini, memilih mengalunkan nada pada syair-syair sakral para sastrawan Nusantara. Lewat album Menyanyikan Puisi yang dirilis 2015 lalu, AriReda menguatkan eksitensi mereka dalam kancah musik setelah vakum beberapa tahun. Kembalinya AriReda menjadi angin sejuk bagi para pecinta musik folk. Sejenak mengalihkan diri dari  beberapa grup musik folk yang sedang naik daun dalam beberapa tahun terakhir.

Menadakan Puisi

AriReda memang hanya fokus dalam melagukan puisi dalam setiap karyannya. Pada album pertama yang berjudul Becoming Dew, mereka menyanyikan beberapa puisi yang diguratkan para maestro sastra seperti Sapardi Djoko Darmono, Acep Zamzam, dan Emha Ainun Nadjib. Saat vakum hingga album Menyanyikan Puisi dibuatpun, AriReda masih tetap melagukan puisi dari banyak sastrawan seperti Goenawan Mohammad, Mozasa, Toto Sudarto, dan Abdul Hadi WM.

Meskipun secara konsep Menyanyikan Puisi masih sama dengan album sebelumnya, setidaknya AriReda mampu mengobati kerinduan penggemar yang haus akan asupan imajinasi. Puisi berjudul Di Restoran menjadi pembuka dalam album ini. Puisi karya Sapardi Djoko Darmono ini mampu dinyanyikan secara indah lewat suara Reda Gaudiamo dan petikan gitar Ari Malibu. Sederhana memang jika dilihat dari komposisi musik, tapi entah mengapa lagu ini mampu membius saya dan membuat saya berimajinasi tentang sebuah pepatah “jauh di mata dekat di hati.”

Dalam lagu kedua ada puisi Toto Sudarto Bachtiar berjudul Gadis Peminta Minta yang kemudian di aransemen ulang Ags. Arya Dipayana.

“Tapi Kotaku Jadi Hilang, tanpa jiwa.

Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil

Pulang kebawah jembatan yang melulur sosok

Hidup dari kehidupan angan angan yang gemerlapan”

Lagu ketiga berjudul Dingin Tidak Tercatat karya Goenawan Mohamad. Lagu ini sangat cocok untuk didengar bagi seseorang yang sedang merasa kegundahan dalam hatinya. “Tuhan, kenapa kita bisa berbahagia” yang seolah menegaskan bahwa setiap manusia pasti akan berbahagia dengan caranya sendiri, tinggal bagaimana kita tetap bersabar.

Berikutnya ada lagu berjudul Lanskap yang merupakan puisi mini karya Sapardi Djoko Darmono. Terdiri hanya 4 baris namun ditangan AriReda imajinasi pendengar akan ditantang untuk lebih luas untuk menggambarkan kedamaian hidup.

Lagu terakhir dalam album ini berjudul Tuhan Kita Begitu Dekat karya Abdul Hadi WM. Yang menggambarkan bahwa Tuhan selalu ada di sekitar kita, dan secara tidak langsung kita selalu berkomunikasi dengan Tuhan.

“Kita begitu dekat seperti angin dengan arahnya

Kita begitu dekat dalam gelap

Kini aku nyala pada lampu padammu”

Dalam puisi aslinya mungkin beberapa puisi dalam album ini agak sulit untuk diterjemahkan apa maksudnya. Tapi di tangan AriReda larik-larik puisi menjadi mudah melompati batas imajinasi manusia.

Banyak tantangan

Dalam proses rekaman Ari Malibu dan Reda Gaudiamo menghadapi banyak kendala. Bahkan album ini hampir tak pernah selesai karena mereka berdua sibuk dengan pekerjaan masing masing. Dari segi pendanaan juga terlalu minim. Hingga mereka akhirnya bertemu dengan David Karto dari lebel rekaman Demajors yang bersedia merilis album ini. Proses rekaman sendiri dilakukan secara live recording. Artinya, jika mereka salah dalam memainkan satu lagu, harus mengulang dari awal untuk memainkan lagu tersebut. Dan akhirnya album Menyanyikan Puisi berhasil dirilis. Untuk merayakannya AriReda mengadakan konser tunggal pada Januari 2016 di Taman Ismail Marzuki selama dua hari. Penjualan tiketpun ludes terjual.

Dengan mendengarkan AriReda, kita mengapresiasi puisi dengan cara yang berbeda. AriReda bisa dikatakan sudah tidak muda lagi, tapi banyak pendengar mereka dari kalangan anak muda. Dan ketika anak muda mendengarkan AriReda, syair-syair puisi bisa dinikmati. Bukan hanya lewat Rangga dan Cinta saja kita bisa mengenal puisi.

“We don’t read and write poetry because its cute. We read and write poetry because we are members of human race. And human race is full of passion.(Dead Poets Society-1989).[]

(Foto dilansir dari thejakartapost.com)


Dimas AlendraDimas Alendra. Pernah dianggap aneh saat sekolah karena memiliki selera musik yang nyeleneh dari orang kebanyakan. Masih berharap suatu hari nanti bisa menonton Deafheaven dan Sajama Cut secara langsung. Surel: dimasalendra@gmail.com.

 

Baca Juga

Membatalkan Kematian

    Oleh : Vera Safitri, Pembaca menyedihkan   Judul buku    : Laut Bercerita Penulis    …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *