> Catatan Kentingan > Memakamkan Rolling Stone Indonesia

Memakamkan Rolling Stone Indonesia

 

Kelana duka pembaca majalah musik Indonesia.

 

Saat itu malam tahun baru tinggal hitungan jam. Kuhabiskan 2017 bersama empat sampai lima kawan. Bermalam di indekos, kami ngobrol ngalor ngidul menyoal makna tahun baru. Di sela obrolan, kutilik lini masa instagram, melihat agenda tahun baru para warganet yang ramai beresolusi kembali dan bersuka ria.

 

Gular gulirku berhenti di sebuah unggahan akun resmi Rolling Stone Indonesia. Unggahan yang kemudian membuat tenggorokanku nyaris kering. Ternyata dugaanku selama ini benar. Rolling Stone Indonesia (RSI) akhirnya pamit kepada para pembacanya. Majalah yang kerap mengulas geliat musik dan kultur pop itu sudah tak lagi beroperasi di Indonesia.

 

Obrolan yang kawan-kawanku mulai dari Anyer mungkin sudah sampai di Panarukan. Namun aku terhenyak di antara mereka yang kemudian menghitung detik demi detik pergantian tahun. Akhirnya, kuberanikan diri menyela obrolan seru mereka dengan berita tutupnya RSI. Kukira malam tahun baru itu akan berubah jadi kelabu. Namun anggapanku salah, mereka cuma cengingas-cengingis mendengar kabar itu.

 

Ingin rasanya merasa biasa saja, larut dalam ‘tahun baru kita berpesta ria’ seperti mereka. Tapi tak apalah, sekali kali menjadi sendu sendiri di akhir, karena darah melayu adalah takdir. RSI yang digadang kini kian gamang. Mungkin berita ihwal pamitnya RSI menjelma elegi bagi mereka yang bercita-cita menjadi pewarta musik.

 

Esoknya, kubuka lagi majalah RSI yang kupunya. Tak dapat kupungkiri, majalah cetak punya pesonanya sendiri. Sampul depan selalu didesain dengan konsep yang matang. Mencipta pengalaman pembacanya melalui sentuhan, pengelihatan bahkan penciuman.

 

Masih kuingat, rilisan pertama RSI di tahun 2005 dibuka dengan sampul foto Bob Marley. Ada pula sampul dengan pose aktris-aktris film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) atau paras cantik Pevita Pearce. Dan yang paling kusenangi adalah sampul semiotik yang mengulas Jogjarockarta 2017.

 

Memang majalah cetak yang kupunya tak banyak. Jumlahnya bisa dihitung jari. Dari situ baru kusadari, aku pun tak ada beda dengan mereka. Lebih sering meraih RSI dan kabar-kabar tentang musik lewat media digital. Mungkin, memang kita semua memiliki andil atas ‘kematian’ RSI.

 

Bagiku, tak pantas melabeli RSI sebagai majalah berusia dini. Dua belas tahun bukan waktu yang singkat. Dua belas tahun RSI berdiri pantas disebut salah satu majalah yang berusia paling panjang di Indonesia. RSI sukses menghubungkan karya-karya musisi Indonesia maupun mancanegara kepada geliat pasar dan pendengar. Di dalamnya skena musik Indonesia pasca reformasi hingga kini terekam rapi.

 

Melalui majalah RSI, kita dapat menikmati musik tanpa telinga. Saat aku membaca rubrik Reviews Music, narasi-narasi mengenai nada dan irama dapat membentuk imajinasi tersendiri. Tentang bagaimana album dari Efek Rumah Kaca dan Sinestesia beralegori menjadi santapan penuh nutrisi. Atau tentang bagaimana suara gitar dari Pandu Fuzztomi (Morfem) yang dipersonifikasikan menyapa pendengar sebagai salam. Dan tentang bagaimana kejamnya hentakan drum Travis Barker hingga menyayat telinga para pendengarnya. Kita sepertinya sedang diajak merasakan alunannya melalui mata dan akal. Aku tentu kagum pada hal itu.

 

Kita terlalu asik memandang musisi dan karyanya sebatas entitas eksploitasi pada dunia hiburan saja. Mayoritas bahkan masih menganut asas par exellence. Yakni, hanya mendengar dan menilai karya musik saja tanpa harus tahu bagaimana latar belakang pribadi sang musisi. Alhasil, kita luput memandang sang musisi sebagai pribadi manusia.

 

Aku yakin latar belakang seorang musisi mempengaruhi karya mereka. Seperti yang dikatakan asas conditio sine qua non, bahwa selalu ada kausalitas antara latar belakang pemusik dan karya musik yang dilahirkannya. Asas tersebut hendaknya berlaku dalam menikmati sebuah karya musik musik. Untuk itulah, RSI merasa perlu mengupas latar belakang dan sisi intelektualitas sang musisi. RSI melihat musisi sebagai manusia yang punya pengalaman dan pengamalan dalam keseharian. Seperti halnya menyuguhkan paparan sebuah kesatuan band secara personal pada tiap personilnya.

 

Kita jadi tahu bagaimana jadinya The Beatles tanpa George Harrison. Kita jadi tahu bahwa Pasha adalah pribadi intelek yang dapat menjustifikasikan Ungu terlepas dari kritikan pada genre pop melayu. Kita jadi tahu FarizRM adalah musisi yang penuh perenungan dibalik karya-karyanya. Atau tentang bagaimana Pee Wee Gaskins yang sukses merebak di kalangan remaja tanpa tunduk pada major label. Melalui RSI, baik dari majalah maupun produk digitalnya, kita jadi punya kacamata baru dalam memandang musik dan pemusik.

 

Selain musik, wawasan tentang pop kultur juga disuguhkan oleh RSI. Mulai feature tokoh tentang bagaimana konflik Ahok sebagai politikus dan sebagai manusia moralis, Bill Gates mantan pengguna LSD yang visioner tentang teknologi, atau tentang bagaimana dunia Stand Up Comedy sebagai fenomena happening arts di kalangan masyarakat kita. Dan bahkan sampai pembahasan Twitter dalam wacana jurnalistik.

 

Soleh Solihun, salah satu kontributor RSI itu pun mengakui kalau belum pernah ada majalah musik yang dapat bertahan lama di Indonesia. Aku pasti setuju. Gugurnya majalah Aktuil, Trax, hingga RSI mungkin akan selalu jadi noktah dalam lembar perjalanan musik di Indonesia. Lalu bagaimana dengan dunia jurnalisme musik di Indonesia setelah RSI pamit? Syukur, kita masih bisa berharap pada webzine. Mereka adalah para independen yang masih mendengar, merangkum, dan menuliskan gambaran skena musik pada laman daring. Mereka adalah Warning Magazine, Kanal Tiga Puluh, Pop Hari Ini, atau Blurg Magazine dan webzine lainya masih banyak yang belum terjamah. Mereka turut memperpanjang lilin jurnalisme musik di Indonesia.

 

Berbicara tentang harapan. RSI, bagaimanapun, harus tetap beroperasi di Indonesia. Kita butuh RSI yang berani mengkritik kejamnya industri musik, terutama di negeri ini. Kita juga butuh RSI yang dapat mencerdaskan masyarakat soal budaya pop agar kita menjadi lebih bijak di era kekinian.

 

Semoga saja terkabul.

 

Seperti Adib Hidayat sang mantan Managing Director Rolling Stone Indonesia yang pernah berandai-andai Jokowi menjadi presiden dalam rubrik Editor’s Note saat membahas acara Rock In Solo 20. Dan jadilah! Harapan Adib jadi kenyataan, seorang Wali Kota Solo itu kini telah beralih jadi Presiden Republik Indonesia.

 

Sebelum sampai pada salam. Ijinkan aku mengucapkan terima kasih kepada RSI atas keseriusan dan ramah tamahnya pada pembaca selama ini. Salah satu pembacamu yang remeh temeh ini, akan tetap menanti bangkitnya RSI – RSI baru yang di era media yang sedang berkonvergensi. Panjang umur jurnalisme musik indonesia! Salam.

 

Aziz Nur Fazma

Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNS, 2015.

Baca Juga

Memimpikan Mimpi sang Rektor

  Estafet mimpi para rektor kampus ini rupanya tak kunjung berujung.   REKTOR UNS kelima, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *