> Catatan Kentingan > Media Pembelajaran Multimedia VS Guru

Media Pembelajaran Multimedia VS Guru

Apa yang paling Anda ingat saat mendapatkan pelajaran di kelas? Materi, media, atau gurunya?

Pernah suatu ketika di salah satu jejaring sosial, seorang teman berturut-turut bercerita mengenai guru-gurunya waktu SMA. Pada hari itu ceritanya SMA-nya dulu sedang berulang tahun. Dia bercerita mengenai guru Sejarahnya yang dari langkahnya saja sudah bikin mengantuk, hingga guru Sosiologi yang sering ijin ke belakang tapi tidak kembali hingga bel istirahat. Dari semua yang ia ceritakan, ia dengan jelas masih hafal nama seluruh gurunya berserta kebiasaan, dan sikap mereka.

Tapi ketika ditanya apakah dia hafal materi pelajaran yang guru-gurunya ajarkan itu, jawabannya hanya sedikit saja yang ia ingat. Ia hanya ingat dengan mata pelajaran tertentu yang ia sukai dan dibawakan oleh guru yang asik.

Mengapa teman saya itu bisa mengingat guru-gurunya dengan baik tapi tidak dengan materi pembelajarannya? Jawabannya karena belajar itu berawal dari ikatan emosi dan persepsi. Dewi S. Prawiradilaga (2007) mengungkapkan proses belajar tanpa memerhatikan siapa yang belajar, materi, lokasi, jenjang pendidikan atau usia pembelajar selalu dipengaruhi oleh persepsi peserta didik. Persepsi adalah awal dari segala macam kegiatan belajar yang bisa terjadi pada setiap kesempatan, disengaja atau tidak.

Persepsi itu bersifat subjektif. Karena itulah sering ada kejadian seorang anak atau mahasiswa yang tidak mengikuti suatu pelajaran atau mata kuliah karena gurunya membosankan.

Secara metode konvensional guru sangat berpengaruh pada proses pembelajaran. Namun sekarang, untuk mengatasi masalah tersebut, terdapat teknologi pendidikan dengan berbasis multimedia agar peserta didik mampu bereksplorasi lebih luas untuk belajar. Teknologi pendidikan yang diwujudkan dalam media pembelajaran diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan dengan pembelajaran yang lebih bervariasi dan menarik.

Kali pertama media hanya dianggap sebagai perlengkapan/alat bantu mengajar pendidik, (teaching aids). Namun karena pendidik terlalu memusatkan perhatiannya pada alat bantu visual yan g dipakainya sehingga ia kurang memperhatikan aspek disain, pengembangan pembelajaran (instruction), dan evaluasinya. Pada pertengahan abad ke-20 perkembangan selanjutnya adalah audio visual atau visual aids dikenal dengan AVA. Dengan adanya AVA maka pembelajaran untuk peserta didik di samping dapat dilihat juga dapat didengar.

Untuk memanfaatkan alat bantu tersebut, Edgar Dale bahkan mengklasifikasikan pengalaman belajar menurut tingkat dari yang paling kongkrit ke yang paling abstrak. Dimulai dari verbal, simbol visual, visual, radio, film, TV, wisata, demonstrasi, partisipasi, observasi, dan pengalaman langsung.

Namun jika kita kembali pada ikatan emosi dan persepsi, media pembelajaran yang berbasis multimedia belum mampu mengakomodasi dua aspek tersebut. Mungkin dalam waktu singkat peserta didik mampu menerima dan mengingat materi yang diberikan. Namun apakah pendidikan kita hanya berlaku untuk masa singkat saja?

Singkatnya, hanya guru yang bisa membawa ikatan emosi dan persepsi dalam pembelajaran di kelas. Karena pada dasarnya manusia akan lebih mudah mempelajari sesuatu dengan bermula dari dua aspek tersebut. Maka seharusnya pendidikan karakter yang sekarang gencar dibicarakan lebih cocok jika diterapkan pada guru terlebih dahulu. Atau mungkin memang kita harus kembali ke model konvensional dalam pembelajaran. (Ayu Ahsanu Amala)

Baca Juga

Ngasal Usul

Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *