> Edisi Khusus > #1 > Mazhab Masa Depan

Mazhab Masa Depan

COBA sejenak kita berpikir liar. Apa jadinya bila Muhammad hidup di abad 21, lalu Tuhan menurunkan wahyu kepadanya. Bisa jadi Muhammad abad 21 adalah seorang pebisnis yang tengah makan siang di sebuah kafe. Lalu muncul pesan di akun Line gawainya atas nama Jibril, “Iqra!

 

Muhammad kebingungan, lalu membalas. “Siapa ini? Saya sudah bisa membaca. Apa mau anda?”

 

Jibril yang diperintahkan Tuhan menyampaikan wahyu kesal. “Kau belum membaca! Kau hanya mengeja! Aku diutus Tuhan untuk menyampaikan wahyu kepadamu.”

 

Muhammad tertegun. Obrolannya dengan Jibril ia capture screen, lalu dibagikan ke grup rekan-rekan bisnisnya. Bukannya mendapat pencerahan, Muhammad mendapat cercaan. Tapi Muhammad kadung percaya, beriman. Lewat Line, wahyu-wahyu akhirnya turun selama 23 tahun lamanya.

 

Bisa jadi, tidak akan ada tradisi menghafal kitab suci seperti yang sampai sekarang terjadi. Memori gawai sudah cukup ampuh menyimpan berkas wahyu. Memori manusia terbatas.

 

Mohon jangan mendakwa keliaran berpikir tadi sebagai penistaan agama. Itu cuma ilustrasi, betapa berbedanya zaman Muhammad dulu – abad ketujuh – dengan era Donald Trump kini (Kalau Muhammad masih hidup, Donald Trump bisa jadi tokoh antagonis setara Abu Jahal atau Abu Lahab).

 

Di zaman Muhammad abad ketujuh belum ada kapitalisme cetak, kotak kaca ajaib alias televisi, gawai canggih, gincu merah merona, Facebook, Instagram, Line, Opick, Tere Liye, Felix Siauw, Oki Setiana Dewi, Fatin Shidqia, Ahok (eh).

 

Ekspresi keislaman yang ditunjukkan jelas akan berbeda. Budaya populer yang dibawa Hollywood, Bollywood, dan belakangan Hallyu, memengaruhi cara berpikir – dan bergaul – umat Islam.

 

Pasca film Ayat-Ayat Cinta (Hanung Bramantyo, 2008) tayang di bioskop misalnya. Para muda-mudi Islam tiba-tiba dikenalkan dengan ekspresi asmara yang ngislami. Pasti, perkataan ulama-ulama terdahulu tentang larangan mendekati zina, dan ulama-ulama populer terkini tentang larangan pacaran, tak lagi digubris. Kaum urban terutama, bisa mengekspresikan asmara dengan cara yang ngislami. Bukan zina, lho!

 

Tapi jangan sangka para muslimah akan meniru model pakaian Maria dalam film yang diangkat dari novel Habiburrahman El Shirazy ini. Yang muncul kemudian, adalah pertempuran (atau aliansi?) budaya Barat dan Timur dalam tubuh perempuan. Leher ke atas terbalut kerudung. Leher sampai pusar bisa memakai kemeja atau kaos lengan panjang. Yang pasti bukan tank top. Sementara untuk  bawahan, celana jins jadi pilihan hits. “Aku bisa bertakwa sekaligus gaul,” kata para muslimah abad 21.

 

Di ruang maya, para ulama konvensional kelabakan. Muncul “ustaz” baru yang mudah ditemui dan diminta fatwanya. Namanya Syeikh Google. Kepada Syeikh Google, umat Islam bisa bertanya apa pun, di mana pun, kapan pun, walau dengan akurasi jawaban yang masih sangat bisa diperdebatkan. Ekspresi keislaman baru juga muncul di kalangan yang sering dianggap konservatif dan radikal. Para perempuan bercadar kini tidak malu-malu berswafoto mengenakan penutup wajah mereka. Ambil gawai, bergaya, jepret! Unggah ke Instagram.

 

Yang barangkali paling terasa adalah pilihan lagu yang dinyanyikan para musisi ketika Ramadhan tiba. Bukan hanya Rhoma Irama, Bimbo, atau Opick yang berhak menyanyikan lagu religi. Ungu, Kangen Band, Wali, bahkan Syahrini yang gemar dugem itu, juga memiliki hak secara konstitusional untuk menyanyikan lagu religi. Sekolot apapun beberapa golongan Islam mengharamkan musik, label halal transparan akan terus menempel di album-album para musisi.

 

Itu kalau kasusnya musik-musik pop yang terkena pengaruh islamisasi. Di solo lain lagi. Ada sebuah kelompok pecinta selawat yang terpengaruh budaya populer dalam mengekspresikan keislaman mereka. Selawat, puji-pujian dan salam kepada Muhammad, tak lepas dari jerat budaya populer.

 

Oh Muhammad, betapa kami ingin dirimu melihat keadaan dunia sekarang. Ah, sebaiknya jangan. Biarlah zaman ini menjadi milik ustaz, kaum, dan umat penganut mazhab Islam Pop.

 

Akhirnya, kami hanya bisa mengingatkan kepada jamaah, terutama untuk diri kami sendiri. Sudahkah ibadah anda ngepop hari ini?

 

Redaksi [*]


 

sampulEditorial                      : Mazhab Masa Depan

Laporan Khusus       : Hijab dalam Pergolakan Makna

Laporan Khusus       : “Wajah” Baru di Ruang Semu

Laporan Khusus       : Maniak Selawat Bernama Syekhermania

Infografis                    : Perkembangan Islam Pop di Indonesia

Catatan Kentingan   : Islam dalam Kepungan Budaya Pop

Baca Juga

Guru Besar Imajiner

Oleh: Satya Adhi   BENEDICT RICHARD O’GORMAN ANDERSON. Seorang profesor cum indonesianis lulusan Universitas Cornell, Amerika Serikat. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *