> Catatan Kentingan > Masuk Itu Enak
Gambar: Adhy Nugroho/LPM Kentingan

Masuk Itu Enak

 

Oleh: Udji Kayang Aditya Supriyanto

 

Aktivisme mahasiswa kerap terintip lewat sastra. Kita menjumpainya dalam novel serius, novel pop masa lalu, dan (sayangnya) juga novel picisan. Kita pantas mengingat Leila S. Chudori, yang sering memunculkan aktivisme mahasiswa di novelnya, terutama Pulang (2012) dan Laut Bercerita (2017). Di Pulang, aktivisme mahasiswa tidak terlalu signifikan, pusat perhatian masih kepada eksil politik pascaperistiwa ’65. Laut Bercerita lebih menunjukkan perhatian penuh pada aktivisme mahasiswa ketimbang novel-novel Leila terdahulu. Novel itu berpusat pada pergerakan mahasiswa Jakarta dan Yogyakarta menjelang ’98.

 

 

Setelah novelnya usai, Leila menulis, “meski ini adalah sebuah novel yang berarti penciptaan fiktif jagat baru, saya tetap mengakui segalanya terinspirasi dari kisah yang mereka ceritakan pada saya. Tanpa mereka, novel ini tak akan bernyawa.” Mereka yang dimaksud Leila adalah tokoh-tokoh pergerakan di masa lalu, yang ia wawancarai dalam rangka riset novelnya. Beberapa nama yang muncul di Laut Bercerita mudah kita tebak berasal dari nama-nama yang nyata, yang pernah hadir di dunia kita. Sisanya, yang tidak terlalu penting, nama-nama tetap dipertahankan, termasuk kampus yang kalian cintai: universitas di sebelah kebun binatang, yang selalu bersorak saat mendapati peringkatnya masuk sepuluh besar, namun tak bisa memastikan kultur intelektual dan literasinya beres.

 

 

“Pertanyaan yang kelak kusadari menjadi titik perputaran hidupku yaitu: mengapa aku memilih kuliah di Yogya dan bukan di UNS.” Tentu, itu pertanyaan retoris belaka. Kasih Kinanti, yang melontarkan pertanyaan itu pada Biru Laut, tokoh utama di novel Leila, lalu berujar, “kamu harus bisa membedakan mereka yang bermulut besar, omong besar, dengan mereka yang memang serius ingin memperbaiki negeri ini.” Percakapan itu terjadi berlatar tahun 1991, dan hari ini, lebih dari dua dekade kemudian, pernyataan Kinan masih tetap relevan. Namun, kampus sebetulnya bukan acuan utama aktivisme, melainkan aktor-aktornya. Di Laut Bercerita, aktivisme mahasiswa menggunakan nama Winatra, yang kita curigai merujuk Partai Rakyat Demokratik (PRD).

 

 

Winatra dalam novel Laut Bercerita dan PRD sama-sama dituduh penerus Partai Komunis Indonesia (PKI). Padahal, baik partai maupun ideologinya sudah lama bubar. Y.B. Mangunwijaya keheranan, “ah mosok anak-anak lucu ndemenakake ini komunis? Komunis dalam pengertian masyarakat ramai jangan diartikan penganut filsafat Marx atau teori politik bolsyewisme, leninisme, stalinisme, maoisme atau aiditisme, tetapi penjahat buas ganas kakeknya iblis yang oleh aparat harus diinjak sampai mampus seperti coro atau ditembak klenger (tak berkutik) seperti macan kumbang.” Kita bisa menjumpai esai lengkap Romo Mangun ihwal PRD di buku Politik Hati Nurani (1997).

 

 

Sebagaimana Laut Bercerita yang menekankan aktivisme mahasiswa pada aktor (berikut kapasitas intelektualnya), novel-novel Dono pun tidak menekankan pada wadah organisasi. Aktivisme mahasiswa, di keduanya, dilandasi kultur literasi. Aktor aktivisme mahasiswa di sana sudah sangat akrab dengan membaca dan menulis. Di Laut Bercerita misalnya, mereka membaca teks-teks Ernesto Laclau (bukan Hasan Al-Banna). Teks-teks sastra pun tak lupa mereka lahap sehari-hari. Inilah yang sulit dilakukan oleh para aktivis mahasiswa romantik (yang utopianya selalu ingin mengulangi kesuksesan masa lalu: utopia kok masa lalu sih?) yang biasa mewadahkan diri dalam organisasi ekstenal.

 

 

Mengapa Laut Bercerita dan novel-novel Dono yang semuanya mengambil latar aktivisme mahasiswa di bawah rezim Orde Baru tak memunculkan organisasi eksternal kampus? Kita menjumpai komentar aktivis mahasiswa semasa Orde Baru pada majalah Tempo nomor 41 tahun IX, 8 Desember 1979. Ihwal organisasi mahasiswa luar kampus, seumpama Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Jo Rumeser menyatakan, “sudah tidak pada zamannya; ormas tak bisa lagi menampung aspirasi mahasiswa.” Reni Patirajawane bersikap lebih keras, “organisasi ekstra-universiter memecah belah persatuan mahasiswa.”

 

 

Kecenderungan itu diakui sendiri oleh aktivis organisasi eksternal, misalnya Wem Kaunang, Ketua Presidium Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) periode 1977-1979. “PMKRI sudah out dari kampus sejak 1971. Untuk menghindarkan nafsu kompetisi tak sehat sesama organisasi luar kampus,” jelas Wem. Masih dari artikel yang sama, tersebutkan bahwa organisasi eksternal, meskipun ‘masuk’ kampus, hanya teriak-teriak soal negara dan lalai mempersoalkan kekurangan yangg lebih dekat. “Kekurangan buku dan dosen tidak harus disuarakan keras-keras,” aku salah satu aktivis. Maka, terang saja sampai hari ini masih banyak dosen-dosen tak kompeten dan ketersediaan buku yang menyedihkan di kampus-kampus kita.

 

 

Namun, yang di luar selalu ingin masuk, dan organisasi eksternal itu seperti penis. Mereka penis yang tujuannya ingin memasuki vagina kampus. Untuk masuk ke vagina, penis mesti benar-benar ngaceng, benar-benar tegang, pantang loyo tak bertenaga. Penis juga mesti bersaing dengan penis-penis lain yang bertujuan pada vagina yang terbatas. Satu vagina bisa diincar sampai lima penis berbeda. Penis yang berhasil masuk vagina kampus biasanya cuma maju-mundur ena-ena sendiri. Kita mesti ingat, penis tak selalu memuncratkan mani dalam vagina, untuk menghamilinya, dan melahirkan perubahan. Penis kadang hanya mau enak doang, ogah bertanggung jawab menghasilkan. Sedang, penis-penis yang kalah saing dan tidak kebagian masuk vagina kampus itu paling onani sendiri. Mungkin, begitulah yang terjadi pada organisasi eksternal kita hari ini. []

 

 

Udji Kayang Aditya Supriyanto

Esais cabul dan kolektor majalah dewasa

 

Edisi Khusus III/Desember/2017 Organisasi Ekstra Kampus (Belum) Mampus

Editorial   : Seruan Aksi untuk Fahri

Laporan 1 : Organisasi Ekstra Kampus Enggan Mampus

Laporan 2 : Banyak KAM(M)I di Kampus Kita

Laporan 3:  “Kalau Mau Jadi Rektor, Masuk HMI Saja!”

Opini        : Masuk Itu Enak

Opini        : Mahasiswa-mahasiswi Kurang Apresiasi

Baca Juga

Menjadi “Petruk” Kekinian

  PETRUK. Ia mungkin sudah jadi istilah asing. Padahal “Petruk” bukan cuma sebuah nama. Ia …

Satu komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *