> Catatan Kentingan > Opini > Mahasiswa Dilarang Mendebat!

Mahasiswa Dilarang Mendebat!

Teruntuk Na’imatur Rofiqoh, penanya yang tidak terpilih oleh moderator dan mahasiswa non-BEM lainnya yang tidak diberi kesempatan bicara pada saat Debat Capres dan Cawapres BEM UNS 2016, Senin lalu, aku salinkan puisi Goenawan Mohamad berikut:

“Di bawah petromaks kelurahan mereka menemukan liang luka yang lebih. Bayang-bayang bergoyang sibuk dan beranda meninggalkan bisik. Orang ini tak berkartu, ia tak bernama. Ia tak berpartai. Ia tak bertanda gambar. Ia tak ada yang menangisi, karena kita tak bisa menangisi. Apa gerangan agamanya?”

(Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum, 1971)

***

Puisi Goenawan Mohamad (GM) tersebut dimuat di buku 70 Puisi, yang terbit dalam rangka 70 tahun usia GM, tahun 2011 lalu. Buku itu kutenteng berjalan ke lokasi Debat Capres dan Cawapres BEM UNS 2015, pelataran Masjid Nurul Huda. Awalnya, aku ragu, datang atau tidak. Dari awal aku sebetulnya sudah mengira kedatanganku, mahasiswa yang bukan anak BEM ini, tidak terlalu penting di acara tersebut. Namun, untuk meneguhkan keyakinanku, aku memutuskan datang saja.

Sepanjang acara debat berlangsung, aku duduk bersama beberapa kawan di taman depan Masjid Nurul Huda, di atas rumput hijau bertabur guguran bunga Angsana. Aku memilih tidak duduk di kursi merah khas resepsi pernikahan itu, bagiku terlalu mewah. Menempatkan diri di tepian kerumunan tidak menghalangiku untuk menyimak apa-apa saja yang dibicarakan di acara itu. Justru, di luar kerumunan aku bisa lebih fokus. Meski disambi membaca 60 (dari 70) puisi GM saat itu.

Debat Capres dan Cawapres BEM UNS 2015, Senin (2/11), dibuka dengan perkenalan dua pasang Calon Presiden dan Wakil Presiden (Capres dan Cawapres) BEM UNS periode depan. Dua pasang capres dan cawapres BEM UNS tersebut ialah Nurdin Hidayatullah-Muhammad Abdullah Azzam dan Doni Wahyu Prabowo-Wildan Wahyu Nugroho. Selain perkenalan, moderator juga berbasa-basi dengan kedua pasangan calon sebelum masuk sesi pertama.

Di sesi pertama, kedua pasangan capres dan cawapres digelitiki (bukan dibantai) oleh para panelis. Aku merasa pemilihan panelis kurang serius, mestinya panelis yang dipilih adalah mereka yang punya sikap kritis terhadap BEM UNS. Sebetulnya ada beberapa dosen yang kurang nyaman menyaksikan ulah BEM UNS yang jauh dari peran intelektual, tapi mereka tidak diundang. Beberapa budayawan di Kota Surakarta pun demikian, mestinya merekalah yang diundang untuk menguji wawasan para capres dan cawapres ihwal isu kota ini. Mengapa isu kota penting? Ya, biar BEM UNS sembuh dari arogansinya. Pikirnya BEM di kota kecil yang jauh dari pusat pemerintahan bisa mengatasi isu-isu nasional? Mengutip Asmuni, pelawak Srimulat, “hil yang mustahal!

Sebetulnya salah satu panelis sudah mengarahkan obrolan ke isu kota, mungkin ia tahu sebelum debat para calon belajarnya isu nasional. Biar kecele. Sayang pertanyaan yang dilontarkan panelis tersebut lebih bernada sentimental, dari getaran suaranya saja terasa, ketimbang kritis. Meski kurang memuaskan, semoga ke depan BEM UNS lebih peduli pada kota, lantaran di situ mereka punya kesempatan memberi manfaat, daripada memaki-maki Jokowi tanpa henti. Mari kita doakan, tetapi jangan sekarang, nanti saja kalau sudah selesai baca tulisan ini. Biar khusyuk.

Debat Tanpa Debat

Sesi kedua, masing-masing pasangan calon boleh bertanya, mengkritik, dan saling menyerang satu sama lain. Saat sesi berlangsung, sepertinya para pemirsa sedikit yang memerhatikan. Sampai-sampai moderator dengan percaya diri menegur para pemirsa, “jangan bicara sendiri ya!” Tidak kok, mereka bicara dengan teman-temannya, bukan bicara sendiri. Aku merasa sikap pemirsa wajar-wajar saja, debat antara kedua pasang calon pun hambar, sama sekali tidak tajam. Sampai situ, aku sudah yakin untuk golput, sebetulnya. Tapi aku bertahan melawan kebosanan di sana, menanti sesi terakhir, siapa tahu berkesempatan bicara.

Sesi terakhir, sesi yang ditunggu-tunggu, penanggapnya bukan dari panelis atau kubu lawan, namun dari pemirsa yang datang. Aku meminta Na’imatur untuk ikut bertanya, biar panas. Aku sendiri, berencana mengajukan pertanyaan bagi kedua pasangan calon di termin kedua saja, setelah Na’im. Tapi aku kecewa. Pertama, termin kedua tidak ada. Panitia beralasan waktunya mepet, keburu salat Magrib katanya. Tahu begitu, mengapa sesi sebelumnya yang hambar malah diberi waktu lama? Entahlah. Alasan kedua, hanya dua orang yang diberi kesempatan menanggapi. Aku hendak menyoal pemilihan dua orang penanggap tersebut.

Konon, penanggap panitia pilih dari mereka yang tunjuk tangan, dipilih dua yang paling cepat. Penanggap pertama agaknya masih bersaudara dengan Barry Allen, alias The Flash, pahlawan super yang punya kecepatan kilat itu. Soalnya penanggap pertama dipilih panitia secara kilat, aku saja belum sempat tunjuk tangan saat itu. Detik-detik pemilihan penanggap kedualah yang aku perhatikan, dan bodohnya, aku sampai lupa tunjuk tangan (lagipula sudah tak ada kesempatan).

Aku duduk di sebelah selatan Na’im, dan aku-Na’im-moderator bisa ditarik garis lurus. Oleh karenanya, mudah bagiku mengamati gelagat moderator. Aku menyaksikan mata moderator 4-5 kali menatap Na’im, tetapi ketika ia bilang, “aduh, siapa lagi ya,” jarinya bergerak ke arah dua orang di belakang, kecuali Na’im, padahal ia duduk agak di depan. “Lha matane apa ora weruh?”kesalku. Akhirnya, moderator malah memilih kalangan BEM, tepatnya presiden BEM FISIP UNS, untuk jadi penanggap kedua. Saat itu juga, aku langsung beranjak dari kursi, tertawa terbahak-bahak, dan meninggalkan lokasi acara.

Aku sedih. Aku pikir cuma Jokowi saja yang tak mau mendengarkan suara rakyat, ternyata BEM pun ogah mendengar suara orang-orang di luar kalangan BEM. Ihwal mendasar saja, yakni mendengar suara mahasiswa, mereka sudah gagal. Pantas bila di luar sana beredar plesetan BEM = Badan “Eksklusif” Mahasiswa. Jadi, oleh karena aku menjadi bagian dari mereka yang tak diberi kesempatan bicara dalam Debat Capres dan Cawapres BEM UNS 2015, bukan hal salah bila aku menulis di sini bukan?

Kembali ke puisi GM, Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum, mungkin kita akan menjadi orang-orang yang terbunuh di sekitar Pemira. Bukan dibunuh raganya, tapi suaranya. Suara kita dimatikan oleh mereka yang mati nalarnya. Suara yang kumaksud tentu bukan hak pilih, melainkan sikap kritis yang diekspresikan. Makanya, jangan mengkritik, jangan menulis, jangan berpikir. Biar politik kampus jadi teduh, sejuk tanpa bara, seteduh ukhti-ukhti yang hadir di Debat Capres dan Cawapres BEM UNS 2015. Lha nggih.

Udji Kayang Aditya Supriyanto

Mahasiswa Sosiologi Universitas Sebelas Maret Surakarta

Pemerhati Politik Kampus

Baca Juga

Duhai Maru, Rektor Kalian Sesungguhnya adalah…

Oleh: Satya Adhi   DUHAI DEDEK mahasiswa baru (maru) yang masih suka berhenti di bangjo …

12 Komentar

  1. naimatur itu siapa? begitu saja muncul, bikin ga enak baca saja

  2. mas mas, klo lpm kentingan adalah media yg cerdas, tulisan ini blom pantas di publikasikan #nyoblosbarengkibo

    • Setiap orang bebas mengekspresikan pikirannya masing-masing. Begitu juga dengan sebuah organisasi/lembaga pers, punya kriteria masing-masing untuk setiap tulisan yang pantas/tidak pantas dipublikasikan. Saling menghargai saja setiap perbedaan yang ada 🙂

  3. “….agar bem uns sembuh dari arogansinya”. Tulisan yang sangat bangus.

  4. Pengkritik 'Pemerhati Politik Kampus'

    So much feelings in this writings, i see no objectivity but only a fews.

    You claimed to be a Political Observer and you tryna buid an image that you’re influenced by some Indonesian Oldskool Poets, but your writings more likely a diary of Jonruian Political Observer. Even Jonru might be more objective than you, homie.

    “Debat Capres dan Cawapres BEM UNS 2015” is BEM’s event? You gotta be kidding us bruh, or i guess, you HAVE NO IDEA for what you’ve wrote. The event was held by KPU, y’know? LOL. Maybe you should crosschecking your writings before you post it, so you won’t get ashamed if your writings are wrong.

    • Meskipun aku tak paham bahasamu, karena aku cinta bahasa Indonesia. Apakah aku menyebut Debat Capres dan Cawapres BEM UNS 2015 adalah acara BEM, wahai Jonru? Aku menyoal bahwa BEM tak memberi kesempatan bicara bagi mahasiswa non-BEM, dan yang berwenang memilih siapa yang berbicara atau tidak di situ adalah moderator yang notabene “Presiden BEM FEB UNS”. Belajar logika sudah sampai mana? Baca buku sudah sampai halaman berapa?

    • wah, ada orang asing baca tulisan mas udji yang bahasa Indonesia dan paham og le, sangar tenan.
      Jujur, aku gak pinter bahasa Inggris tapi sedikit paham lah maksud komen yang hebat ini.
      First, are you objective too? (lo, bahasa Inggrisku jelek)
      Are you BEM???
      haha

  5. yang saya bingung, kenapa debat capres bem uns bukan di area uns yg lbh umum, student center mungkin, atau GOR, atau stadion sekalian kalai ‘yakin’ massanya akan banyak. kenapa malah di situ?

  6. Maksude piye bro

  7. publikasinya debat BEM kemarin kurang ‘anu’yaa. Saya sbg mahasiswa biasa aja sama sekali nggak tau ada acara debat ginian. Saya kan jadi bingung mau nyoblos mana—
    desain poster acaranya ‘imut’ banget
    Tak pikir poster gede di depan kampus itu malah acara stand up comedy :DD

    /beda topik /anakdesainyangmencobaikutankomen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *