> Lha Nggih > LULUS

LULUS

 

“JANGAN MALU-MALU SEBAGAI LULUSAN UNS. Anda harus punya daya tawar yang tinggi di pasar kerja, terutama bagi yang lulus dengan predikat cumlaude. Saat ini lulusan UNS banyak yang menduduki posisi-posisi penting di pemerintahan dan swasta,” kata Rektor UNS, Ravik Karsidi, saat acara wisuda April lalu. Perkataan Rektor tercuplik di Solopos edisi 25 April 2017. Bukan acara wisudaku, tentu. Judul berita tercetak besar-besar: Tak Ada Alasan Malu Jadi Lulusan UNS.

 

Aku jadi ingat peristiwa suatu malam hampir lima tahun silam. Jantung menjelma peserta terdepan lomba lari jelang garis akhir, seperti tetap tidak siap saat jari-jari mengetik nomor peserta SNMPTN Tulis di kolom pengumuman. Sekian detik, layar komputer memunculkan jurusan dan di mana aku diterima: Ilmu Komunikasi – Universitas Sebelas Maret. Meski bukan universitas pilihan pertama, aku girang juga waktu itu. Ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri adalah perkara hidup dan mati ratusan ribu siswa SMA se-Indonesia tahun demi tahun. Malam itu, aku bergabung dengan segelintir remaja yang terhisap euforia prestis berkuliah dan hidup bermahasiswa. Lagipula, saat kakak-kakak kelasku yang telah merasai kelas perguruan tinggi dulu sempat bertandang dan berbagi cerita ke sekolah, konon itu jurusan Ilmu Komunikasi paling bagus seantero negeri.

 

Kaki melangkah penuh jumawa memasuki gerbang kampus. Dadaku dipenuhi oleh degup-degup heroisme menjadi mahasiswa: kelas-kelas seru, tas-tas ringan tak lagi berjubel buku (cukup berisi lembaran kertas kosong, seujung pena, sebatang gincu), jas almamater ndog bebek, pembela hak kaum marginal, terpinggirkan nan proletar, dan tentu saja: tak lagi wajib berseragam! Dosen-dosen pun memberi penegasan yang wajib disambut rasa bangga oleh kami mahasiswa Komunikasi seangkatan: kami adalah bagian dari mahasiswa-mahasiswa Komunikasi terbaik di Indonesia!

 

Kelas demi kelas, aku disuguhi bahan materi sama yang diunjukkan dosen pada kakak tingat dari kakak tingkat dari kakak tingkat kami. Tugas-tugas tak perlu perlu daya pikir keras dan buku-buku. Sangu laptop, koneksi internet, dan mengerjakan dua jam sebelum tenggat masih selamat dan dapat huruf A di akhir semester. Ada dosen yang hobi mengajar dengan membawa beberapa lembar kertas ketikan, lalu kelas berlangsung dengan mahasiswa mencatat apa yang didiktekan oleh mulut tuanya. Kawan-kawanku lelaki sempat pula sebal karena cuma mahasiswa perempuan saja yang bisa sampai pada nilai A, kalau berhadapan dengan dosen Anu. Sudah kayak H. B. Jassin saat jadi dosen saja, langsung hilang akal bergitu berhadapan dengan lirikan tajam mahasiswi cantik!

 

Ah, aku jadi ingat, ada salah satu dosen Advertising (bukan Periklanan, lho) yang mutung tak mau mengajar karena bocah-bocah kelasku waktu itu telat banget (atau memang tidak berkehendak hadir) ke kelasnya. Dosen cantik itu sudah datang, baru seujung kuku mahasiswa di hadapannya. Aku tentu tak menyaksikan langsung kejadian itu, hanya mengikut kasak-kusuk seru di grup Whatsapp. Meski mahasiswa Komunikasi kelasku itu tak bisa dikatakan berjiwa literer semua, tapi kami sepakat dosen yang satu itu tidak becus mengajar. Penjelasan yang dia ajukan tak pernah meyakinkan dan mencerahkan. Malah, banyak yang mengaku tak ada bedanya kita-kita yang masih mahasiswa dengan dirinya. Dia seperti tidak pernah siap menghadapi kelas. Aduh.

 

Untung saja waktu itu kami cuma bolos dan tak mau hadir di kelasnya, bukan demo menuntut reformasi akademik sebesar-besarnya, sampai akar-akarnya. Bisa anjlok nanti wibawa UNS yang menuju universitas kelas dunia. Kami tidak seedan Ranchhordas Shyamaldas Chhanchad alias Phunshuk Wangdu di film 3 Idiots (2013) itu. Dia pukul habis-habisan itu kebebasan akademik di ruang kelas, lha pas lulus, dia jadi mahasiswa terbaik.

 

Ada juga mata kuliah yang rasanya libur terus, saat yudisium, eh, nilai sudah bagus. Aku juga mengingat saat mesti menuruti mau dosen untuk menandatangani daftar hadir rangkap entahlah pada satu waktu. Aksi tipu-tipu agar mahasiswa dan dosen rajin hadir di kelas terlibat diskusi intelek seru! Kamu kira aku marah? Tidak lho. Aku ikut senang karena dosen dengan sengaja dan bersuka cita merestuiku melewati jam bebas tanpa mata kuliah bermutu.

 

Di buku Asmara Bermata Bahasa (2016), aku sempat menulis esai berjudul Protes Keras dari dalam Kelas. Aku menulis dengan heroik: “Sejarah kampus Indonesia bukanlah sejarah ruang kelas. Ia tidak punya martil ala Galileo yang mati membela kebebasan akademik. Sejarah kampus terjadi di jalan-jalan dengan teriakan berbagai tuntutan atau tempat lain.” Kuteruskan: “Kebebasan akademik nyata-nyata dipandang sebagai hal yang sangat berlainan bahkan tidak penting jika dibandingkan dengan urusan politik praktis, moralitas, dan sebagainya yang terjadi di luar tembok kelas.”

 

Apa yang kumaksud dengan kebebasan akademik itu tentu saja kelas yang seru dengan obrolan-obrolan isu komunikasi mutakhir “yang mampu menciptakan budaya akademik dan menumbuhkan gairah belajar” dan seterusnya yang berkebalikan dengan kejadian realis yang telah aku alami.

 

Tahun demi tahun, semester pertama menjelma semester tua. Kehidupan bermahasiswa tenang-tenang dan senang-senang saja rupanya. Nilai diobral saja. Cumlaude tak pernah urusan rampung ratusan buku Ilmu Komunikasi dan skripsi apik tak berjudul “Pola Komunikasi…” yang mestinya sudah dibuang di tempat sampah di depan Jurusan. Kami yang sudah hapal dengan logat hidup berkuliah ingin lekas kukut menyandang gelar sarjana.

 

Tapi, ada batu sandungan terbesar mahasiswa: skripsi.

 

Aku dan empat kawan satu organisasi iseng bikin grup Whatsapp berjudul Skripsi Indah, berganti Skripsi Tidak Indah, sampai Skripsi Enyahlah, sebelum sampai Im Naim Skripsi!!! dengan huruf kapital semua. Kami berbagi sambatan, membagi nasib sesama mahasiswa yang sedang rusuh berhadapan dengan skripsi. Aku jadi tahu dosen-dosen pembimbing yang luluh oleh gincu dan tatapan sendu mahasiswi, tak mau menerima konsultasi mahasiswa karena capek, muntab karena mahasiswa yang tak tahu teori ini atau itu (Lha mbiyen sing ngajar sopo? L), menyuruh mahasiswa lanjut terus saja nggarapnya tetapi habis dibantai saat sidang… Juga larangan melanjutkan penelitian karena “Akan mengganggu hubungan kita dengan media Anu.” Beruntung mereka yang telah dekat dengan dosen. Topik skripsi bukan keahlian si dosen saja bisa dilolos dan segera diluluskan. Teman-teman yang aku tahu mereka cerdas dan mau membaca saja akhirnya bilang, “Yang penting lulus,” menghadapi peristiwa akademis semester akhir ini.

 

Dosen pembimbingku sendiri hampir tak mengenalku. Obrolan di ruangannya tak pernah terjadi lebih dari lima menit. Dari konsultasiku dengan teman-teman satu bimbingan, aku beroleh wejangan, “Tenang aja. Gak akan dibaca kok. Dia pasti lupa dulu kamu sudah sampai mana.” Itulah sebab utama akhirnya aku bisa segera ujian meski sangat terlambat dibanding teman-teman seangkatan yang lebih tabah. Ujianku berlangsung dalam durasi biasa saja, 20 April 2017, setelah seminggu sebelumnya dibatalkan pada hari H sebab salah satu penguji mau melayat—ya, melayat. Alasan yang akademis banget, to. Ini aku cuplikkan catatan harianku bertanggal 27 April, seminggu setelah ujian skripsi terjadi:

 

Bagi para penguji, skripsiku tentu bencana. Mereka tak seorang pun yang membacanya habis dengan seksama dan menanakan hal-hal yang sesungguhnya telah kutulis di skripsi. Bahasaku tak bisa diterima oleh ketiga penguji, dan menurut mereka aku harus merevisi sana-sini.

 

Revisi paling intelek-akademis tentu datang dari dosen termuda, […]: “Gunakan font TNR 12, dan kata pengantar terlalu panjang. Tak perlu mengucapkan terima kasih pada geng SMP, SMA, dan teman-teman grup Whatsapp karena secara akademis mereka tidak berhubungan dengan ini. Ini karya akademis, Mbak.. Jadi yang formal.” Penguji ini juga tak terima nama-nama penguji tak masuk dalam daftar terima kasih.

 

[Dosen ini] pasti sangat kesepian dan kurang membaca buku-buku hasil penelitian. Bagiku, kata pengantar adalah hak otoritatif penulis. Itulah satu-satunya tempat di mana dia bisa mengucap terima kasih atas bantuan2 yang secara langsung-akademis tak berkaitan dg karya akademis, tapi sangat berpengaruh, seperti cinta dari orangtua […]

 

Membaca skripsiku dari kata pertama sampai terakhir saja tak mau, bagaimana mungkin mereka merasa layak secara akademis menerima ucapan terima kasih?

 

Itu yang terjadi. Bagaimanapun, akhirnya aku lulus juga. Semasa mahasiswa, aku berhasil (cuma) tiga kali menulis di subrubrik Mimbar Mahasiswa Solopos, sekali di Gagasan, sekali di Tribun Jateng, berhasil menulis esai puanjang dan menang Sayembara Ahmad Wahib, Kompetisi Menulis Bahasa Indonesia FIB UNS, sudah menerbitkan buku sendiri, IPK cumlaude lagi—meski masih gagal termuat di Teroka, Kompas dan pasti jadi bahan ejekan Udji Kayang A.S.(U). Eh, dan semua itu bukan sebab sistem akademik UNS yang yahud, koleksi perpustakaan yang mahalengkap, atau dosen-dosen UNS yang canggih mumpuni saat mengajar di kelas, lho. Aku membanggakan banget, to, sebagai lulusan UNS! Eh, lho, apa UNS malah malu padaku?[]

 

 

 

Na’imatur Rofiqoh, alhamdulillah sudah lulus. Judul skripsi: Menjadikan Anak Indonesia (Analisis Wacana Konstruksi Identitas Anak Indonesia di Majalah Bobo Edisi Hari Kemerdekaan Periode 1975 – 1992), yang oleh dosen diminta diganti begini saja: Identitas Anak Indonesia di Majalah dengan judul dalam kurung yang sama. Katanya sebab ini skripsi. Tidak usah pakai judul aneh-aneh. Intelek banget to, dosenku.

Baca Juga

Dari Anak Bidik Misi: Kita Tahu Rasanya Digantungin

Oleh: Satya Adhi   SI DAB yang sudah kurus kering, kempot pipi, rambut menipis, akhirnya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *