> Kentingan > Kominfo Gelar Forum Standardisasi dan Audit Keamanan Sistem Elektronik di Solo Paragon

Kominfo Gelar Forum Standardisasi dan Audit Keamanan Sistem Elektronik di Solo Paragon

Forum Standardisasi (dewi ika - red.)

Kamis (28/6) bertempat di Solo Paragon, Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika , Direktorat Standardisasi Perangkat Pos dan Informatika menggelar  Forum Standardisasi dan Audit Keamanan Sistem Elektronik. Acara yang digelar mulai pukul 09.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB ini dihadiri kurang lebih 70 peserta yang merupakan delegasi dari kampus dan instansi yang berada di Yogyakarta dan Solo.

Acara dimulai pukul 09.00 WB yang diawali dengan sambutan dari pembantu dekan I FMIPA UNSdan dari direktur standardisasi perangkat pos dan Informatika yang kemudian dilanjutkan dengan acara inti. Adapun materi yang disampaikan dalam forum ini dibagi menjadi 4 sesi. Sesi pertama adalah “Tren Keamanan Informasi di Indonesia” oleh Teddy Sukardi, Ketua FTII. Dalam materinya, Teddy menyampaikan bahwa saat ini Indonesia merupakan ranking satu Negara penyerang system computer di dunia. “Jika suatu hari nanti Indonesia mendapat serangan hacker, serangan itu paling datangnya ya dari orang Indonesia sendiri, penyerang system keamanan computer di dunia ini setelah diselidiki ternyata kebanyakan berasal dari Indonesia”, ungkapnya.

Kemudian forum dilanjutkan dengan sesi kedua tentang Standard Keamanan Informasi oleh Hogan Kusnadi Lim selaku praktisi keamanan informasi.Setelah dipotong oleh acara Ishoma, forum dilanjutkan pukul 13.00 masuk sesi ketiga mengenai Audit Keamanan Informasi oleh Chandra Yulistiya, Wakil ketua Ikatan Auditor Sistem Informasi Indonesia.

Pada sesi terakhir sekaligus sebagai penutup, peserta forum dibuat terpesona dengan penampilan Hacking demonstration Sistem Keamanan Website dan MobilePhone oleh Raditya Iryandi, salah satu hacker muda Indonesia yang sudah masuk level hacker internasional. Dalam demonstrasi hacking ini Radit menekankan bahwa kebanyakan kasus pembobolan yang terjadi karena kesalahan orang memberikan password kepada sembarang orang dan memasang password yang relatif sama pada banyak account. (Dewi Ika)

Baca Juga

Festival Naskah Nusantara III di UNS Masih Berlangsung

Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *