> Jeda > Komedi Lapangan FH vs FKIP

Komedi Lapangan FH vs FKIP

 

Oleh: Adhy Nugroho

 

JURNALIS sekaligus novelis kawakan Britania, George Orwell, pernah secara menggelitik menyinggung penyelenggaraan kontes olahraga dalam esai singkatnya The Sporting Spirit (1945). “Aku selalu merasa kagum ketika mendengar orang-orang berkata bahwa olahraga dapat mempererat hubungan baik antar negara,” tulisnya. Secara lugu tapi nyinyir, ia menyebut Olimpiade Berlin tahun 1936 telah memicu kebencian antar negara.

 

Menurut Orwell, bukan sikap pemain yang berperan besar dalam konflik yang terjadi pada kontes olahraga. Peran besar justru hadir dari spectators – para pendukung.

 

Orwell benar. Selasa malam, 31 Oktober 2017 hal itu terjadi. Olimpiade Sebelas Maret (OSM) cabang bola basket yang diselenggarakan di GOR UNS ricuh. Para pendukung tim Fakultas Hukum (FH) dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) turun ke lapangan, saling pukul. Tak hanya di dalam GOR, kericuhan berlanjut di luar.

 

“Mengawali game, kami nge-chant biasa mendukung FKIP dengan sepenuh hati. Dalam posisi FKIP tertinggal 20-15, FH itu rasis sama FKIP dalam bentuk nge-fuck dan gerakan-gerakan tangan. Setelah itu FKIP menyamakan kedudukan menjadi dua puluh sama. Ketika FKIP sudah unggul 25-22 pihak hukum menanggapi dengan negatif. Pertandingan selesai, Hukum melempar botol, masuk ke lapangan, dan supporter FKIP turun ke lapangan,” ujar Hafidz Aulia Ardan, mahasiswa FKIP yang ada di lokasi kejadian.

 

Naufal Hilmi, mahasiswa FH yang ada di lokasi kejadian, punya versi cerita yang agak berbeda. “Jadi awalnya kita diejek sama anak FKIP. Kaya contoh FH tukang cabul, bokep. Kami semua emosi. Mulai dari situ kita (FKIP dan FH) balas-balasan. Setelah selesai pertandingan, ada yang melempar botol. Saya enggak tahu orangnya, tapi yang saya lihat sendiri, jujur, dari tribun Fakultas Hukum.” katanya.

 

Ia berhenti sejenak untuk memerlihatkan tangannya yang terluka. “Setelah itu saling lempar botol. Akhirnya dari FKIP maju ke tribun FH dan pecah di situ. Setelah itu dibubarin sama panitia, saya keluar. Teman saya ketemu sama anak FKIP terus pukul-pukulan. Sebagai temannya aku nolongin. Dia (anak FKIP) bawa bambu sama batu,” tambahnya.

 

Sekira pukul 20.00 WIB ketegangan di luar GOR masih berlanjut. Para pendukung tim FKIP menggerombol di sisi barat GOR, sedangkan pendukung tim FH ada di timur GOR. Satpam bekerja sama dengan panitia mulai mengatur strategi. Tujuan utamanya adalah mendamaikan kedua belah pihak. “Jangan sampai berlanjut [di luar kampus]. Karena tugas kami hanya mengamankan di area UNS,” ujar Saptono, Satpam UNS. Pukul 20.40 WIB diadakan rekonsiliasi. Dua perwakilan masing-masing kubu bersalaman. Bersepakat damai.

 

Pada gelaran OSM tahun ini, ricuh yang terjadi pada malam itu bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya, ricuh telah terjadi pada cabang sepakbola. Tokohnya pun masih sama: FKIP dan FH.

 

Sore itu, 21 Oktober 2017, Rizki Firdaus, mahasiswa FH UNS pergi menyaksikan pertandingan final cabang sepakbola antara FH dan FKIP. Ia pergi bersama temannya, seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Keseharan (STIKES) Aisyah Surakarta. Menurut Rizki, baku hantam antar pendukung terjadi persis di hadapannya. Saat itu, ia dan temannya duduk di tengah-tengah tribun, di antara pendukung FKIP dan FH.

 

“Di akhir, FKIP cetak gol jadi dua-kosong. Dan pencetak gol itu selebrasi di depan supporter FH. Anak FH makin tersulut. Ada yang ngelempar botol ke arah pemain, tapi enggak kena. Anak FKIP mulai ke tengah memperingati ke supporter FH. Supporter FH ada yang memprovokasi, ada yang maju ke tengah, sampai bersentuhan sama anak FKIP. Terjadilah baku hantam di situ,” kisahnya mengingat hari itu.

 

OSM adalah acara kontes olahraga mahasiswa dengan partisipasi dari sepuluh fakultas yang ada di UNS. OSM tahun ini mempertandikan lima cabang lomba, yakni sepak bola, bola basket, bola voli, bulu tangkis, dan catur.

 

Orwell telah menuliskan gagasannya mengenai olahraga hari itu, pun hari ini, yang kompetitif. Dia membandingkan permainan di green village, ketika tidak ada pariotisme yang dilibatkan, orang-orang bisa saja bermain hanya untuk bersenang-senang. Jadi berbeda ketika prestis mulai dipertanyakan. Karena pada saat itu, kata Orwell, Anda dan sesuatu yang lebih besar (pendukung) akan merasa tidak terhormat ketika Anda kalah.

 

Ya… kalau mau melulu dihormati, jadi bendera Merah Putih saja sana. He-he-he.[]

Baca Juga

Tren Konser Kekinian: “Dheke”, Ilmu, Amal

  Oleh: Umi Wakhidah   MUSIK Kampus enggak cuma genjrang-genjreng sambil nyanyi-nyanyi. Acara yang digelar …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *