> Kentingan > Ketika Foto Bercerita

Ketika Foto Bercerita

Salah satu karya Maulana Surya | sumber: http://gambaraphotography.com/index.php/en/gallery/gpa2012-essay-gallery/item/173-sekolah-kehidupan-anak-pedalaman-maulana-surya-tri-utama

Sekitar lima puluh orang memadati area Sharing Foto pada hari ketiga acara Pemeran Besar FISIP Fotografi Club (FFC) 2012 “Culinary: Cerita Rasa”, Minggu (25/11). Bertempat di Solo Grand Mall lantai 3, diskusi ini turut menghadirkan Hafidz Novalsyah (National Geographic) , Maulana Surya Tri Utama (Duta Gambara), Taufan Yusuf Nugraha (CHIP Foto & Video) dan Herka Yanis Pangaribowo selaku pembicara. Acara yang dimulai sekitar pukul 13.30-16.00 WIB tersebut menampilkan beberapa Slide Show Foto Essay dari para pembicara disertai pemaparan cerita dibalik foto-foto essay tersebut.

Taufan Yusuf Nugroho sebagai pembicara pertama menampilkan sebuah foto essay yang berjudul Sepenggal Cerita dari Tanah Flores yang menceritakan tentang kehidupan beserta budaya dan adat istiadat masyarakat di sana. Potret kehidupan masyarakat Flores di tanah tandus dan kering menjadi magnet pembuka acara sharing foto tersebut.

Materi dilanjutkan oleh Maulana Surya Tri Utama yang menampilkan empat buah foto essay. Masih bercerita tentang Flores, foto essay Maulana yang pertama dengan judul Para Perawat Pancasila becerita tentang toleransi antar umat beragama di sebuah sekolah di Flores. Lalu foto essay kedua yang menceritakan potret kehidupan anak-anak Reo di pedalaman Flores yang mengandalkan alam sebagai guru dalam memberikan ilmu pengetahuan. Masih di tanah Reo, foto essay ketiga Maulana dengan judul Tanah Harapan Para Pendatang menceritakan tentang para pekerja transmigrasi yang sebagian besar datang dari Bugis dan bekerja di tambang-tambang garam di sana. Jejak Peradaban Tanah Babi sebagai foto essay terakhir miliknya, menceritakan tentang penelusuran jejak-jejak kehidupan Pulau Babi yang kini sudah tidak berpenghuni.

Herka Yanis Pangaribowo sebagai pembicara ketiga menyajikan foto essay tentang Lokananta, pabrik piringan hitam tempat lahirnya musisi-musisi legendaris Indonesia seperti Waldjinah dan Gesang. Foto-foto Herka banyak menampilkan tentang koleksi-koleksi piringan hitam Lokananta, potret studio rekaman serta kondisi Lokananta yang sudah jauh berbeda dengan dulu.

Menyoroti kehidupan para petani tembakau, foto essay milik Hafidz Novalsyah menjadi foto essay terakhir yang ditampilkan dalam acara sharing foto ini. Foto essay yang diambil dari daerah-daerah penghasil tembakau seperti Medan, Deli Serdang, Temanggung, Kudus, Wonosobo, Klaten ,Madura dsb secara tidak langsung menyulut timbulnya pro kontra adanya fatwa haram tentang merokok. Pasalnya, menurut Hafidz ada tiga puluh juta orang yang menggantungkan hidupnya pada tembakau. “ Pasti banyak diantara kita yang risih dengan para perokok, termasuk juga saya. Tapi kita tidak bisa menyalahkan daunnya,” ungkapnya saat acara berlangsung.

Sharing Foto kemudian dilanjutkan dengan dua sesi tanya jawab untuk kemudian ditutup dengan foto bersama pembicara, panitia acara Pameran Besar FFC 2012, serta peserta diskusi. [] (Nurhayati)

Baca Juga

Festival Naskah Nusantara III di UNS Masih Berlangsung

Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *