> Jeda > Ketika Dekan Bergoyang

Ketika Dekan Bergoyang

Oleh: Muhammad Satya

Sayang, apa kowe krungu jerite atiku?

Mengharap engkau kembali

Sayang, nganti memutih rambutku

Ora bakal luntur tresnaku

Sekitar 40 mahasiswa sontak maju ke depan panggung ketika lagu tersebut dilantunkan. Diiringi kepulan asap rokok, mereka asyik bergoyang. Telunjuk di angkat, siku diangkat sedikit, pinggul digerakkan ke kiri dan kanan, sambil memasang wajah ketagihan. Seorang mahasiswa bahkan naik ke atas bahu kawannya. Laiknya konser dangdut ‘betulan’.

Siang itu, Rabu (18/11), tempat parkir Fakultas Hukum UNS menjadi arena dangdut sivitas akademikanya. Usai lagu Sayang, Dekan Fakultas Hukum Supanto naik ke panggung memberi sambutan. “Roknya mbok jangan segini, mbak,”katanya sambil memberi kode telapak tangan setinggi paha. Sontak para mahasiswa yang hadir pun tertawa. Para mahasiswinya hanya cengengas-cengeges.

Mbok pakai jarit aja. Biar goyangnya sedikit-sedikit,”lanjut Supanto sambil terus melihat dua penyanyi dangdut yang masih duduk di samping panggung. Guyonan Supanto belum usai rupanya. “Mereka itu belum 17 tahun ke atas. Nanti nggak bisa tidur.” Para mahasiswa yang hadir tertawa lebih keras lagi. Para mahasiswinya hanya cengengas-cengenges.

Meski menegur sang penyanyi –dengan celetukan guyon– saat sambutan, ternyata tak mengurangi gairah Dekan bertubuh mungil itu untuk ikut berjoget.

Lagu selanjutnya dimainkan. Malam Terakhir dari Rhoma Irama dan Rita Sugiarto. Supanto naik ke atas panggung. Masih mengenakan kemeja panjang kantoran berdasi. Tangannya digerakkan ke kanan, ke kiri. Kakinya sedikit dihentak-hentakkan mengikuti alunan gendang dangdut koplo yang khas.

Tak berselang lama, tangan Supanto dilekuk membentuk ular kobra. Pinggulnya tak berhenti bergoyang. Tangannya lalu sedikit ditekuk ke atas, sedikit berjongkok, lalu menggoyangkan pinggulnya. “Eeeeee, aaaaaa… Eeeee, aaaaa…” Para mahasiswa yang bergoyang di depan panggung berteriak dan mengikuti gerakan Dekan. Beberapa juga mengabadikan momen tersebut dengan berswafoto.

Ditemui usai bergoyang, Supanto mengaku pihak panitia tidak meminta izin kepadanya tentang penyelenggaraan dangdutan. “Kan tidak mungkin saya tiba-tiba menghentikan acara. Makanya tadi sambil guyon. Guyon-guyon (sambil) mengkritik,” ujarnya.

Supanto mengaku penyuka dangdut. “Wong ndeso kan gitu,” katanya sambil tertawa. “Mungkin karena saya suka dangdut, ya. Jadi sejak tahun kemarin ada dangdutan,” tutupnya sambil bercucuran keringat. Goyang terus, Pak!

Baca Juga

Berlebaran di Kampus

Oleh : Isnaini Khoirunnisa Kepada para mahasiswa, yang merindukan kampung halaman. Kepada dosen tak berperasaan, …

5 Komentar

  1. Anak fh yang suka dangdutan

    Coba diperhatikan lagi yah penulisan nama dekannya tolong di sertakan pak atau apa yang sedikit sopan

  2. Anak fh yang suka dangdutan

    Tolong penulisan pak supanto disertakan sengan panggilan pak atau apa , karena untuk kesopanan , terimakash

  3. Finally lagu wajibmu dinyanyikan sat.

  4. anak fisip yg suka dangdutan

    Udah benar kok, setau saya dalam kaidah jurnalistik tidak perlu memakai kata pak, bu, dsb. apapun jabatannya. Makasih

  5. Kenapa gak disertakan gelarnya prof. Panto? Waktu baca artikel di koran pun, juga disebut gelarnya dulu meskipun setelahnya disebut langsung nama tanpa gelar…
    Agak kecewa sama artikel ini 🙁

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *