> Galeri > Foto Kisah > Jejak Kerajaan Mataram dalam Jemparingan

Jejak Kerajaan Mataram dalam Jemparingan

Oleh: Panji Satrio

KOTA Solo merupakan salah satu dari dua kota besar peninggalan kerajaan Mataram. Tak heran apabila kebanyakan budaya dan tradisi di kota ini sangat lekat dengan kebudayaan kerajaan Mataram, apalagi dengan masih berdirinya keraton bekas peninggalan kerajaan Mataram. Budaya dan tradisi tersebut beragam, mulai dari cara berpakaian, kuliner, dan olahraga.

“Jemparingan Gaya Mataraman” atau biasa disebut “Jemparingan” saja, merupakan salah satu warisan tradisi dan budaya Mataram di bidang olahraga. Jemparingan yang merupakan bahasa Jawa halus yang berarti “Panahan”, merupakan sebuah olahraga memanah tradisional yang berkembang di daerah bekas kerajaan Mataram. Jemparingan ini dahulu merupakan sebuah latihan memanah bagi prajurit Mataram. Namun, saat ini berkembang menjadi sebuah olahraga tradisional yang dikembangkan di kota Solo, Klaten, dan Yogyakarta.

Jemparingan ini berbeda dari olahraga panahan modern. Perbedaan itu ialah, alat yang digunakan, pakaian, target, dan sikap. Busur dan anak panah yang digunakan masih tradisional yaitu menggunakan pohon bambu. Sesuai dengan tradisi, satu set anak panah masing-masing memiliki nama. Hal ini ditujukan sebagai penanda siapa yang memiliki anak panah-anak panah tersebut. Selain itu agar “pengambil” anak panah tidak memanggil nama pemilik anak panah karena hal tersebut dianggap kasar.

Lalu, pemanah menggunakan pakaian adat Jawa Tengah pada saat melakukan latihan. Yang ketiga, target Jemparingan berbeda dari target panahan modern. Yaitu hanya menggunakan sebuah target berbentuk tabung dengan tinggi 30cm dan diameter 5cm. Target ini dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian Ndas atau kepala yang berwarna merah yang menandakan 3 poin, lalu bagian Awak atau tubuh yang berwarna putih yang menandakan 1 poin.

Sikap pemanah Jemparingan pun tidak berdiri seperti pemanah tradisional Eropa, namun duduk bersila dengan tubuh membentuk sudut 90 derajat terhadap target.[]


panjiPanji Satrio. Mahasiswa Hubungan Internasional UNS. Anggota Fisip Fotografi Club (FFC). Surel: binangun078@yahoo.co.id.

 

Baca Juga

MARU UNS bikin MURI Lagi Tahun Ini

REKTOR UNS, Ravik Karsidi, memegang piagam penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI), Kamis, 17 Agustus 2017. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *