> Resensi > Ironisme Perang dalam Kacamata Kepolosan Kanak-Kanak

Ironisme Perang dalam Kacamata Kepolosan Kanak-Kanak

Ironisme Perang

 

Judul               : The Boy in the Striped Pajamas

Sutradara      : Mark Herman

Tanggal           : 7 November 2008

Pemain            : Asa Butterfield, Amber Beattie, Jack Scanlon, Vera Farmiga, David Thewlis.

Durasi              : 93 menit

Genre               : Historical Drama

Produksi         : Miramax

 

Bagaimana jika kekejaman Nazi dituturkan melalui kaca mata seorang anak-anak polos yang tidak tahu apapun? Film yang diadaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama karya penulis Irlandia, John Boyne, ini menceritakan tentang petualangan anak lelaki berusia 9 tahun. Walaupun menceritakan tentang anak-anak namun film ini bukanlah untuk anak-anak. Pasalnya ekspresi yang akan didapatkan bukanlah keceriaan anak-anak namun kesedihan dan kemirisan akan kekejaman praktik Holocaust Nazi.

Mari ikuti petualangan Bruno (Asa Butterfield) ke sebuah kamp yang dikelilingi pagar besi tempat orang-orang memamakai piyama bergaris-garis putih abu-abu yang kumal. Waktu itu tahun 1942 saat Perang Dunia II berkecamuk. Bruno awalnya memiliki kehidupan yang cukup bahagia di Berlin, Jerman, bersama kakak perempuan, dan kedua orang tuanya. Sampai ia harus pindah ke Polandia karena ayahnya, seorang komandan Nazi, dipromosikan dan ditugaskan disana menjadi komandan kamp konsentrasi Yahudi di Auschwitz, Polandia.

Rumah baru mereka terpencil, tidak memiliki tetangga, sehingga Bruno harus menghadapi kebosanan tanpa seorangpun teman. Dari jendela kamarnya ia melihat kamp yang dihuni oleh banyak lelaki yang berpiama garis-garis. Keingintahuan dan kebosanan memaksa Bruno untuk memulai ekspedisi ke kamp konsentrasi yang karena kenaifannya ia sebut perkebunan. Siang itu ia mendapati dirinya luar pagar besi. Disana ia bertemu Shmuel (Jack Scanlon) seorang anak yang secara kebetulan umur mereka sama. Dengan cepat mereka menjalin persahabatan, seringkali Bruno menyelinap keluar untuk bermain bersama Shmuel.

Shmuel sendiri hanyalah bocah naif yang mejadi menjadi korban kekejaman Der Fuhrer, Adolf Hitler. Ia seakan telah memikul dosa besar dengan menjadi peranakan Yahudi Polandia, walaupun Shmuel cukup memahami keadaan disekelilingnya, ia tetaplah seorang anak kecil yang terpisah dari orangtuanya. Ia tetap menerima Bruno yang merupakan orang Jerman, walaupun Jerman telah mengobrak-abrik negara dan membunuh banyak orang Polandia. Namun, persahabatan murni kedua bocah yang terpisahkan oleh pagar besi ini akan menyentuh relung hati. Bruno sendiri tidak tahu kalau ayahnya adalah orang yang bertanggung jawab atas kesengsaraan ribuan orang termasuk Shmuel di kamp tersebut.

Film yang digarap di Irlandia ini menuturkan ikatan dua bocah yang belum paham soal perang, belum tertanam ideologi dan nasionalisme bangsa mereka masing-masing, minimnya rasa curiga dan kemarahan, atas dasar indentitas anak seumuran, dan dilandasi oleh kemurnian jiwa seorang anak. Polos, jujur, persahabatan mereka terjalin dengan keceriaan. Mereka memandang hidup dengan cara mereka sendiri. Mungkin kesalahan orang dewasalah yang membuat pihak-pihak yang tak bersalah ikut merasakan penderitaan.

Praktik Holocaust, pembantaian terhadap Yahudi di film ini diekspos dengan pembakaran atau melalui kamar-kamar gas. Diskriminasi rasis diperlihatkan begitu kentara. Sadar akan keburukan yang mungkin ditimbulkan kepada Bruno dan kakaknya, Gretel (Amber Beattie), yang masa kecilnya akan dihabiskan dan tumbuh di area kamp konsentrasi, ibu mereka mendesak suaminya untuk mengembalikan anak-anak ke Berlin. Dan akhirnya Bruno harus meninggalkan sahabatnya, Shmuel. Dengan maksud membuat kenangan terakhir bersama, Bruno berhasil menyamar dan menyelinap masuk ke kamp konsentrasi untuk berpetualang bersama Shmuel, tanpa sadar kalau itu adalah tindakan bodoh.

Cerita di film ini berjalan secara perlahan,dan menemui klimaksnya di bagian akhir. Dengan klimaks yang singkat dan mendebarkan, justru membuat cerita menjadi semakin mengagumkan. Tema yang unik dari kebanyakan film historical lainnya, membuat film The Boy in the Stripe Pajamas ini memenangkan penghargaan BIA (British Independent Award) dan CIFA (Chicago International Film Award). Yang disayangkan adalah jalan cerita yang terlalu monoton dapat memicu kebosanan penonton.

Persahabatan Bruno dan Shmuel yang lahir dari dua belah pihak yang saling berseteru memberi banyak pelajaran. Latar belakang dan perang tak mampu menghanguskan ikatan persahabatan mereka. Tak selamanya perang dapat menyelesaikan masalah dan hanya membawa penderitaan. Melihat penderitaan perang melalui perspektif anak-anak membuat kita sadar bahwa orang dewasa tak selalu benar. (Tri Uswatun Hasanah)

Baca Juga

Puasa Tanpa Buka

Oleh: Irfan Sholeh Fauzi Judul               : Tuhan Pun Berpuasa Pengarang       : Emha Ainun Nadjib …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *