> Catatan Kentingan > Opini > Ironi Program Pengembangan Diri CDC

Ironi Program Pengembangan Diri CDC

Salah satu misi Pusat Pengembangan Karir (Carier Development Center/CDC) di sebagian besar perguruan tinggi Indonesia adalah untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, atau dengan kata lain membantu pengembangan diri mahasiswa. Agar hal itu tercapai, berbagai program kerja dilaksanakan seperti seminar, workshop, pelatihan, dan sebagainya.

CDC pertama kali ada di Amerika dengan tujuan menyediakan layanan pengembangan karir bagi American Baptist Curches. Program ini ternyata berhasil meningkatkan peluang pencari kerja dari anggota kelompok itu. Karena keberhasilannya ini, kemudian CDC  di-adopsi oleh perguruan tinggi di dunia. Di Indonesia sendiri CDC mulai ada pertama kali di Universitas Indonesia (UI) pada tahun 2005. Kini hampir setiap perguruan tinggi negeri telah memiliki pusat pengembangan karir sendiri.

Berawal dari keinginan memperbanyak keterserapan tenaga lulusan, CDC kemudian hadir untuk memperpendek masa tunggu kerja alumni. Di Universitas Sebelas Maret (UNS) sendiri, CDC kini mulai berkembang dan memiliki berbagai program kerja, diantaranya: program pelayanan informasi karir, program pelatihan dan pengembangan karir, program pelayanan perekrutan, program bimbingan dan konsultasi karir, program pengembangan dan kerjasama, serta program tracer study.

Pengembangan Diri Kilat

CDC dibentuk untuk membantu mahasiswa mengembangkan karir dengan cara membekali soft skill pada mahasiswa tersebut. Hal itu bertujuan agar mahasiswa memiliki nilai lebih disamping pengetahuan yang ia dapatkan dari kuliah. Penyediaan program pelatihan berupa seminar, workshop, training juga terdapat dalam tujuan CDC UNS.

Dilansir dari onlinebuku.com, secara teori, ada dua aspek penting dalam pengembang-an diri mahasiswa menurut Boy Macklin, yaitu harga diri (self-esteem) dan konsep diri (self-concept). Konsep diri menurut Carl Rogers berarti bahwa individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup, dan mengatasi masalah-masalah klinis asalkan konselor menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri. Konsep diri memiliki tiga dimensi, yaitu pengetahuan tentang diri, pengharapan bagi diri, dan penilaian terhadap diri.

Dari definisi mengenai konsep diri yang mempengaruhi pengembangan diri di atas, memiliki makna bahwa pengembangan diri dapat dilakukan secara maksimal apabila yang melakukannya  adalah  diri  sendiri,  bukan orang lain. Walaupun tidak menutup kemungkinan diadakannya seminar, workshop, maupun pelatihan dengan dalih membantu pengembangan diri. Namun sangat kecil pengaruhnya bagi pengembangan diri mahasiswa.

Kedua, program yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas mahasiswa tidak dapat dilaksanakan dalam jangka waktu yang singkat. Mengapa? Nilai lebih mahasiswa disamping akademik, seperti sifat kepemimpinan, keterampilan berkomunikasi, keterampilan berorganisasi, dan lain sebagainya tidak dapat diperoleh secara instan. Seorang mahasiswa memerlukan sebuah proses yang harus dijalani agar memiliki nilai lebih yang membedakannya dengan mahasiswa lain. Jika sebuah seminar dapat meng-ubah diri seorang mahasiswa, Saya tidak dapat membayangkan betapa mahalnya tiket yang harus dibayar.

Kesadaran Pribadi

Mahasiswa berarti siswa yang dewasa (maha). Mahasiswa memiliki aspirasi sendiri untuk bisa belajar dengan caranya sendiri. Mahasiswa diberi keleluasaan untuk menentukan dan bertanggung jawab atas pelajaran yang ia ambil, termasuk dalam pengembangan diri.

Poin penting dalam pengembangan diri adalah kesadaran dan kemauan pribadi untuk mengembangkan dirinya sendiri. Berangkat dari poin ini, CDC dapat merangkul mahasiswa dari awal, yaitu saat mahasiswa baru masuk perguruan  tinggi, tidak  hanya mahasiswa tingkat akhir. Dengan pelatihan pengembangan diri, serta layanan konsultasi dan bimbingan karir sejak awal, mahasiswa  dapat  belajar  untuk mengembangkan dirinya. Karena  karakter dan konsep diri hanya dapat diperoleh melalui proses, dan proses itu tidak berlangsung sebentar.

Sejauh apapun sebuah perguruan tinggi memfasilitasi mahasiswa untuk meningkatkan kapasitas diri, tidak akan berhasil tanpa ada kemauan dari  mahasiswa.  Jika  CDC  tetap  ingin mewujudkan misinya untuk meningkatkan kapasitas mahasiswa, program yang diambil seharusnya bukan lagi program pengembangan diri kilat. Ibaratkan menanam tanaman, apabila tanaman itu dirawat dengan baik sejak awal pula akan menghasilkan buah yang baik, bukan begitu? []

Baca Juga

Duhai Maru, Rektor Kalian Sesungguhnya adalah…

Oleh: Satya Adhi   DUHAI DEDEK mahasiswa baru (maru) yang masih suka berhenti di bangjo …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *