> Edisi Khusus > #2 > Guru Besar Imajiner

Guru Besar Imajiner

Oleh: Satya Adhi

 

BENEDICT RICHARD O’GORMAN ANDERSON. Seorang profesor cum indonesianis lulusan Universitas Cornell, Amerika Serikat. Walau sudah jadi guru besar, almarhum tak mau dipanggil Profesor Ben. Pun bukan dipanggil Pak Ben atau Tuan Ben. Ia justru lebih sering dipanggil dengan panggilan yang terdengar menggelikan di telinga cewek-cewek genit: Om Ben. Unch…

 

Kalau sempat – dan harus sempat – bacalah biografi kecilnya yang berjudul Hidup di Luar Tempurung (Marjin Kiri, 2016). Ketika membacanya, coba baca “teks” yang tidak tertulis di buku sambil merenungkan kondisi pendidikan tinggi Indonesia. Kalau khusyu merenung, pasti akan terdengar bisikan-bisikan magis dari arwah Om Ben di telinga. Apalagi di zaman kalabendu pendidikan tinggi seperti saat ini.

 

Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Permenristek Dikti) No. 20 Tahun 2017 tentang Tunjangan Profesi dan Kehormatan, yang jadi polemiknya. Peraturan itu membikin para guru besar kalang kabut.

 

Tiap tiga tahun sekali, para guru besar wajib menghasilkan tiga publikasi ilmiah yang terbit di jurnal internasional. Kalau tidak, tunjangannya akan dihentikan sementara. Ini lebih berat dari Permenristek Dikti sebelumnya, yakni satu publikasi tiap tiga tahun.

 

Jadilah para guru besar melakukan segala daya upaya untuk memenuhi syarat itu. Publikasi dikebut. Mahasiswa-mahasiswi dikerahkan untuk diperburuh sebagai tenaga penelitian. Semua demi tunjangan profesi.

 

“Kalau Om Ben sih, motif utama jadi Guru Besar bukan karena tunjangan,” bisik Om Ben.

 

“Terus, kenapa Om Ben jadi guru besar?”

 

“Itu sudah panggilan jiwa. Om Ben ingin jadi profesor, menggarap riset, menulis, dan mengajar. Duit mah bakal datang sendiri.”

 

“Trus gimana dong, cara buat mendorong produktivitas karya di sana?”

 

“Pernah punya teman?” Om Ben malah balik bertanya.

 

“Ya pernah lah Om.”

 

“Kalau temanmu punya mainan baru, kamu dan teman-teman lain bagaimana?”

 

“Ya iri lah. Pengin juga punya mainan kayak dia.”

 

“Di Cornell juga sama. Kalau ada teman dosen yang punya karya bagus, rekan-rekan lain iri. Terus berlomba-lomba bikin karya yang lebih bagus lagi. Kalau nglokro, enggak mau nulis, ya enggak punya teman. Om malah heran dengan para profesormu. Menulis aja kok sampai harus diancam segala. Kayak enggak pernah nulis aja,” jawabnya.”

 

“Kayaknya sih gitu, Om. Para guru besarku lebih suka mengoceh kosong di dalam kelas daripada menulis karya yang analitis dan ngilmiah. Enggak pernah tuh mereka menunjukkan karya ampuh mereka di dalam kelas. Buku-buku rekomendasi juga banyak yang sudah usang. Akhirnya para mahasiswa lebih sering mendengar daripada membaca.”

 

“Lah, kerjaannya selain mengajar apa lagi?”

 

“Selain mengajar, mereka harusnya melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat sih. Tapi para dosen termasuk guru besar di sini diperlakukan seperti ambtenaar. Jadi aktivitas utamanya tidak jauh dari soal pangkat, gaji, tunjangan, dan barang-barang khas birokrat lainnya. Apalagi orang-orang di gedung depan.”

 

“Memang kenapa mereka?”

 

“Itu Om. Orang-orang di gedung depan sudah jadi birokrat berjubah akademisi. Ya memang sih, sebagai pejabat kampus mereka wajib mengurusi birokrasi. Tapi kan tetap punya tanggung jawab keilmuan.”

 

“Terus orang-orang di gedung depan itu tetap punya karya?”

 

“Kalau soal itu, Imagined Communities­-nya Om Ben aja kalah!”

 

“Wah, emang apa karya mereka? Sampai-sampai bisa ngalahin buku ampuh Om Ben?”

 

“Karya ini menentukan hidup mati seluruh sivitas akademika, Om.”

 

“Apa sih?”

 

“Tanda tangan.”

 

Bisikan Om Ben berubah jadi tawa lebar. “Om Ben jadi ingat seorang teman. Namanya Claire Holt. Dia cewek romantik yang luar biasa. Pernah jadi wartawan dan kritikus di bidang tari, khususnya balet. Waktu pulang ke Amerika, Claire direkrut untuk jadi mengajari bahasa Melayu dan Indonesia kepada para diplomat muda dan perwira-perwira intelijen.”

 

“Apa hubungannya sama guru besar di Indonesia, Om?” Tanyaku heran.

 

“Si Claire ini lalu direkrut oleh pembimbing Om, George Kahin, ke Cornell. Ia jadi pengajar bahasa Indonesia yang sungguh piawai. Lucunya, orang sehebat dia enggak punya gelar akademis. Jadi enggak bisa jadi dosen. Ha-ha-ha,” Om Ben kembali tertawa puas.

 

Si Claire Holt ini justru beruntung. Ia bisa asyik menekuni ilmu pengetahuan tanpa kudu terkungkung budaya birokratis perguruan tinggi. Tak perlu berpikir tentang peraturan menteri apalagi tunjangan.

 

“Tapi jangan salah. Permenristek Dikti yang bikin guru besar kalang kabut itu belum seberapa. Di Amerika Serikat, profesor-profesor muda baru diujicoba dalam enam tahun pertama. Sepanjang masa itu, mereka bisa diberhentikan kapan saja kalau tidak memenuhi kualifikasi keilmuan! Pada tahun keenam, rekam jejak pengajaran dan penerbitan mereka dikaji secara intensif.”

 

“Wah, gila juga ya Om. Di sini masih mending cuma dicabut tunjangannya, enggak sampai diberhentikan. Itu aja sudah mengundang polemik di berbagai media massa. Di Kompas, polemik tentang profesor ini masih eksis sampai sekarang, lho.

 

“Masalahnya, menterimu itu juga wagu. Om curiga semua regulasi ini punya motif birokratis. Hanya untuk mendongkrak rangking perguruan tinggi Indonesia di skala global. Ya, biar si menteri kelihatan berhasil jadi menteri. Lalu, dia nyuruh para guru besar meningkatkan publikasi ilmiah, tapi malah menghapus penulisan buku sebagai persyaratan tunjangan.”

 

“Mungkin karena industrialisasi buku, Om.”

 

“Industrialisasi gimana?”

 

“Jadi, sebelum ada peraturan menteri baru kan buku dijadikan salah satu syarat cairnya tunjangan. Nah, para dosen itu menulis buku bukan untuk menyebarluaskan gagasan, tapi cuma untuk mengejar kenaikan pangkat dan uang hasil penjualan buku.”

 

“Minggu lalu saya juga sempat baca Solopos, Om. Industrialisasi buku di perguruan tinggi ini sudah gawat sekali. Seorang guru besar misalnya, produktif sekali menerjemahkan karya ilmiah demi kenaikan pangkat. Saking banyaknya, minta tolonglah dia ke mahasiswa bimbingannya. Si mahasiswa lalu minta tolong ke temannya. Begitu seterusnya. Duh, kualitas terjemahannya bisa parah sekali, Om.”

 

“Brengsek!” Om Ben misuh sekuat pikiran. “Sebagai pecinta kamus, Om Ben merasa terhina dan ingin kembali ke dunia yang fana ini. Coba sekali-kali kamu ajak para guru besarmu itu ke rumah Om Ben. Di sana ada kamus beraneka rupa yang bisa dijadikan rujukan dalam menerjemahkan karya. Enggak ngasal kayak gitu dong!”

 

“Sabar, Om. Setidaknya Permenristek Dikti yang barusan dikeluarin ini bisa jadi pemersatu. Ya, mirip-mirip sama Nasionalisme gitu.”

 

“Mirip gimana maksudmu?”

 

“Kalau Nasionalisme kan terbentuk karena ada komunitas politis yang diimajinasikan sebagai sesuatu yang bersifat terbatas secara inheren dan berkedaulatan. Permenristek Dikti itu bisa menyatukan komunitas politik di antara para guru besar untuk mengimajinasikan tunjangan yang akan mereka peroleh.”

 

“Jadinya guru besar imajiner dong. Guru besar apus-apus yang kerja bukan dengan tujuan intelektualitas,” Om Ben tersenyum kecut. Sekecut es teh kampul di angkringan belakang kampus.

 

“Ha-ha-ha. Iya, Om. Se-imajiner obrolan kita berdua sekarang.”[]

 

 

Satya Adhi. Pemimpin Redaksi LPM Kentingan. Masih gemar (baca: terpaksa) berjalan kaki. Domisili maya: adhii.satya@gmail.com dan @pjalankaki.

 

Edisi Khusus II/Mei/2017

Editorial                  Surat untuk Profesor

Laporan Khusus   : Jurus Kalem Tebus Tunjangan Profesor

Laporan Khusus   : Jubah Akademis Birokrat Kampus

Laporan Khusus   : Mendamba Piramida Sendiri

Infografis                 : Profesor UNS dalam Angka

Infografis                 : Persepsi Mahasiswa terhadap Profesor

Catatan Kentingan: Tuna Etos Keprofesoran

Catatan Kentingan: Guru Besar Imajiner

 

Baca Juga

Sarjana Kamar Kos

Oleh: Vera Safitri   KITA  tak membeli apapun dari pendidikan selain kesempatan. Pemberitaan mengenai tiga …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *