> Resensi > Dongeng Palu Arit di Ladang Paman Sam

Dongeng Palu Arit di Ladang Paman Sam

Oleh: Muhammad Satya

Judul               : Trumbo

Produksi         : Universal Studio

Sutradara       : Jay Roach

Tahun Rilis     : 2015

Pemeran         : Bryan Cranston, Michael Stuhlbarg, Dave Maldonado

 

 … di sekolah kau melihat seseorang yang tak membawa bekal sama sekali. Apa yang kau lakukan?” tanya Dalton pada anak gadisnya.

“Berbagi,” jawab si gadis.

“Berbagi? Kau tidak menyuruh mereka untuk mencari pekerjaan?”

“Tidak”

“Oh, kau memberinya pinjaman berbunga 6 %, kau sangat cerdas!”

“Ayah!” katanya manja setengah sebal. “

Ah, kau hanya membiarkannya.”

“Tidak!”

“Baiklah,” ujar Dalton sambil tersenyum. “Kau seorang komunis kecil.”

JOSHUA OPPEINHEIMER, dalam sebuah wawancara dengan harian Kompas, Februari lalu, mengaku sulit untuk bisa datang kembali ke Indonesia karena berbagai intimidasi. Sebabnya karena sutradara lulusan Universitas Harvard ini telah membuat dua film menakjubkan tentang Indonesia. Jagal (The Act of Killing) dirilis tahun 2012, serta Senyap (The Look of Silence). Keduanya tentang pembunuhan massal 1965-1967 yang terjadi di bawah komando militer.

Film pertama tentang mantan algojo yang insaf akan perbuatannya dan film kedua mengenai upaya rekonsiliasi keluarga korban pembunuhan dengan mantan algojo. Keduanya berisi pesan untuk tak mudah melepaskan ingatan akan sejarah yang kelam dan kewajiban untuk mengakui dosa-dosa masa lalu. Untuk sekuel ketiga, kata Joshua, “Babak ketiga adalah milik masyarakat Indonesia.”

***

PERANG DUNIA II telah berakhir, namun ketegangan tak kunjung usai. Dua pemenang, Amerika Serikat dan Rusia, membentuk dua blok untuk merebut kekuasaan di seluruh dunia. Mereka tak melawan dengan invasi langsung khas era kolonial. Hanya pamer teknologi nuklir, penjelajahan luar angkasa, serta berita-berita propaganda tentang agen-agen yang menyusup di masing-masing negara. Mirip dua anak kecil yang berebut perhatian dengan memamerkan mainan mereka.

Di tengah perang dingin –nama perang pamer perhatian antara dua blok– itulah Dalton Trumbo (Bryan Cranston) hidup. Ia seorang penulis naskah film. Seperti kebanyakan warga AS lainnya, ia berkulit putih, suka rokok dan alkohol, serta dikenal sebagai pribadi yang terbuka. Hanya satu yang membuatnya dibenci seantero negeri kala itu: ia seorang komunis.

Kala itu semua komunis dianggap sebagai mata-mata Moskow. Maklum, pemerintah AS selalu menuntut nasionalisme dan patriotisme khas mereka. Apalagi di tengah situasi seperti ini. Dongeng mata-mata itu semakin menjadi-jadi dengan berita-berita dan kolom-kolom di media ternama semacam Times dan New York Times. Trumbo sendiri merupakan anggota Partai Komunis, sebuah partai kecil yang nyaris tak berpendukung. Aktivitas politiknya di partai ini membuatnya masuk daftar hitam negara. Usai dibui selama hampir satu tahun (Juni 1950 s.d. April 1951), tak ada rumah produksi yang berani memajang namanya sebagai penulis naskah film.

Trumbo tak kehilangan akal. Ia sama seperti hampir semua penulis lainnya: cerdik dan keras kepala. Ia bersedia namanya tak dicantumkan dalam kredit film. Sebagai gantinya, seorang penulis naskah lain ia minta untuk bertindak seolah-olah dia yang menulis naskah. Padahal itu garapan Trumbo. Maka terpaksa seorang penulis hebat menonton filmnya sendiri tanpa menyaksikan namanya dalam kredit.

Penderitaan batinnya tak berhenti sampai di sini. Dua film yang ia tulis memenangi Academy Awards. Trumbo sekeluarga berteriak kegirangan ketika pemenang piala Oscar dibacakan, meski mereka tahu piala emas itu tak sampai di rumah mereka. Namun disamping sikap pantang menyerahnya, ia sempat dikecam orang-orang sekelilinya. Dianggap terlalu idealis dan ingin dianggap pahlawan.

Refleksi

Tak seperti film Hollywood lain yang terkadang menampilkan propaganda terselubung, Trumbo justru sebaliknya. Ia menampilkan warna baru dalam sejarah Hollywood. Sebuah film yang memberi legitimasi, bahwa rakyat AS meminta maaf terhadap mereka yang dituduh melakukan kejahatan perang dingin, lebih dari lima dekade yang lalu. Ya, bahaya laten komunis tak pernah terbukti.

Di bagian lain di bumi ini, di sebuah negara kepulauan dengan penduduk dua ratus juta lebih, dongeng komunisme masih membayangi. Padahal Joshua Oppeinhemer telah bersusah payah menyadarkan mereka. Selain itu, kini tak ada negara yang sepenuhnya komunis dan sepenuhnya liberal. Komunis telah mati berpuluh-puluh tahun lalu. Namun penduduk negeri ini tak percaya. Tiga puluh dua tahun rezim otoriter yang berkuasa, telah sukses memberi ketakutan tujuh turunan akan sekelompok orang tak percaya Tuhan yang siap mengambil alih kekuasaan di negeri itu.

Akibatnya, mereka dengan konyol melakukan pembubaran diskusi-diskusi ilmiah bertema komunisme, marxisme, atau leninisme, mengecam media-media yang coba mengungkap pembunuhan masal terbesar di Asia pada 1965-1967, dan memasang spanduk-spanduk berslogan anti komunis.

Baca Juga

Puasa Tanpa Buka

Oleh: Irfan Sholeh Fauzi Judul               : Tuhan Pun Berpuasa Pengarang       : Emha Ainun Nadjib …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *