> Laporan Khusus > Empat Jam Mendamba Rektor
Seratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-UNS menggelar demonstrasi di depan gedung rektorat dr. Prakosa, Selasa (2/5). Demonstrasi tersebut sekaligus merayakan Hari Pendidikan Nasional. (Sholahudin Akbar/LPM Kentingan)

Empat Jam Mendamba Rektor

Oleh: Eka Indrayani dan Satya Adhi

 

 

BEM se-UNS bertahan di depan gedung rektorat selama empat jam. “Memeringati Hari Raya Pendidikan,” katanya.

 

GEDUNG PUSAT DR. PRAKOSA berdiri megah di bawah langit UNS. Lapangan di depannya segar menghijau. Di depannya, lautan jas almamater biru telur asin berkumpul. Seratusan mahasiswa berkumpul di depan lapangan gedung itu. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-UNS lagi-lagi menggelar demonstrasi.

 

Waktu itu Selasa, 2 Mei 2017 pukul 10.30 WIB. Tepat memeringati Hari Pendidikan Nasional. Versi para demonstrannya: Hari Raya Pendidikan. Koordinator Demonstrasi, Muhammad Hasan, mengomando massa untuk membentuk lingkaran. Jalanan diblokade. Arus kendaraan yang menuju bulevar UNS dialihkan.

 

Orasi dikoarkan di atas mobil pikap merah. Mereka menuntut tujuh hal. UNS memberikan data Cost Structure Analysist (CSA) di setiap program studi masing-masing fakultas setiap tahunnya, meninjau kembali dan menghapus pembayaran Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi mahasiswa angkatan 2014, dan memperjelas perincian tujuan dipungutnya iuran alumni terhadap mahasiswa serta menolak adanya kenaikan biaya pendaftaran wisuda terhadap calon wisudawan UNS.

 

Kemudian, menuntut diadakannya masa sanggah bagi mahasiswa yang diterima lewat jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) dan Seleksi Mandiri untuk jalur S-1, D-3, dan D-4, dan menuntut diadakannya fasilitas penunjang bagi mahasiswa berkebutuhan khusus (difabel).

 

Dua tuntutan terakhir adalah menuntut rektorat untuk tidak mengulangi kesalahan penetapan UKT dan memberi waktu untuk melakukan audiensi bagi BEM UNS setiap satu bulan sekali.

 

Demonstrasi ini sudah direncanakan beberapa hari sebelumnya. Pada 27 dan 28 April, perwakilan BEM fakultas melakukan konsolidasi untuk merumuskan tuntutan dan merencanakan demo.

 

Setengah jam demonstrasi berlangsung. Kemudian para perwakilan demonstran masuk ke gedung dr. Prakosa. Nampak para perwakilan BEM tiap fakultas di sana. Audiensi direncanakan. Para demonstran ingin menemui Rektor UNS, Ravik Karsidi.

 

Yang ditemui tak ada di tempat. Presiden BEM UNS, Wildan Wahyu Nugroho hanya sempat berunding dengan Wakil Rektor III, Darsono. Wildan dan koleganya keluar ruangan dengan wajah kecewa.

 

“Pokoknya harus ketemu sama Pak Ravik. Jangan sampai kayak yang dulu!” kata Wakil Presiden BEM UNS, Mohamad Iqbal. “Kayak yang dulu” yang dimaksud Iqbal adalah demonstrasi menuntut transparansi Uang Kuliah Tunggal (UKT) pada November 2014. Demo itu mencapai kebuntuan.

 

Tapi demontrasi belum bubar. Massa tetap bertahan.

 

 

Wakil Rektor III, Darsono (kanan), tengah berdiskusi untuk menangani para demonstran. (Qorina Azza/LPM Kentingan)

 

“KENAPA TEMAN SAYA DIPUKUL PAK?” teriak seorang demonstran menuding kepala pengamanan rektorat. Syahdan, pasca negosiasi dengan Darsono buntu, massa merangsek maju ke depan pelataran gedung dr. Prakosa. Saat merangsek, satuan pengamanan membentuk pagar betis. Aksi saling dorong terjadi. Salah seorang anggota pengamanan terpancing emosinya dan memukul salah seorang demonstran.

 

Kondisi panas. Berulang kali para demonstran mengungkit pemukulan yang terjadi. Satuan pengamanan mundur sampai depan lobi gedung persis. Rana kamera para fotografer makin sering ditekan.

 

Pukul 12.40 WIB. Ravik masih ditunggu. Yang kembali muncul ke hadapan massa justru Wakil Rektor III, Darsono. Ia menyatakan akan memenuhi tuntutan yang diajukan demonstran. Hanya saja, terkait masa sanggah UKT, Darsono tampak keberatan.

 

Akhirnya, Ravik mau juga ditemui. Awalnya hanya tiga perwakilan yang diperbolehkan masuk. Setelah mendapat tekanan massa, akhirnya sebelas perwakilan BEM fakultas dan BEM UNS bisa masuk menemui Ravik. Massa di luar kembali harus menunggu.

 

Hingga kemudian  peristiwa langka terjadi. Setelah menemui perwakilan demonstran, pukul 14.15 WIB Ravik Karsidi keluar menemui massa. “Segera akan ditindaklanjuti, tapi kami mengabulkan tuntutan-tuntutan tersebut”. “Enggak bisa, kan butuh stempel. Nanti tanda tangan sama Mas Presiden BEM (Wildan) aja di dalam”. Lalu Ravik nyelonong masuk ke gedung begitu saja.

 

“Tujuan dari aksi ini tentu bukan untuk menjatuhkan rektor. Pertama kita main pintar, minta kejelasan soal uang wisuda, kan uang wisuda naik beberapa kali lipat. Kedua soal KKN, transparasi masalah KKN. Ketiga masa sanggah,  kan baru SNMPTN dan SBMPTN, sementara Seleksi Mandiri (SM) dan Diploma kan belum ada. Nah, kita ingin semuanya itu mendapat bagian.” Ungkap Wildan, pada Rabu, 3 Mei 2017.

 

Menurut informasi yang dikabarkan BEM UNS lewat akun Instagramnya, @bemuns, pasca aksi ini mahasiswa UNS dan serta BEM se-UNS akan menindaklanjuti kebuntuan yang terjadi pada demontrasi ini pada forum audiensi yang akan dilakukan dalam satu hingga dua minggu ke depan.

 

Empat jam berlalu singkat. Gedung dr. Prakosa masih berdiri megah tak terjamah.[]

 

Baca Juga

Petani dari Kampus Buru

Oleh: Satya Adhi dan Vera Safitri   DI RUMAH Paiman, orang-orang berdatangan hampir tiap hari. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *