> Resensi > Cinta dalam Diam

Cinta dalam Diam

Judul film        : Barfi!

Tahun rilis       : 2012

Genre                : Drama

Sutradara         : Anurag Basu

Pemeran          : Ranbir Kapoor, Ileana D’Cruz, Priyanka Chopra

Apa yang akan Anda perbuat saat Anda tak bisa mendengar dunia dan tak bisa mengatakan apa pun pada dunia? Apakah Anda berani menunjukkan diri pada dunia? Apakah Anda cukup percaya diri untuk menyatakan cinta pada seseorang yang istimewa? Mungkin sebagian besar kita akan malu dan menutup diri dari dunia, termasuk orang-orang istimewa yang kita sayangi. Namun, tidak bagi Barfi (Ranbir Kapoor).

Kesunyian dunia yang ia rasakan tak membuatnya mengisolasi diri. Ia justru menjadi laki-laki riang yang kerap kali bertingkah konyol. Tingkah konyol tersebut pertama kali dilihat oleh Shruti (Ileana D’Cruz) saat ia baru pindah ke Darjeeling, sebuah kota di India.

Status Shruti yang sudah bertunangan dan akan segera menikah, tak menghalangi Barfi untuk terus mengejar dan mendapatkan cintanya. Dengan isyarat yang sering kali terlihat sangat lucu, tak terhitung berapa kali Barfi menyatakan cinta pada Shruti. Hingga akhirnya Shruti membalas cinta Barfi. Mereka saling mencintai meskipun tanpa saling mengurai kata-kata manis. Sayangnya, Shruti akhirnya menikah dengan tunangannya.

Patah hati membuat Barfi menjadi berbeda. Ia menghadapi berbagai masalah setelah Shruti pindah ke Kolkata, terutama saat ia menghadapi kematian ayahnya. Namun, hidupnya kembali berubah sejak ia menemukan Jhilmil (Priyanka Chopra) yang diculik. Ia berniat mengamankan anak orang kaya yang memiliki keterbelakangan mental tersebut. Dan upayanya justru berakhir dengan mereka yang saling mencintai, meski mereka sama-sama tak bisa mendengar satu sama lain dan tak bisa mengatakan kalimat-kalimat manis.

Saat Barfi dan Jhilmil mulai hidup bersama di Kolkata, Shruti kembali hadir. Ia masih menyimpan rasa yang sama untuk Barfi. Namun tidak dengan Barfi. Mereka menghabiskan banyak waktu bersama, sampai Jhilmil menghilang. Barfi terus mencarinya hingga akhirnya mendapat kabar bahwa Jhilmil telah tewas tenggelam di sungai. Shruti pun segera masuk dalam hidup Barfi, menggantikan posisi Jhilmil sebagai teman hidupnya.

Namun, pada akhirnya Barfi dibantu oleh Shruti, menemukan Jhilmil. Apabila menjadi Shruti, kebanyakan kita mungkin akan membiarkan teriakan Jhilmil kepada Barfi, supaya Barfi dapat menjadi miliknya. Tetapi Shruti tetap memberitahu Barfi bahwa Jhilmil tengah menyerukan namanya. Keduanya akhirnya bersatu kembali, menggelar pernikahan yang mereka impikan hingga menjemput ajal bersama di hari tua.

Cinta segitiga, yang dipadukan dengan konflik-konflik kecil lainnya, sebenarnya sangat rumit. Namun Anurag Basu mampu meringkasnya menjadi dua setengah jam cerita yang sederhana. Komedi yang diselipkan pada banyak bagian drama membuat film ini ringan dan terlihat seolah tak melulu soal cinta.

Para pemeran benar-benar dapat memainkan perannya dengan apik. Lihat saja Ranbir Kapoor yang mampu mengunakan bahasa-bahasa isyarat dengan sangat gamblang dan Priyanka Chopra yang dengan luwes memainkan perannya sebagai wanita autis. Semua terlihat seolah tanpa dibuat-buat.

Anurag Basu mungkin sudah bosan dengan tarian dan nyanyian yang telah menjadi hal wajib bagi film Bollywood, karena kita tidak akan menemukan adegan-adegan menari sambil menyanyi dalam film ini. Justru dalam kesederhaan film ini, kita dapat mengambil pelajaran moral dari para pemainnya. Tentang bagaimana cinta tak memandang apa pun, sederhananya mencintai seseorang, juga tentang cinta yang tetap bisa tumbuh subur, meski tak ada apa pun yang kita dengar dan tak sepatah kata pun yang bisa kita ucapkan. (Sifa’us)

Baca Juga

Puasa Tanpa Buka

Oleh: Irfan Sholeh Fauzi Judul               : Tuhan Pun Berpuasa Pengarang       : Emha Ainun Nadjib …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *