> Resensi > Biru, Sabar Hingga Akhir Waktu

Biru, Sabar Hingga Akhir Waktu

Biru, Sabar Hingga Akhir Waktu

 

Judul         :  BIRU, Sabar Hingga Akhir Waktu

Penulis       :  Leyla Hana, Eni Martini, Linda Satibi, dkk.

Penerbit     :  Selaksa Publishing, Surakarta.

Cetakan     :  Juli  2013

Tebal         :  286 halaman

 

Menjalani hidup bukanlah sebuah pilihan, tetapi hidup adalah kenyataan yang harus dijalani. Terkadang hidup tidak sesuai dengan skenario yang kita harapkan. Untuk itu diperlukan kesabaran dalam menghadapinya.

Namun, sabar saja tidaklah cukup.

Apapun yang terjadi dalam diri manusia haruslah disyukuri. Karena dibalik semua itu pasti ada hikmah dan rencana Tuhan yang tidak kita sadari, yaitu sesuatu yang sangat kita butuhkan. Manusia hanya dapat berencana, namun muara keputusan sepenuhnya ada di tangan Tuhan, walaupun sekali waktu dirasa sangat berat. Seperti kumpulan kisah hidup yang dituangkan kedalam novel bertajuk “Biru, Sabar Hingga Akhir Waktu” ini. Sepenggal kisah mengenai beberapa orang yang berjuang melawan rasa sakit yang menjalari tubuhnya.

Novel ini merupakan kisah dari Annisah Rasbel. Sedari kecil, sang Ibu telah divonis menderita lemah jantung dan tekanan darah tinggi kronis. Tak hanya itu, beliau juga mengidap asma. Selain merawat Ibu yang telah ringkih, Annisah juga harus mendengarkan sang Ayah dan kakak yang selalu beradu mulut. Ayahnya yang sabar dan penyayang berubah menjadi sosok pemarah semenjak sang kakak menjadi pecandu obat terlarang. Tak jarang piring-piring melayang ketika sang kakak terus memaksa ayahnya untuk memberi uang guna membeli barang haram tersebut.

Kakaknya sudah tak peduli dengan kondisi sang Ibu yang semakin renta. Ibunya yang sudah susah payah menahan rasa sakit, harus pula menahan sakit hati karena bentakan kakak Annisah. Tentu hal ini membuat Annisah menjadi sedih dan iba terhadap sang Ibu.

Saat Annisah harus pergi ke Jerman bersama suami dan anaknya, ayahnya mengabarkan bahwa sang Ibu terkena stroke untuk yang kedua kalinya. Dengan terpaksa Annisah maninggalkan bayinya dan pulang untuk untuk merawat ibu tercinta. Pada saat itu pula sang kakak telah mendekam di penjara.

Setelah sang Ibu tersadar, ternyata tubuh bagian kanannya lumpuh. Tetapi sang Ibu tetap merasa bersyukur. Annisah merawat ibunya dengan sabar hingga akhirnya ia harus kembali ke Jerman untuk merawat anaknya. Sang Ibu menangis tersedu saat memeluk Annisah, seakan itu adalah pelukan terkhirnya untuk Annisah. Ternyata firasatnya benar. Beberapa bulan setelah kepulangannya ke Jerman, sang Ayah menelfonnya dan mengabarkan bahwa sang Abu telah tiada.

Annisah pulang dengan hati tersayat. Di pemakaman, ia melihat kakaknya menangis tersedu di atas pusara ibunya, seolah-olah ia amat menyesal.

Kisah Annisah mengingatkan kita untuk selalu bersyukur walaupun Tuhan memberikan cobaan pada kita. Kita juga harus menghargai Ibu kita yang sudah merawat kita sejak kecil, agar tidak terjadi penyesalan di kemudian hari.

Novel ini menyajikan kisah hidup  yang penuh perjuangan dan menuntut kesabaran, serta bagaimana buah dari rasa syukur. (Arianti, Nafi, Anggita)

Baca Juga

Puasa Tanpa Buka

Oleh: Irfan Sholeh Fauzi Judul               : Tuhan Pun Berpuasa Pengarang       : Emha Ainun Nadjib …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *