> Ruang Sastra > Cerpen > Benda-benda Kesepian
lustrasi oleh Sinta Oktaviani. Surel : sintaoktaviani350@gmail.com

Benda-benda Kesepian

JEMARIKU terus menggesek layar gawai, mengesampingkan hiruk pikuk stasiun yang tengah menemui jam padat. Tak heran Didi Kempot perlu mendendangkan lagu ‘Stasiun Balapan’. Lewat stasiun ini, Kota Solo telah menjadi kenangan di mana orang jadi mudah menengok dan meninggalkannya.

 

Kuhempaskan punggungku ke pangkuan kursi tunggu, sembari membenahi rambut dan sesekali mengumpat merutuki banyak hal. Beberapa orang disebelah turut bergeleng-geleng kepala. Namun lebih banyak yang mencoba tak menghiraukan.

 

“Kau harus datang malam ini.” Sebuah suara menyebrangi jaringan teleponku.

 

“Kuusahakan.” Segera kumatikan sambungan itu, lalu membuang gawai tepat di kursi sebelah.

 

Aku kembali bersandar sambil menelungkupkan kedua tangan yang memenuhi muka, kemudian terisak begitu saja tanpa suara. Hingga pemberitahuan kereta Pramex telah tiba, dengan sigap aku menyingkirkan air mata untuk beralih menjadi baik-baik saja.

 

“Mau saya bawakan, Nona.” tiba-tiba seseorang – entah pegawai stasiun atau tukang peras – mengambil koper kecilku dan membantu menyeretnya sampai ke dekat gerbong. Aku tak sempat menolak, pasalnya ia tak mengakhiri kalimatya dengan nada tanya maupun bujukan.

 

“Saya kira ini bukan bandara, lagipula saya baru mau berangkat kok. Bukan bersiap pulang.” Ku ambil koperku kembali dan masih mencoba bersikap sopan.

 

Seorang memakai kaos oblong hitam, bersandal jepit dan kuyakin tidak pernah menyisir rambutnya itu malah membalasku dengan senyuman.

 

“Nona, mau ke gerbong berapa?” Ia menarik koperku kembali. Sungguh! aku lebih berharap dia penjahat saja daripada orang gila.

 

“Mas, butuh duit berapa?”

 

Kereta sudah benar-benar tiba dan mulai membukakan pintunya, jadi kira-kira lima menit lagi keretaku akan berangkat.

 

“Langsung saya naikkan saja ya, Non.”

 

Sial, gila dia! Koperku tetap saja diseret olehnya hingga kami sampai di pintu gerbong terdekat. Untungnya aku masih punya keinginan untuk memberikan beberapa limaribuan, bukan makian.

 

“Tapi, mbak …” Kedua tangannya malah masuk ke dalam saku jeans, uluran tanganku pun ikut terhenti.

 

“Anu, hape nya mbak.”

 

Sial! Kuraba segala kantong yang kupunya dan benar,  gawai ku tidak ada.

 

“Kamu copet yo, Mas?” aku perlu menuduh seseorang karena saking paniknya. Ia tak berlari jua, malah memperhatikanku dengan senyum yang sama.

 

Aku berteriak “copet!”, membuat orang-orang menoleh terutama beberapa pegawai stasiun yang akhirnya menghampiri kami

 

“Ada apa mbak?” Tanya seorang pegawai dengan khawatir.

 

“Hape saya hilang, Pak.”

 

“Lha tadi, kok copet-copet itu apa? Mana copetnya?”  Pria tadi jadi tak kalah paniknya dariku.

 

Aku tak ada ingin lagi menunjuk pria itu, rupanya aku baru sadar kami sama sekali tak pernah ada kontak fisik.

 

Seorang pegawai di dekat gerbong paling ujung melambaikan tanda hijau. Peluit panjang mengiringi tertutupnya pintu gerbong dengan serentak bersamaan dengan suara pria paruh baya yang masih bertanya atas kebingunganku. Lambat laun menjadi hening, bahkan tak lagi kudengar suara roda besi yang melaju semakin jauh.

 

“Oiya!” aku teringat tentang kursi tunggu yang sempat kuajak bersedih tadi. Aku berlari begitu saja.

 

Aku tiba di kursi tunggu yang sama. Beberapa deret tampak sepi karena kepadatan tadi telah tergusur oleh kedatangan kereta Pramex. Tinggal aku yang tak terangkut. Gawai ku pun rupanya lenyap, sudah tidak kutemukan di kursi yang tadi kuprasangkai.

 

Senja turut muram, membuatku tak tega untuk mengumpat lagi.

 

“Mbak, kopernya.” Agaknya ia ingin mengikutiku dan senja yang tengah murung dengan turut duduk didekatku.

 

“Mas kayak cenayang.”

 

“Anggap saja saya cenayang beneran, jadi beberapa limaribuan – yang enggak jadi tadi – kasihkan saya saja!” sembari nyengir ia benar-benar menjulurkan tangannya untuk bersiap menerima uang.

 

Aku hendak memberinya beberapa limaribuan.

 

“Bercanda, Mbak”, katanya diakhiri dengan kata “hehe”

 

Aku memasukkan uang itu lagi, marah tak bisa, ikut tertawa juga segan, mau menangis …Ah, yang benar saja!

 

“Kereta selanjutnya jam 08.15, Mbak. Tetap mau ke Jogja, tho? Apa bete terus mau pulang saja?” Aksennya terdengar medok.

 

“Untuk sampai ke rumah saya harus ke Jogja, Mas”

 

Jawabanku disambut dengan kalimat “O” panjang.

 

“Di Solo sibuk ya, Mbak?”

 

Setelah hening yang lumayan panjang, pria itu kembali membuka obrolan.

 

“Semua orang sibuk, Mas.” Sejujurnya aku tak berminat tuk menanggapi, tapi di keadaan sepi seperti ini apa lagi yang dapat kulakukan selain mengobrol?

 

“Benar juga. Memang baru bisa disebut kota kalau warganya sibuk. Jadi lampu-lampu di jalan bisa terus nyala. Bensin sama solar juga terus ngalir jadi kebul, tukang tambal ban juga biar bisa pasang paku. Eh, maksud saya nambalin ban.” Jelasnya diakhiri dengan kata “hehe” kembali.

 

Aku tidak menemukan sebuah kelucuan, tapi usaha nya untuk menghiburku, setidaknya pantas untuk kuhaturkan sebuah senyuman, “Mas, kalau mau balik monggo, lho!”

 

“Lho, saya mau ngobrol kok malah disuruh pulang?”

 

Sama saja. Pasti ada maunya.

 

“Modus!”

 

Aku beranjak menyeret koper menuju loket – lagi – untuk memesan kereta yang sama.

 

“Mbak, Pramex yang 08.15. Satu.” Tiket kembali ku genggam, namun aku enggan menunggu di kursi yang sama. Bukan karena takut koperku hilang, hanya saja pria itu masih duduk di sana dengan tatapan dan senyuman yang sama.

 

“Mau saya bawakan, Nona.” Kata-kata itu kembali di telingaku. Baru saja beberapa langkah dari loket, pria itu telah sampai di belakangku dan berbisik hal yang sama.

 

“Sebenarnya maunya situ apa sih? Ngajak jalan?” Suaraku agak meninggi sekaligus was-was.

 

“Kalau saya mau sih, saya ajak tidur, mbak.”

 

Sungguh benar-benar tak ada refleks untuk menampar seperti yang kerap digambarkan oleh sinetron. Aku otomatis menggigil ketakutan. Masalahnya juga, aku tak memiliki bakat silat atau smackdown. Jadi, satu-satunya jalan adalah pergi secepatnya.

 

Kereta baru akan datang satu setengah jam lagi, aku memilih duduk-duduk di luar stasiun saja. Mencari keramaian adalah hal terlogis yang dapat kupikirkan saat ini. Akhirnya aku duduk di trotoar yang penuh tukang ojek dan becak, serta pedagang sekaligus pembelinya yang lumayan ramai.

 

“Ehem…” Suara datang dari belakang, lagi-lagi pria itu berhasil menguntitku. Kejelian matanya sungguh perlu dihargai. Aku sempat curiga, dia itu kalau tidak agen BIN atau CIA,  sudah pasti ya renternir.

 

Dia kini duduk disampingku lagi dengan sedikit menjaga jarak. “Kan kalau saya mau, Mbak.” Jelasnya padaku. Aku mengernyitkan dahi.

 

“Bukannya orang pacaran juga kayak gitu ya, bahasanya saja yang diperhalus.”

 

“Maksudnya?”

 

“Meniduri berarti saling menyentuh, berkasih pun kini juga harus saling menyentuh, kan? Setidaknya di depan kamera lah. Kemesraan harus ada simbolnya, harus ada buktinya.  Apalagi jaman sekarang, kata “tidur” bisa disinonimkan sekaligus diperhalus kata dan maknanya. Ya tho, Mbak?” Pria itu sesekali menatapku, sesekali menatap baliho rokok di sebrang jalan raya.

 

“Soal kepuasan? Tetap beda.” Aku akhirnya larut.

 

“Kepuasan itu relatif sesuai jaman, Mbak. Sekarang pun berhasil ngajak malam mingguan, nonton bioskop atau olahraga bareng itu ya kepuasan. Coba mbak bayangin orang dulu, kepuasan yang intim ya cuma tidur mbak. Itu kalo ngomongin pinggul ke bawah, lho!”

 

“Jadi kalau kuandaikan sama petani, bisa dong?”

 

“Maksudnya?” gantian ia yang bingung.

 

“Ya petani kalau dulu nanem ya mikirnya cuma buat makan, kalau sekarang ada tetek-bengek pembangunan, mengharuskan petani jual ini itu atau beli ini itu. Kebutuhan jadi bukan cuma soal perut, tapi udah beralih ke gaya hidup sesuai jaman.”

 

“Nah! Jadi sudah enggak mutung lagi tho sama omongan saya tadi” tak lupa mengimbuhi kata “Hehe”.

 

“Memang jaman itu merubah pola pikir dan pola mutung kok, Mas.” Kami tertawa.

 

“Di sebrang situ ada perpustakaan kecil, keliatan kan, Mbak?” Ucapnya sembari menunjuk agak jauh. Aku mengangguk pelan.

 

“Saya kerap beli batagor didekat perpustakaan itu.”

 

“Sembari makan batagor, saya kerap dengar desas desus perpustakaan itu bakal tutup. Alasannya ya bisa mbak lihat sendiri, sepi gitu. Ada yang udah berencana buka kedai makanan disana, ada juga yang mau bikin bisnis karaoke, jual pulsa sampe mau bangun rumah. Dari desas desus itu, saya jadi berubah pandangan. Justru perpustakaan itu ramai lho mbak, bukan sepi.” Jelasnya dengan mata yang berbinar.

 

“Hmm, aku enggak paham” kali ini aku yang ketularan mengimbuhi dengan kata “hehe”.

 

“Yaa… coba mbak bandingkan sama jalan raya ini, sepi mana?”

 

“Mas, bercanda? Ya jelas sepi perpustakaan banget lah, Mas.” Aku terkekeh.
“Jalan raya itu sepi Mbak, motor sama mobil yang lalu lalang dari pagi ke pagi itu cuma menganggap jalan raya sebagai aspal. Jarang ada yang mau mengobrolkan jalan, paling-paling cuma dirutuki. Ya tho? Apalagi kalau ada jalan rusak, penambahan lampu merah atau papan baliho. Tapi, itu masih mending digagas orang, lha kalau sudah buat buang puntung rokok sama tisu.”

 

Aku menatap sorot lampu kota dalam diam, bising lalu lalang kendaraan seperti teredam oleh suara pria ini. Batas antara sepi dan ramai begitu samar bila dirasakan kembali.

 

“Mbak, maaf. Ini hapenya. Saya kembalikan.” Keheninganku terpecah.

 

“Loh??”

 

“Kadang perlu untuk menikmati kesendirian supaya menemukan keramaian, Mbak. Saya kira gawai ini pun cuma simbol keramaian yang menjelaskan betapa sepinya hidup.”

 

Aku tidak dapat memilih ekspresi lain selain diam.

 

“Jangan takut, mbak. Saya bukan jelmaan malaikat, dewa apalagi Tuhan. Cuma tadi sore saya duduk disamping sampeyan sewaktu lagi nangis habis buka buka hape.”

 

Aku tidak dapat memilih ekspresi lain selain diam.

 

“Ini saya kembalikan. Hehe” Ucapnya sekali lagi sembari menyodorkan gawai itu.

 

“Boleh saya ganti beberapa limaribuan tadi dengan gawai saya itu?” Aku beranjak berdiri. Sudah hampir sepuluh menit sebelum keberangkatan keretaku.

 

Kali ini dia yang diam, agaknya samar dengan maksudku.

 

“Saya titipkan sama Mas.”

 

Pria itu turut beranjak dan tersenyum heran. Sebuah keheningan turut menghentikan waktu. “Sekarang, haruskah kita bertukar nama?”

 

“Kurasa tidak hari ini.”

 

Langkah kaki berbeda mengiringi kedua senyum kami. Pandanganku mengarah pada kereta, meninggalkan ia yang masih menatap lampu kota.

 

 


Ririn Setyawati

Seorang mahasiswi pembelajar pesan. Sering dikatakan terlalu belia dan belum pantas. Namun, menepis stempel dini bukan merupakan hal yang salah. Mencoba mengimplikasikan ‘manusia bermoral’ seperti apa yang diharapkan Moctar Lubis dalam pahamnya. Surel: ririnsetya198@gmail.com.

Baca Juga

Menjaga Nama Baik

Berita Palsu Pagar-pagar rumah semakin tinggi. Menjadi pembatas antara diri sendiri dengan dunia luar yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *