> Laporan Khusus > Benang Kusut Hadiah OSM (Bagian II)
(Foto: Dokumentasi Pribadi Panitia OSM 2017)

Benang Kusut Hadiah OSM (Bagian II)

Oleh: Ririn Setyowati

 

Pihak panitia OSM, Mawa UNS serta para pemenang OSM yang bersangkutan sudah sama-sama merasa lelah. Tapi sampai saat ini, mereka masih saling menunggu, menunggu, menunggu….

JAUH sebelum OSM 2017 dimulai, BEM UNS sebenarnya telah mengadakan pertemuan dengan Forum Komunikasi (Forkom) antar UKM. Salah satu isi pertemuan tersebut adalah permohonan BEM UNS kepada beberapa UKM olahraga untuk membantu pelaksanaan OSM. Pertemuan dipimpin langsung oleh Muhammad Iqbal Nur Syamsi, wakil presiden BEM UNS 2017 sekaligus Ketua Forkom. Mengetahui hal ini Rahmad Sukidi, ketua pelaksana OSM 2017 merasa tenang.

 

“Secara teknis kan teman-teman BEM UNS tidak begitu menguasai. Jadi OSM bekerjasama dengan UKM basket, voli, bulutangkis, catur dan sepak bola. Rencananya begitu. Mereka akan terlibat di kepanitiaan.” Namun realita tak sepenuhnya sesuai harapan. Beberapa UKM mengaku tak tahu akan dilibatkan dalam OSM. “Itu baru ketahuan pas kami [panitia OSM] kunjungan ke beberapa UKM.”

 

Mengetahui hal itu mahasiswa Pendidikan Luar Biasa (PLB) yang kerap disapa Memed ini megulang permohonan tersebut. Namun, karena mepetnya jangka waktu penetapan  panitia, akhirnya hanya UKM bulu tangkis, basket dan catur saja yang bersedia terlibat.

 

Gelaran ini diakui Memed memang membutuhkan banyak panitia. Pasalnya, saat itu OSM 2017 bersamaan dengan jadwal Ujian Tengah Semester (UTS). “Acaranya juga 30 hari non-stop. Jadi harus pakai sistem shift,” kata Memed.

 

Sehingga OSM 2017 yang awalnya menargetkan keterlibatan sampai 80 panitia, akhirnya harus legawa dengan hanya 45 panitia saja. “Ditengah-tengah pelaksanaan kami juga harus oprec volunteer lagi. Total pendaftar 22 orang. Semua langsung diterima saking kami kekurangan panitia.” Panitia yang ada juga harus merangkap tugas di beberapa divisi.

 

Kendala bagi panitia OSM 2017 ternyata tak berhenti di situ. Beban tanggungan hadiah OSM 2016 masih terseret sampai ke OSM 2017.

 

Bagi Memed, ia dan panitia OSM 2017 tahu betul dengan permasalahan ini . “Kami tahu, makanya panitia mengusahakan hadiah untuk tahun 2017 berupa uang tunai. Rancangan dana pun sudah kami ajukan.” Namun usaha Memed tak begitu sukses. Dalam sebuah pertemuan antara BEM UNS dan Biro Mawa, pihak Mawa malah kembali mengusulkan hadiah bagi para pemeneang OSM berupa keringanan UKT.

 

Merasa kurang yakin, beberapa panitia OSM 2017 mendatangi Prof Darsono, Wakil Rektor bidang Alumni dan Kemahasiswaan untuk membicarakan hal itu. Hasil akhir dari pertemuan tersebut yakni; hadiah individu bagi para pemenang tetaplah keringanan UKT.

 

Begitu OSM 2017 usai digelar. Hadiah buat juara umum I, II dan III berlangsung aman terkendali sesuai yang dijanjikan panitia. Sayangnya, hadiah pemenang individu yang berupa potongan UKT mengulangi kenangan buruk tahun sebelumnya.

 

 

 

MENURUT Memed, dalam proses perwujudan hadiah keringanan UKT, panitia berpedoman pada kitab OSM 2017. Di situ tertera kesepakatan bahwa hadiah individu tidak diurus oleh panitia, melainkan diproses secara individu oleh pemenang. Memed bahkan mengklaim bahwa seharusnya perjanjian tersebut sudah sah dan jelas. Pasalnya, “kitab dibuat bersama-sama oleh perwakilan atlet dan BEM Fakultas. Ada tandatangan MOU juga.” Pemahaman itu yang kemudian membuat panitia merasa telah menyelesaikan tanggung jawabnya.

 

Sampai akhirnya seorang pemenang menyampaikan komplain kepada Memed melalui pesan pribadi. “Beberapa bulan kemudian [pasca OSM 2017] saya dikabari Mbak Theresia kalau proposalnya ditolak Mawa fakultas.”. Alasan penolakan juga bukan karena ketidaklengkapan berkas, melainkan karena ketidaktahuan mawa fakultas tentang hadiah keringanan UKT dari OSM 2017.

 

“Kami kemudian kroscek ke mawa-mawa fakultas dan ternyata benar proposal dari FISIP, FT dan FKIP ditolak.” Memed mengklaim penolakan dari mawa fakultas menjadi salah satu faktor lamanya proses perwujudan keringanan UKT.

 

Karena tak menemui titik terang, Memed dan beberapa panitia kembali menemui Prof Darsono. Mereka meminta memo berisi himbauan kepada mawa fakultas untuk segera mengurus pencairan hadiah OSM 2017.

 

“Prof Dar bahkan menghubungi serta menjelaskan langsung kepala mawa dan dekan fakultas. Tapi setelah kami kembali ke mawa fakultas proposal tetap ditolak. Mawa fakultas nggak paham [OSM] itu apa.”

 

Setelah enam bulan berlalu audiensi pun diadakan. Panitia, pemenang dan mawa dipertemukan untuk saling menjelaskan masalah terkait OSM 2017, terutama terkait hadiah keringanan UKT. “Dari mawa kemudian menyepakati akhirnya [pengumpulan berkas] tidak usah lewat fakultas tapi langsung ke BEM Universitas, baru setelah lengkap diajukan ke Mawa pusat.”

 

Gawatnya, informasian tentang proposal pengajuan ternyata selama ini salah. Seharusnya, yang droposal pribadi atau per-fakultas. Melainkan data semua pemenang OSM 2017 yang dikumupulkan menjadi satu bendel.

 

Informasi tersebut kemudian dipublikasikan melalui press release. Dibagikan lewat akun instagram OSM 2017 dan dibagikan ke grup pemenang OSM 2017 agar panitia dan pemenang yang tidak datang juga bisa mengetahui.

 

Para pemenang lagi-lagi dihimbau untuk mengumpulkan berkas. Namun kali ini diserahkan kepada perwakilan BEM Fakultas yang telah dimintai tolong panitia untuk membantu.

 

Sayangnya, kesalahpahaman kembali terjadi. Beberapa pemenang bukan mengumpulkan berkas ke perwakilan BEM Fakultas melainkan langsung ke mawa pusat. Hal itu membuat berkas kembali tercecer. “Akhirnya kami harus mengambilnya lagi dari mawa. Satu persatu.” kata Memed.

 

Adanya himbauan dari mawa agar semua pemenang segera mengumpulkan berkas pengajuan keringanan UKT, mau tak mau membuat panitia melakukan metode jemput bola. “Soalnya yang mengumpulkan itu-itu saja: FISIP, FT, FKIP, FMIPA”. Panitia akhirnya mengalah dengan mencari kekurangan berkas seperti surat tugas, KTM, meminta kembali sertifikat yang sudah diambil pemenang, melegalisir fotocopy sertifikat dan meminta slip UKT.

 

“Yang paling sulit mencari slip UKT, karena harus masuk SIAKAD. Otomatis butuh akses pribadi kan.” Memed sadar betul ada pemenang yang memang sudah tak ingin mengurus, baik karena sudah lulus, akan lulus atau karena merasa prosedurnya terlalu rumit.

 

Meski baru mencari berkas para pemenang saat OSM 2017 sudah lewat. Padahal KTM para peserta sendiri sebelumnya  sudah dijadikan berkas syarat pengajuan mengikuti OSM. Memed beralasan kelambanan itu dipengaruhi oleh para pemenang yang tak kunjung mengumpulkan berkas sehingga membuat pengumpulan  berkas ke Mawa tertunda.

 

Setelah proses tarik ulur panjang,, akhirnya mawa memutuskan, untuk mengurus keringanan bagi yang mengajukan saja. Tak cuma itu, tenggat waktu pengumpulan berkaspun ditambah satu setengah bulan.

 

 

PADA awal tahun, Biro Mawa Pusat mengaku telah mengadakan rapat koordinasi dengan Organisasi Kemahasiswaan (ormawa) UNS. Di sana ormawa dipersilakan mempresentasikan rancangan program dan dana selama satu tahun. Termasuk tentang hadiah OSM yang akhirnya disepakati kedua pihak dengan uang tunai dan keringanan UKT.

 

Prosedur pengajuan keringanan UKT sebagai hadiah para pemenang juga telah disampaikan di forum itu. Termasuk alur pengajuan sampai format proposal.

 

Pengajuan keringanan UKT sebagai hadiah OSM juga tidak seharusnya diajukan ke mawa fakultas.  Pasalnya OSM merupakan kegiatan dengan skala universitas, bukan fakultas. Tentu saja kewenangan langsung pada biro Mawa pusat.

 

Artinya, memang ada prosedur tertentu yang harus digenapi. “Ini uang negara. Ada Badan Pemeriksa Keungan (BPK) yang nanti akan memantau dan mengevaluasi,” kata Narno. Pengajuan keringana UKT yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa di luar masa tinjau keringanan UKT dinilai dapat menimbulkan kecurigaan dari auditor. Inilah yang dijadikan alasan oleh pihak Mawa terkait keharusan membendel berkas pemenang secara lengkap.

 

Terkait kendala beberapa pemenang yang sudah tidak mau mengurus. Narno mengaku sudah menyarankan dan meminta tolong panitia untuk membantu mengurus. “Siapa tahu dia memang butuh. Biar nanti panitia yang dapat pahala.”katanya.

 

Bagi para pemenang yang sudah lulus, menurut Mawa, wujud keringanan bisa dikembalikan dalam bentuk uang tunai. Masa berlaku sertifikatpun sudah ditoleransi. Pihak panitia, Mawa pusat serta para pemenang OSM sama-sama menanti benang kusut hadiah OSM ini segera terurai. Namun sampai saat ini, pihak panitia OSM dan Mawa Pusat masih menunggu terkumpulnya berkas para pemenang. Entah sampai kapan.[]

Penyunting: Vera Safitri

 

 

Baca Juga

Benang Kusut Hadiah OSM (Bagian I)

  (Oleh: Ririn Setyowati)   Iming-iming hadiah berupa Potongan UKT bagi para pemenang tak kunjung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.