> Catatan Kentingan > Bahasa Indonesia, Riwayatmu Kini

Bahasa Indonesia, Riwayatmu Kini

Siang hari yang cerah di hari Jumat, sekali lagi agenda diskusi rutin LPM diadakan kembali. Diskusi pada sesi awal hanya terdiri dari delapan orang plus pembicara. Walau secara kuantitas kurang, diskusi tetap berjalan dengan lancar. Judul diskusi kali ini adalah “Bahasa Indonesia, Riwayamu kini.” Diskusi memperbincangkan eksistensi bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional. Bahasa nasional berarti juga mengandung makna sebagai bahasa pemersatu.

Lalu apa itu bahasa nasional? Setiap bangsa pasti memiliki bahasa nasional yang dapat dipahami oleh setiap warga negara. Di Indonesia sendiri kita mengenal bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa pemersatu dan sebagai identitas nasional. Dalam sumpah pemuda juga tercantum bahasa pemersatu adalah bahasa Indonesia. Lalu yang menjadi pertanyaan, apakah setiap waktu kita harus memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar (sesuai EYD)? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, marilah kita simak hasil diskusi rutin Jumat kali ini dan coba renungi sendiri untuk menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan diatas.

Masih banggakah kita untuk menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari? Menurut Rochmad selaku pemakalah diskusi kali ini menjelaskan beberapa hal mengenai riwayat bahasa Indonesia. Sebagai mahasiswa sastra Indonesia, Rochmad memandang bahwa penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar masih jarang ditemui dalam pergaulan sehari-hari. Masih banyak orang yang menggunakan bahasa daerah ketika berbincang-bincang dengan teman, maupun para akademisi yang lebih bangga menggunakan bahasa Inggris dengan lancar dan fasih daripada menggunakan bahasa Indonesia yang baik sesuai EYD.

Baberapa detik dan menit telah berlalu, tak di duga tak disangka semakin banyak pula kentinganers yang berkunjung ke sekre hingga menjadikan sekre ramai dan prosesi diskusi semakin hidup.

Ada pandangan yang perlu diluruskan ketika kita membicarakan kebanggaan sebagai warga Indonesia untuk menggunakan bahasa nasional bahasa Indonesia. “Kita lihat dulu apa fungsi pokok dari penggunaan bahasa itu sendiri? Bahasa merupakan tanda yang digunakan untuk menyampaikan maksud dari satu orang kepada orang lain, begitu juga pada media, unsur penggunaan bahasa sangat diperhatikan, mengingat suatu kata dapat di pelintir dengan berbagai macam pengertian.” Kata Rina.

Dalam menggunakan bahasa tentu bahasa itu adalah bahasa yang mudah dipahami oleh orang yang kita ajak bicara, supaya pihak-pihak yang sedang berkomunikasi mampu menangkap pesan yang sebenarnya dari maksud perkataan itu sendiri. Keadaannya akan lain apabila ketika kita berbincang-bincang dengan orang yang tidak dapat berbicara bahasa Indonesia dengan baik, namun kita ajak berbicara dengan bahasa Indonesia. Maka yang terjadi adalah diskomunikasi atau ketidaksinkronan antara makna yang ingin disampaikan dengan makna yang dapat di tangkap oleh si pelaku komunikasi. Realitanya masih ada beberapa orang yang belum bisa mengaplikasikan bahasa Indonesia ketika melakukan percakapan maupun sekadar mengobrol, padahal ia adalah warga negara Indonesia yang juga tinggal di wilayah Indonesia. Dalam hal ini Rohmad menambahkan bahwa penggunaan bahasa Indonesia juga perlu memperhatikan orang yang diajak berbicara apakah ia memang mengerti tentang bahasa Indonesia. Dominannya penggunaan bahasa daerah terkadang menyebabkan kurangnya intensitas penggunaan bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari. Sehingga tidak jarang ditemukan beberapa orang yang gagap ketika harus menyampaikan sesuatu dengan bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia merupakan bahasa Nasional, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang dapat menunjukkan identitas diri kita sebagai bangsa Indonesia. Contoh: ketika di luar negeri, masyarakat akan menggunakan bahasa internasional (bahasa Inggris) dalam percakapan. Ketika ada sesama warga negara Indonesia, atau ketika ada perkumpulan mahasiswa Indonesia di luar negeri, penggunaan bahasa Indonesia diantara mereka bisa menjadi salah salah satu ciri khas yang dapat menunjukkan darimana orang itu berasal.

Dalam  perkembangannya (bahasa Indonesia) mengalami sedikit perubahan. Sebagai bahasa yang dinamis, bahasa Indonesia mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Misal dengan masuknya bahasa serapan semakin memperkaya perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia.

Menurut Titis, kosakata atau perbendaharaan kata dalam berbahasa sangat berperan penting. Misalkan pada seorang novelis, dia membutuhkan banyak kosakata untuk “menghidupkan” karyanya supaya nyaman ketika dibaca. Berapa banyak novelis yang “memudar pesonanya” karena novelnya kurang menarik untuk dibaca? Menurut saya seorang novelis pun membutuhkan banyak kosakata supaya karyanya “kaya” dan tidak menjemukan ketika novel itu dibaca” tambahnya.

Ada banyak hal menarik ketika kita membicarakan eksistensi penggunaan bahasa Indonesia dewasa ini. Misalkan saja dari ngetrendnya penggunaan bahasa alay bagi kawula muda maupun penggunaan bahasa nge-mix atau campuran antara bahasa Indonesia dengan bahasa daerah. “Sebenarnya hal itu tidak perlu dipermasalahkan, kita tinjau dulu apa itu fungsinya bahasa. Bahasa itu kan untuk komunikasi, ya selama orang yang kita ajak bicara mengerti apa maksud dari ucapan kita, saya rasa itu tidak masalah.” Kata Rina

Mendekati sesi akhir diskusi, Titis yang duduk di samping kanan Titik menambahkan beberapa hal. Bahwa penggunaan bahasa pada era globalisasi ini tak lagi sekadar untuk berkomunikasi, namun juga ada terdapat berbagai pemaknaan. Adanya bahasa serapan juga karena globalisasi, seperti kata discount di ubah menjadi diskon, mall menjadi mal, dan lain-lain. Namun seperti yang kita ketahui bahwa bahasa serapan semakin populer dan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari sudah dianggap biasa. Begitu juga dengan bahasa Inggris yang penggunaannya hampir masuk kebanyak bidang. Bahasa menurutnya juga bisa mempunyai nilai jual, seperti yang terdapat pada bahasa iklan. “Kalau kita amati bahasa iklan baik di media televisi maupun cetak seperti pada majalah, kita juga bisa menemukan berbagai kata dalam bahasa Inggris, seperti price, order, buy, dll.”

Dalam kehidupan ini kita tak dapat memisahkan dengan apa yang namanya bahasa, karena bahasa merupakan suatu simbol untuk menyampaikan sesuatu dari yang semula hanya terletak pada pikiran (ide/ gagasan) kemudian dapat tersampaikan pada orang lain.

Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari tidak perlu banyak dipersoalkan, yang lebih penting adalah bagaimana mengaplikasikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang dapat menunjukkan identitas bangsa serta menunjukkan kebanggaan nasionalis, mungkin itulah yang perlu diwujudkan.

Selama orang  Indonesia mencintai bahasanya sendiri (bahasa Indonesia), maka bahasa tersebut akan tetap eksis. “Walaupun kita sudah memasuki era global dan penggunaan bahasa asing semakin marak, menurut saya bahasa Indonesia masih baik-baik saja dan tetap eksis.” Kata Titis.

(Isdiega)

Baca Juga

Ngasal Usul

Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *