> Lha Nggih > AS[P]AL

AS[P]AL

SIANG ITU Solo terik. Seusai membeli buku di loakan Gladak, Tomblok mencari tempat untuk ngadem seraya menunggu waktu berbuka. Ngadem di Batik Solo Trans (BST) dirasa jadi pilihan tepat. Sambil muter-muter dan menilik kesibukan jalan-jalan kota.

 

Tak lama menunggu di Halte, BST datang. Tomblok asal naik saja, meski tidak jelas mau kemana. Tujuannya manut sopir saja.

 

Penumpang hanya beberapa. Bangku-bangku banyak yang kosong.

 

“Mau tindak kemana, Mas?” sapa seorang penumpang laki-laki senja.

 

“Wah, cuman pengen muter-muter saja ini, Pak. Kota-kota ceritanya,” sambut Tomblok sambil cengengesan.

 

“We-e-e, lha dari mana? Kok dari bawaannya, kayaknya habis belanja,”

 

Inggih, dari Gladak ini tadi. Cari-cari bahan bacaan,”

 

Tak begitu lama dari Halte tempat Tomblok naik, lalu lintas mulai macet. Ada pengaspalan jalan.

 

Waduh, mulai macet iki,” keluh Tomblok.

 

“Dasar, kebiasaan!” gertak si Bapak.

 

“Kebiasaan pripun, Pak?”

 

“Saya memang sering ngeluh gini. Pangapunten, Pak,” lanjut Tomblok.

 

Mboten, Mas. Bukan panjengan yang saya maksud,”

 

Lha ada apa to, Pak?”

 

“Ini lho, Mas. Pemerintah kita itu kebiasaan.”

 

“Kebiasaan gimana?” susul Tomblok.

 

“Kebiasaan, Mas. Dari sejak dulu, dulu sekali. Jalan-jalan kita itu enggak pernah beres. Sekalipun jalan raya wis.”

 

“Kok saya mboten paham, Pak, he-he-he,”

 

“Ya begini contohnya. Pengaspalan jalan pasti dilaksanakan pas mepet-mepet waktu mudik lebaran. Lalu lintasnya jadi kacau. Kasihan orang-orang yang di jalan pas puasa kayak gini. Apalagi kalok mau pulang kampung, perjalanannya pasti terganggu,”

 

“Kualitas aspal kita enggak begitu bagus, Mas. Setiap tahun pasti ada saja penambalan jalan aspal kayak gini. Kalok enggak percaya, coba panjenengan inget-inget, Mas. Setahun ke depan, jalan ini ya bakal di tambal lagi,” lanjut si Bapak.

 

“Wah, leres Pak leres. Saya sering lihat pengaspalan jalan kayak gini, apalagi kalok musim mudik lebaran gini. Tiba-tiba proyeknya rame-rame,”

 

“Ya memang gitu itu, Mas. Harusnya, kalok mau nambal-nambal jalan begini hambok pas jalan enggak begitu ramai. Pengerjaanya pas enggak mepet hari raya atau liburan. Lha kok pas rame-ramenya malah pengguna jalan dirusuhi begini, kan kasihan to ya,”

 

Inggih, Pak. Nanti lama-lama jadi tambal-tambalan jalannya. He-he-he,” timpal Tomblok.

 

“Nah, ya itu. Barangkali itu cerminan kebiasaan kita juga,”

 

Weh. Lha kok bisa, Pak?”

 

“Ya iya. Suka serampangan. Sekalipun kalok mau memperbaiki sesuatu. Sukanya nunggu rusak baru diperbaiki, enggak nyoba merawat pas udah bagus. Luputnya, pas memperbaiki, udah telat. Jadi ya ngasal saja,”

 

“Ya daripada tidak sama sekali lho, Pak, He-he-he,”

 

“Ya, iya. Tapi wis terlanjur telat!”

 

“Jadi ngaspal gitu ya, Pak,”

 

“Kok ngaspal to, Mas. Ngasal!”

 

“Eh, ngasal to. He-he-he”[]

 

 

Muhammad Ilham

Mahasiswa Sosiologi UNS 2014. Surel: muhhil@gmail.com

Baca Juga

Buku Mendahului Makanan

ARISTOTELES PERNAH BERKATA: primum vivere, deinde philosophari, ‘berjuang dulu untuk hidup, barulah boleh berfilsafat’. Selama …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *