> Laporan Khusus > Aku Ini Binatang Lajang dari Kumpulannya Terbujang

Aku Ini Binatang Lajang dari Kumpulannya Terbujang

Oleh: Udji Kayang Aditya Supriyanto

 

Cinta itu buat kapan-kapan, kala hidup tak banyak tuntutan.” (Silampukau – Cinta Itu)

 

PADA suatu zaman, entah kapan, seorang tua termenung di kamar sempit bercorak gothic. Ia terduduk di kursi empuk, gelisah mengeja sejarah. Menguping renungannya, boleh disimpulkan bahwa si tua itu orang cerdas. “Ah, semua telah kupahami! Filsafat, ilmu hukum dan kedokteran. Bahkan, sayangnya, juga teologi! Dengan sangat giat, habis tuntas kupelajari. Beginilah aku sekarang, si gila yang malang.” Pembaca sastra yang baik mesti dengan mudah mengenali sosok tersebut. Tepat, Doktor Faust.

 

Tidak diragukan lagi, Faust tua menggelisahkan sesuatu yang ia belum juga tahu. Tuhan, serta apa yang manusia lakukan setelah mati, adalah beberapa hal yang masih mengganjal baginya, tak peduli sehebat apa ilmunya. Satu-satunya cara mengetahui apa yang manusia lakukan setelah mati, dan barangkali juga membuktikan eksistensi Tuhan, adalah dengan melampaui kehidupan. Mati. Dengan tekad bulat, Faust hendak meneguk ramuan yang dapat seketika membunuhnya tanpa rasa sakit. Tapi, sesosok anjing pudel menubruknya, menggagalkan upaya bunuh diri itu.

 

Belum selesai kagetnya, Faust masih harus tertegun menyaksikan anjing pudel itu menjelma makhluk asing. “Siapa namamu?” Pertanyaan yang spontan meluncur dari mulut Faust. “Pertanyaan itu tampak tak berarti, bagi yang mempercaya kata tak terlalu berharga, yang menjauh dari hal fana, dan hanya dalamnya hakikat menarik hati.” Tapi pembaca boleh langsung menyebut Mephistopheles sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut, toh kita sama-sama tahu. Mephisto, demikian ia disapa, adalah sesosok iblis yang menggoda Faust agar terjebak perjanjian dengannya. Apakah membuat perjanjian dengan iblis lebih baik ketimbang bunuh diri? Entahlah.

 

Dalam perjanjian satanis itu, Mephisto menawarkan kemudaan bagi Faust, agar ia punya lebih banyak waktu guna memenuhi hasrat keingintahuannya. Sekedipan mata saja, Faust tua menjelma seorang pemuda, dengan kata lain, usianya mundur berpuluh tahun. Pertanyaannya, apakah dengan demikian Faust kemudian sanggup memecahkan rahasia Tuhan, atau bahkan kematian? Tidak juga. Bahkan, ia berkesimpulan bahwa Tuhan mungkin pencipta manusia dan segala makhluk, namun bisa juga justru manusia yang mencipta Tuhan. Tentu saja dalam pencariannya itu, Faust dipengaruhi Mephisto. “Begitulah kebenaran yang didengar oleh setiap hati, yang diturunkan dari surga dengan lafal yang berbeda-beda,” simpul Faust.

 

Satu hal yang jelas-jelas dipecahkan Faust muda, yang selama puluhan tahun tak ia jamah, ialah pengalaman (ber)cinta. Pertemuannya dengan Margaret, yang kemudian disapa Gretchen, rupanya menggejolak hatinya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia berjumpa dengan satu hal yang belum juga ia pahami. Bukan Tuhan maupun kematian, tapi cinta! Meski pemuasannya senantiasa melibatkan lawan jenis, kemudian seks. Dari sini, sekira boleh mempertanyakan kaitan antara aktivitas intelektual dan hubungan percintaan. Begitu mengganggukah cinta, sampai dahulu Faust rela mengabaikan hasrat itu demi pergulatannya dengan intelektualitas? Apa mustahil seseorang bergelut dengan intelektualitas dan cinta dalam waktu bersamaan?

 

Kegaduhan

 

Pacaran. Beberapa orang memilih untuk pacaran agar mendapatkan pengaruh positif, seperti motivasi (Foto: Fajar Andi/LPM Kentingan)
Pacaran. Beberapa orang memilih untuk pacaran agar mendapatkan pengaruh positif, seperti motivasi (Foto: Fajar Andi/LPM Kentingan)

 

 

 

Pada suatu siang, melompat beribu abad dari era Faust, duduk seorang mahasiswa menanti datangnya makanan. Kantin FISIP selalu riuh akan senandung gunjingan. Asap rokok dari segala penjuru berhamburan. Kadang-kadang pun terselip, ups, makian. Di situ Andy Dwi Putranto, mahasiswa jurusan sosiologi, menceritakan kisah asmaranya. Andy pernah pacaran, namun bagaimana mulanya? “Aku pacaran sebenarnya karena teman-teman. Cuma aku yang belum punya pas itu, makanya aku cari pacar, biar kayak teman-teman,” papar Andy. Mendengar kesaksian itu, pembaca yang budiman boleh lho untuk sementara membantah argumen Felix Siauw: laki-laki yang memacari perempuan ujung-ujungnya pasti seks.

 

Sebagai mahasiswa, Andy sadar betul dengan konsekuensi atas pilihannya saat itu. Pengaruh positif pasti ada, terkhusus urusan motivasi. “Kalau pas lagi banyak tugas begitu, ada pacar yang bisa menyemangati,” ujar Andy. Tapi yang perlu diperhatikan, pacaran seringkali menuntut komunikasi yang intensif. Andy pun sempat mengeluhkan itu. Ia merasa kehabisan waktu luang untuk meladeni kerinduan pacar melalui SMS atau telepon. Barangkali karena Andy memang ngangenin, mungkin pula ada alasan lain. Seturut Chairil Anwar, “nasib adalah kesunyian masing-masing.” Meskipun di luar sana memang banyak laki-laki yang berkeluh serupa dengan Andy.

 

Pada akhirnya, nasib yang juga harus diterima Andy adalah “putus” hubungan. Tak jelas betul apa yang menyebabkan sepasang kekasih itu berpisah, kapan, dan siapa yang memutuskan. Sebab, perkara itu memang tak perlu dikorek lebih dalam. Saat ini, Andy akui sendiri, ia memilih untuk sendiri dulu alias jomblo. Satu hal yang jelas, apa yang dialami Andy adalah pembelajaran bagi yang lain. Sebab, sekali seorang manusia memilih, maka ia memilih untuk seluruh umat manusia. Pilihan itu menyiratkan bahwa pacaran tak sepenuhnya enak. Seusai berpacaran, Andy sendiri lebih berhati-hati dalam berkeputusan. Ogah jatuh di “lubang” yang sama.

 

Bagaimana dengan pandangan perempuan? Dari sisi meja yang lain, Efitya Fitria Istifarin pun urun pendapat. Mahasiswi Sosiologi tersebut bersyukur dengan keadaannya sekarang, pilih menjaga dan memantaskan diri untuk orang  yang tepat (baca: jodoh). Ia berkata, “Aku masih percaya, orang baik akan dapat orang baik, begitu pula sebaliknya.” Kebutuhan alamiah tiap manusia atas kasih sayang tak serta-merta mendesak Efitya untuk pacaran. Dikarenakan ia mahasiswi, maka lebih baik banyak-banyak berteman dulu. “Untuk kuliah, aku masih butuh teman, untuk melakukan sesuatu yang mungkin tidak akan dapat kulakukan besok ketika sudah berpasangan,” jelas Efitya. Menurutnya, berteman justru lebih bisa terbuka dan jujur. Toh, orang yang punya pacar saja tetap butuh teman buat curhat bukan?

 

Efitya menambahkan, ketika pacaran, sebenarnya ada banyak hal yang ditutup-tutupi. Banyak hal yang dimanipulasi, dari dan di hadapan masing-masing. Laki-laki yang berpacaran akan menampilkan dirinya sesempurna mungkin di hadapan kekasih hatinya. Dengan kata lain, laki-laki tersebut tentu saja menyesuaikan selera perempuan yang dicintainya itu. Demikian pula bila dibalik, perempuan kepada pacarnya. Dir en Grey, band avant-garde metal asal Jepang, di lagu Different Sense menyebutkan, “cinta adalah ideal dari sosok yang kau tiru (aijou ni seta hito no risou).”

 

Terlepas dari kasus khusus Andy, Efitya punya pandangan lain. Bila Andy ikut-ikutan mencari tambatan hati sebab pacaran jadi narasi besar di antara teman-temannya, bagi Efitya tidak salah pula kalau ada yang mengatakan pacaran ujung-ujungnya seks. Bisa dimaklumi, lantaran perempuan sering jadi korban, maka posisi mereka cenderung defensif. Itu sah-sah saja, sangat sah. Perlu diperhatikan dulu, ujung-ujungnya memang seks, namun niat awalnya belum tentu. Setiap laki-laki bisa saja mengelak saat dituduh mau “nakal” sama pacarnya, tapi ujungnya? Bagaimanapun juga asumsi tersebut bukan dalam rangka generalisasi. Jangan tersinggung dulu, laki-laki.

 

Sebagai pribadi yang mau dan senang mendengar, Efitya sering dijadikan tempat curhat oleh kawan-kawannya. Tak sedikit pula teman perempuannya yang mengeluhkan polah kekasihnya. Minta begini, minta begitu, lama-lama minta “anu”. Hal inilah yang mendasari persetujuan Efitya terhadap postulat “pacaran ujung-ujungnya seks”. Kasih sayang adalah hak setiap manusia, demikian pula urusan seks. Namun masing-masing ada saatnya sendiri. Hak tersebut tak dihilangkan, hanya ditunda untuk beberapa waktu. Pagi memang indah, namun terburu-buru ditelan mentari. Mengapa tak menunggu senja saja?

 

Jomblo. Kata sendiri, sunyi, dan sepi menjadi identik dengan kata jomblo (Foto: Fajar Andi/LPM Kentingan)
Jomblo. Kata sendiri, sunyi, dan sepi menjadi identik dengan kata jomblo (Foto: Fajar Andi/LPM Kentingan)

 

 

Kesunyian

 

Pada suatu karya sastra, Hidjo pergi meninggalkan negeri, juga tinggalkan calon istri. Lelaki pribumi keturunan saudagar itu merantau jauh ke Belanda untuk belajar di sekolah ingenieur. Awalnya pihak keluarga, termasuk kekasihnya: Biroe, enggan kalau Hidjo harus ke Delf. Meskipun tujuannya menimba ilmu, namun mereka khawatir Hidjo digoda para perempuan kulit putih yang nggumunan dengan laki-laki pribumi. Namun mengamati polah tingkah Hidjo selama bertunangan dengan Biroe selama ini, yang tak neko-neko seperti muda-mudi abad 21, akhirnya keluarga mengikhlaskan kepergiannya.

 

Di Belanda, pertama kali Hidjo masuk Koninklijke Schouwburg dengan beberapa kawan (termasuk nona-nona Belanda), ia diajak menyaksikan drama Faust. Hidjo, yang selama perjalanan sanggup bertahan walau diberondong goda-rayu perempuan, merasa tersindir. “Tuan Hidjo,” kata salah satu nona yang juga menyaksikan drama, “apakah akhirnya tuan hendak berbuat seperti Faust itu? Sebab sekarang tuan suka belajar. Tapi akhirnya…” Apa yang terjadi? Ya, Hidjo tidak menyelesaikan sekolah ingenieur-nya di Delf, Belanda. Hidjo malah asyik bercinta dengan Betje, putri direktur perseroan di Den Haag. Tampaknya Mas Marco betul-betul terinspirasi Johann Wolfgang von Goethe dalam penulisan Student Hidjo.

 

Baik Faust maupun Hidjo, keduanya adalah sosok yang sunyi pada awalnya. Di awal drama, Faust digambarkan tengah mengalami kesendirian yang nyata. Hanya demi memecah kesepian itu, Goethe sampai repot-repot mengutus iblis agar menghampiri Faust dalam wujud seekor anjing pudel. Demikian pula Hidjo, segera setelah kapal yang ditungganginya mengangkat jangkar, ia terjebak kesendirian. Meski di samping kanan-kirinya ada gadis-gadis muda Belanda yang menggoda, tapi di hati Hidjo saat itu hanya Biroe: gadis yang tak akan ia jumpai lagi dalam waktu yang cukup lama. Baik Goethe maupun Mas Marco, sama-sama mengakhiri kesunyian dengan mendatangkan sesosok perempuan juru selamat. Gretchen untuk Faust, dan Betje untuk Hidjo. Begitu?

 

Apakah mengusir kesunyian sesederhana itu? Dapat pacar habis itu sudah? Entah, mari kembali saja ke hal mendasar: apakah mereka yang tak punya pacar serta-merta jadi pribadi sunyi? Istilah jomblo, menurut Efitya, lahir di zaman ketika orang-orang menganggap berpacaran sebagai arus utama, dan “sendiri” sebagai tabu. “Kata jomblo itu dari orang yang menganggap hubungan pacaran penting. Sekarang apa-apa jomblo, jadi pasaran,” katanya. Padahal kalau jomblo, peluang mengusir sunyi malah jauh lebih besar. “Ketika orang punya pacar, kalau ada kesulitan, sedikit-sedikit ke pacar. Kalau tidak berpacaran, bisa punya link banyak dan tidak terikat,” tambah Efitya.

 

Kembali pada pertanyaan di awal, apakah cinta-cintaan itu mengganggu aktivitas akademis? “Iya sekali. Ada yang tidak, tapi jarang sekali,” demikian jawab Ketua Senat Mahasiswa FISIP UIN Sunan Ampel Surabaya, Imam Hanafi Hafads. Begitu pun dalam berorganisasi, tambah Imam, “meskipun pacaran satu organisasi, tetap saja organisasi diduakan.” Maka, bagi Imam, mereka yang menjomblo, atau terpaksa jomblo lantaran tuntutan akademis atau menempa diri di organisasi, perlu diapresiasi. “Prasangka saya, yang begituan itu peduli proses belajar,” katanya.

 

Pengajar Sosiologi Universitas Udayana, Wahyu Budi Nugroho pernah berujar, “belajar adalah proses represi diri.” Belajar adalah mengekang diri dari segala hal yang tak berfaedah, apalagi yang menghambat perkembangan. Tak heran bila guru-guru SD gemar mengimbau para muridnya supaya mengurangi main PS, jajan sembarangan, dan berbagai nasehat lain. Sebab, tanpa proses pengekangan diri, bukan belajar namanya. Demikian pula mereka yang mengabaikan cinta-cintaan, dalam rangka menempa diri dalam ilmu pengetahuan, itu salah satu bentuk represi. Tangguh! []


Udji KayangUdji Kayang Aditya Suptiyanto. Esais bujang, berdomisili di @udjias danadiksikopi.blogspot.com.

Baca Juga

Petani dari Kampus Buru

Oleh: Satya Adhi dan Vera Safitri   DI RUMAH Paiman, orang-orang berdatangan hampir tiap hari. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *