> Jeda > Matinya Petani Kami
Pewarta foto : Panji Satrio/ LPM Kentingan UNS.

Matinya Petani Kami

 

KAMI MERAWAT PADI tiap hari, tapi hanya jadi tahi…” Teriak seorang pria di tengah kerumunan. Dia Choirol Imam, mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS). Usai kalimat itu dibacakan, empat lelaki yang hanya bercelana kolor mulai berkelahi dengan seorang lelaki berbaju hijau tua. Lelaki berbaju hijau tua itu telihat gagah. Ia sakti, meski cuma seorang, nyatanya ia bisa menjatuhkan para lelaki bercelana kolor tadi. Empat lelaki lalu kalah, tersungkur ke atas aspal. Tak bergerak. Keempatnya mati dengan tragis.

 

Sebenarnya puluhan orang menyaksikan tragedi itu, beberapa polisi pun ada di sana. Tapi mengapa tak ada satupun yang mau menolong empat pria tadi? Setidaknya mengevakuasi mayat-mayat mereka, menyingkirkannya dari jalanan?

 

Tak lama seorang perempuan datang buru-buru. Bukan untuk menolong, tapi sekadar meletakkan bunga warna putih di dekat jasad-jasad yang tak bergerak itu. Anehnya, puluhan orang yang sejak tadi ada di sana mengikut. Termasuk Choirul Imam, yang sempat membacakan beberapa bait puisi sebelum tragedi itu terjadi. Bedanya, ia dan puluhan orang lainnya memberikan bunga-bunga itu pada para polisi yang berdiri di sekitar mereka.

 

Haish, apa-apaan ini? Mengapa para polisi justru sibuk menerima bunga, bukannya menolong orang-orang yang tadi sempat berkelahi, kalah, lalu mati?

 

 

RUPANYA mereka tidak benar-benar mati. Semua hanya sandiwara! Para lelaki yang sempat berkelahi tadi adalah mahasiswa-mahasiswa FSRD UNS, yang saat itu sengaja melakonkan sandiwara tadi pada Aksi Solidaritas untuk Kendeng, Kamis, 23 Maret 2017.

 

Choirol Imam, si pembaca puisi sekaligus narator teatrikal, menjelaskan bahwa aksi tersebut merupakan gambaran atas perlawanan warga Kendeng. “Sosok lelaki bertelanjang dada menggambarkan para petani, dan lelaki berbaju hijau tua itu sebagai korporat, atau dalam hal ini ia menggambarkan dari pihak [Pabrik] Semen,” katanya. Mereka tak sendirian, dalam aksi itu  Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS, BEM Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), BEM Universitas Surakarta (UNSA), Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) Sukoharjo, dan beberapa organisasi pergerakan mahasiswa  lain di Surakarta pun turut terlibat.

 

Aksi ini dilakukan di Bundaran Kartasura, Sukoharjo. “Bundaran Kartasura dipilih karena lokasi ini menghubungkan tiga provinsi: Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur. Karena strategis,” ujar Addin Hanifa, staf BEM UNS.

 

Addin juga menyatakan, bahwa aksi ini merupakan bentuk respon atas meninggalnya Patmi (48) pada Selasa, 21 Maret 2017. Ia seorang Petani Kendeng sekaligus salah satu peserta Aksi Semen Kaki di depan Istana Negara, Jakarta. Selain itu, dalam aksi ini mereka menuntut tiga hal yakni; Memerintahkan Presiden RI untuk menindak tegas pencabutan izin lingkungan yang diterbitkan Gubernur Jawa Tengah No. 660.1/6 Tahun 2017, menolak aktivitas pertambangan di pegunungan Kendeng dan rehabilitasi warga Kendeng yang menjadi korban pembangunan pabrik.

 

Tak cuma itu, untuk menunjukan duka cita atas kematian Patmi, para peserta aksi lanjut melakukan salat gaib di lokasi demonstrasi. Salat dimulai pukul 14.30 WIB. Di depan mereka tergeletak sebuah peti mati dan seorang pria yang didandani serupa pocongan.  Selang berapa lama, keduanya ditaburi bunga. Di atas peti,  sebuah pamflet tertulis,

“Terus Membangun Kapan Berkebun?”[]

 

PenyuntingVera Safitri

 

 

 


Adhi Nugroho

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNS. Surel  : dhynug@gmail.com

Baca Juga

Berlebaran di Kampus

Oleh : Isnaini Khoirunnisa Kepada para mahasiswa, yang merindukan kampung halaman. Kepada dosen tak berperasaan, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *