> Laporan Khusus > Sehari di Sriwedari, Riuh Hiburan Taman Tengah Kota

Sehari di Sriwedari, Riuh Hiburan Taman Tengah Kota

Taman Sriwedari adalah sebuah taman raja. Bukan berarti hanya untuk raja, di kebon rojo ini semua wong solo boleh berkumpul. Semua boleh menikmati taman bermain, pegelaran seni, atau sekedar mencari buku murah.

iang itu begitu gerah, namun udara terasa sejuk setelah memasuki halaman taman Sriwedari. Dua pohon beringin sebagai gapura, menjadi pelindung taman dari asap kendaraan yang berlalu lalang. Ramainya mobil dan motor di jalan protokol Slamet Riyadi tak begitu terdengar lagi. Sebuah oase di tengah kota Solo.

Terlihat banyak orang beraktivitas. Diantara pedagang kaki lima yang sibuk berjualan, pengunjung santai beristirahat dan menikmati taman. Beberapa siswa yang masih berseragam asik bercengkrama selepas pulang sekolah, sementara pengunjung yang lain lahap menyantap jajanan di sekitar citywalk. Semua berbaur menjadi satu.

Akses yang mudah dan letak di tengah kota, membuat banyak orang mampir ke taman Sriwedari untuk sekedar melepas penat. “Saya sering ke sini, karena dekat dengan sekolah. Di sini tu enak, teduh dan tempatnya enak buat ngumpul sama teman-teman sehabis pulang sekolah,” ujar Putri, siswi kelas 2 SMP Negeri 15 Solo.
Seorang wanita setengah baya yang menjual bermacam mainan anak terlihat selalu tersenyum ramah, berharap ada yang mampir ke kiosnya. Aneka mainan anak, lukisan, dan kerajinan tangan dapat kita jumpai di sini. Selain sebagai taman kota, Sriwedari juga sebagai salah satu pusat hiburan, seni, dan kebudayaan yang ada di Solo. Taman yang dibangun pada masa pemerintahan Paku Buwono X ini memiliki beberapa tempat yang harus dikunjungi, diantaranya Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari, Gedung Wayang Orang (GWO), Gedung Kesenian Solo (GKS), dan Gedung Teater Solo.

Arena bermain
Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari bisa dijadikan pilihan tepat untuk melepas stress. Hanya dengan Rp6.000, kita sudah mendapat satu tiket masuk kawasan THR. “Soalnya di sini murah. Ngirit, tapi kita tetap bisa senang, tempatnya juga nyaman dan bersih,” ujar Anto, salah seorang pengunjung yang tengah lahap menghabiskan makan siangnya. Harga tiket THR yang murah dibuat agar dapat terjangkau semua kalangan.

Apalagi saat liburan sekolah tiba, tempat ini akan dibanjiri banyak pengunjung. “Selain itu, wahana bermainnya juga banyak, ada mini water boom juga,” imbuhnya.

Di arena bermain yang buka sejak pukul 05.00 pagi ini, kita disuguhi berbagai macam permainan, dari yang ringan hingga memacu adrenalin, seperti komidi putar, rumah hantu, dan mini coaster. Ada juga permainan yang melatih konsentrasi dan ketrampilan tangan. Harga tiket tiap wahana pun terjangkau, berkisar Rp5.000, kita dapat menikmati bermacam permainan. Ditawarkan pula sistem paket hemat, antara lain paket tiket fun fair dengan Rp60.000, pengunjung dapat menikmati 12 kali permainan. Juga paket coin dengan Rp25.000, pengunjung akan mendapat bonus kupon undian, atau dengan Rp100.000, pengunjung akan mendapatkan bonus kupon undian plus bonus satu tiket masuk THR.

Selain murah, kebersihan dan tata letak yang baik juga menjadi keunggulannya. Tidak ba nyak sampah yang berserak, karena petugas kebersihan dengan segera membersihkan bila ada kotoran yang tercecer.

Adanya food court juga dimanfaatkan pe ngunjung untuk beristirahat sejenak setelah lelah bermain, sambil bercengkrama dengan teman atau keluarga. “Saya bisa santai di sini. Makan, ngobrol, sambil mengawasi anak-anak yang lagi main,” seperti diungkapkan Sri, seorang pengunjung yang datang bersama suami dan kedua anaknya.

Tidak hanya siang, THR tetap dibanjiri pe ngunjung di malam hari. Malah tampak makin meriah bila malam tiba. “Yang kesini tambah banyak kalau malam, malam kan ada pentas musik. Apalagi pas pentasnya dangdut, tambah rame lagi,” terang salah seorang penjaga stan permainan. Pentas dangdut yang dilaksanakan tiap Rabu dan Sabtu malam itu ba nyak menarik minat masyarakat. Mulai pukul 20.00, pentas dimulai semua orang baik muda maupun tua berbaur jadi satu. Seolah terhipnotis, semua bergoyang mengikuti irama musik rakyat ini.

Untuk memenuhi beragamnya selera musik, tiap Senin dan Selasa malam diadakan pentas musik Koes Plus, dimana home band membawakan lagu-lagu band legendaris Koes Plus. Acara ini juga selalu dipadati oleh para penggemar Koes Plus. Sementara bagi penikmat musik rock, ada pula pementasannya di tiap Kamis malam. Selalu ada suara yang berbeda tiap malamnya. Jika di Sabtu malam orang asik bergoyang dangdut, lalu Senin malam berkoor menyanyikan “Diana…”, dan di Kamis malam terdengar distorsi gitar ala Led Zeppelin atau Jimi Hendrix.

Wayang orang
Keluar dari THR, kita bisa berkunjung ke Gedung Wayang Orang (GWO) di sebelahnya. Pagelaran tiap Selasa hingga Sabtu malam, mulai pukul 20.00. Dengan Rp3.000, kita sudah bisa melihat kesenian asli Jawa ini. Gedung yang didirikan pada masa Paku Buwono XI         ( 1938-1980 ) ini, memang tampak kurang terurus. Memasuki ruangan, kita disuguhi bebe rapa lukisan dan foto-foto dunia pewayangan yang sudah termakan usia.

Kursi penonton yang sederhana namun nyaman, berjajar rapi di depan panggung. Lampu-lampu sorot tua masih setia bertugas melengkapi dekor panggung, semakin nyaman karena dilengkapi dengan pendingin ruangan. Beberapa grobak makanan ringan berjualan di sekitar gedung pertunjukan. Terdapat beberapa makanan “ndeso” yang jarang ditemui di tempat lain, seperti kacang rebus, ketela rebus, dan pisang rebus.

Sayangnya, minat masyarakat, khususnya remaja, semakin habis untuk datang melihat pertunjukan seni ini. Di hari biasa, pengunjung berkisar antara tiga puluh hingga lima puluh orang. Di akhir pekan, pengunjung bisa mencapai tujuhpuluh lima hingga seratus orang. Di hari biasa, pengunjung berkisar antara tiga puluh hingga lima puluh orang. Di akhir pekan, pengunjung bisa mencapai tujuhpuluh lima hingga seratus orang. Hal ini sangat kontras dibandingkan dengan pentas musik dangdut di THR yang pengunjungkan bisa berpuluh kali lipat dari pengunjung di GWO.  “Emang kalau hari-hari biasa gini sepi, tapi kalau malam minggu tambah rame,” ujar Haryati, seorang penjual kacang rebus yang telah sepuluh tahun berjualan di GWO.

Rata-rata yang melihat adalah orang yang sama dari hari kehari dan yang menggemari kesenian asli Solo ini. Harno salah satunya, supir taksi ini tak pernah melewatkan untuk menonton pentas wayang orang. “Saya sering ke sini. Hampir tiap malam,” akunya.Itu tak lepas karena pentasnya memang bagus. “Ce ritanya  menarik, para pemainnya memainkan perannya dengan baik, sangat menghibur. Apalagi saya memang suka dengan kesenian wayang wong,” imbuhnya.

Meski penontonnya sedikit, para pelakon wayang tetap bersemangat dalam memainkan peran. Totalitas dalam berkreasi seni pun nampak jelas di atas panggung. Peran-peran yang dibawakan pun mengalir dengan penuh makna.

Buku bekas
Salah satu tempat yang tersohor lainnya di komplek Sriwedari adalah sentra penjual buku-buku bekas atau yang lebih dikenal dengan busri (mburi Sriwedari).  Sesuai julukannya, tempat ini terletak di belakang Taman Sriwedari. Di tempat yang ada sejak tahun 1987 ini, bisa ditemui bermacam buku, buku bekas ataupun buku baru.Tak jarang, bisa ditemukan buku langka. Busri banyak dikenal masyarakat Solo, karena harga bukunya lebih miring dibanding harga di toko buku.

“Kalau beli buku, saya seringnya ke sini. Soalnya di sini harganya murah, masih bisa ditawar lagi,” ungkap Dwiki, mahasiswa semester 2 FKIP UNS. Keunggulan lain, kualitas buku juga tak kalah bagus dengan yang ada di toko buku. “Meski bukunya bekas, tapi masih bagus dan kadang ada coretan jawabannya. Jadi, saya terbantu,” jelasnya sambil tertawa.

Terdapat  97 kios berjajar rapi memanjang dari timur ke barat. Salah seorang penjual, Parwati, yang khusus menjual buku bekas, hampir dua belas tahun berjualan buku di busri. Ibu empat anak ini sudah banyak merasakan pahit ma nisnya berjualan di busri. Parwati mengatakan bahwa ramainya pembeli adalah saat tahun ajaran baru, dimana banyak siswa dari SD sampai SMA berduyun mencari buku penunjang pelajaran. Namun, timbul kekhawatiran dari para penjual, seringnya sekolah menggunakan kurikulum baru dengan mengeluarkan buku dari sekolah itu sendiri, dirasakan dampaknya oleh pedagang busri. Sepinya pembeli saat tahun ajaran baru dirasakan sebagai kegetiran para pedagang buku buku bekas. Khawatir karena dibayangi masalah relokasi yang belum ada kejelasannya juga menjadi masalah lain bagi puluhan pedagang di busri.

Ingin suasana berbeda menikmati kota Solo? Cobalah datang ke sebuah taman rindang di tengah kota Solo ini. Siang atau malam, sama asiknya. Sekedar berburu buku lama atau menikmati pentas wayang orang. Atau, sedikit bernostalgia bersama lagu-lagu Koes Plus. Kenapa tidak? [] (Rochmad E., Mutiara A., Aulia R.)

Baca Juga

Benang Kusut Hadiah OSM (Bagian II)

Oleh: Ririn Setyowati   Pihak panitia OSM, Mawa UNS serta para pemenang OSM yang bersangkutan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.