> Ruang Sastra > Cerpen > 30 Detik (Part 2)

30 Detik (Part 2)

Oleh : Citra A.P.A

Aku masih terperangah tidak percaya. Namun, aku hanya bisa bungkam. Entah mengapa, kekecewaanku tak bisa dengan mudah kulampiaskan dalam bentuk teriakan histeris, atau tangisan yang membludak, ataupun amarah yang berkoar-koar. Aku hanya bisa bungkam, tetapi tidak dengan kelenjar air mataku. Mereka kontraksi tanpa permisi.

Dokumentasi hidup yang telah ditayangkan ternyata tidak hanya tentang hari-hariku semata, tetapi juga orang-orang yang berhubungan dan memiliki peran penting di setiap dinamika hidupku. Dokumenter tiga puluh detik berikutnya, menampilkan beberapa sisi hidup seorang tante Misea Andarisma yang tak pernah kuduga. Di balik kebaikannya selama dua tahun terakhir ini, ternyata ia menyimpan sejuta misi. Ia berupaya keras membujukku untuk menghindar dan menempatkan ibuku di panti jompo. Ia juga memfitnah ibuku sebagai biang keladi penghancur perusahaan ayahku setelah meninggal.

Kedengkiannya pada ayah dan ibuku sejak dulu, memerangkapku pada posisi yang salah. Sekarang, setelah semua harta karun terindah di dalam hidupku telah lenyap ditelan masa, begitu beraninya ia merampas kepingan-kepingan kebahagiaanku yang tersisa. Ia pun berani memalsukan surat wasiat orangtuaku, bekerja licik dengan orang kepercayaan ayah, dengan menghapus namaku, dan mengimplementasi setiap huruf namanya dalam sebuah wasiat palsu. Seketika air mataku mengalir, kini lebih deras. Aku sesenggukan merasakannya.

“Sekarang kamu tahu jawabannya, Amora Andaresta?” tanya ibu murah senyum dengan tenang.

Tangisku semakin menjadi-jadi. Aku sudah tidak peduli lagi dengan apa yang ada di sekelilingku, aku sudah tidak mau menghiraukan gurauan gaib yang menyayat hati ini. Aku masih berharap ini hanyalah mimpi.

“Saya tahu kamu sudah dewasa. Seorang pengusaha muda yang sedang berada di puncak karir, menghitung lembaran-lembaran baru dari bank. Tak terhingga membeli asesoris mewah, tapi apakah kamu sudah lebih bahagia setelah melihat semua itu?”

“Keluarkan aku dari sini!!!” teriakku histeris.

“Setelah kamu mampu menyelesaikan semua ini.”

“Apa lagi? Apa lagi yang harus diselesaikan? Ini cuma mimpi, kan? Bilang, ini cuma mimpi!!!” Aku meronta-ronta, berusaha melepaskan cengkeraman kedua remaja kembar yang berada di kanan-kiriku. Namun, tangan mereka tidak mencengkeram tanganku, bahkan tidak menyentuhku sama sekali. Mereka tersenyum kecil. Aku kaku oleh emosiku sendiri.

“Diamlah dan saksikan sekali lagi,”nada ibu murah senyum terlihat sedikit dingin.

Lalu aku pun menuruti permintaanya. Mereka bertiga mengajakku berjalan beberapa langkah lagi, lebih sempit dari yang sebelumnya. Sekarang, benar-benar sesak.

Rekaman peristiwa yang akan mereka berikan kepadaku masih terlalu suram. Sepersekian detik kemudian, terlihat terang sama sekali, bahkan kelihatan seperti siaran langsung. Tante Misea berjalan tergesa-gesa di sebuah lorong rumah sakit. Ia mengendap-endap masuk ke sebuah ruang ICU, dan menghampiri seorang perempuan muda disana. Aku tersadar seketika, bahwa perempuan itu adalah aku.

Alat bantu pernapasan dan alat bantu lainnya yang menjadi ‘asesoris’ sementara di wajah dan tubuhku, dilepas satu persatu dengan sangat hati-hati oleh tante Misea. Ia berusaha mencelakaiku. Aku panik tak karuan.

“Dia mau membunuhku?” tanyaku panik. Entah kepada siapa aku bertanya.

Ibu murah senyum menoleh ke arahku. Ia memandangku dengan tatapan nanar. Hatiku semakin panas dan seakan ingin runtuh menjadi kepingan tak berstruktur.

“Waktumu tiga puluh detik.”

Aku membalas tatapannya dengan ekspresi panik sekaligus bingung. Apa maksudnya? Apa dia menyuruhku bermain drama sesuai skenarionya?

“Apa? Untuk apa?!” tanyaku histeris sambil berusaha menggoncang-goncangkan tubuh ibu murah senyum. Namun, seperti labirin tiada batas, tubuhnya ternyata transparan.

“Untuk merubah segalanya.”

Aku melotot tak mengerti.

“Tiga puluh menit sudah berlalu. Tiga puluh menit yang berharga dari sekian juta menit yang telah kamu ciptakan di setiap harimu selama 23 tahun usiamu. Kami memberimu kesempatan atas mandat Yang Lebih Berhak, untuk mengubah hidupmu menjadi yang seharusnya. Tanpa kami harus memberitahumu, kamu sudah menemukan jawabannya. Dan sekarang, ada waktu tiga puluh detik untuk menunjukkan pengertian atas jawabanmu. Kembalilah kepada saat dimana kamu merasa tidak bisa kembali.”

Tiba-tiba otakku mengeras, terasa mengembang, bagaikan disinari lampu tanda pencerahan di dalamnya. Aku memejamkan mata, seperti saat dimana pertama kali aku membuka mata di labirin hambar ini. Aku terpejam dengan berdiri tegak, dan otakku seakan berputar. Di dalam pandangan gelap yang telah kuciptakan, aku berlari, lebih kencang, walaupun tubuhku terasa lemah tak bernyawa. Aku merasa lelah, walaupun tak ada sedikitpun peluh yang menetes. Aku semakin melihat cahaya itu, lubang cahaya berbentuk spiral, bagaikan teleportasi yang siap mengisap tubuhku. Dan seketika, aku terisap dengan masih terpejam.

***

Aku terbangun. Kulihat sekeliling. Ya, inilah tempat seharusnya dimana aku berada. Aku masih terbaring di ruangan ICU rumah sakit. Aku membuka mata lebar-lebar. Aku masih hidup.

Kulihat sepintas bayangan tante Misea pergi meninggalkan ruang ICU. Apakah ia berhasil membunuhku?

Aku masih terlalu lelah untuk bangun dari tempat tidur, apalagi berdiri. Alat-alat medis ini benar-benar mengganggu penglihatanku. Aku memutuskan untuk kembali menutup mata, beristirahat sejenak dari mimpi yang tiga puluh menit silam mengusik hidupku.

Tiba-tiba, tante Misea kembali datang, diiringi dengan dokter dan beberapa perawat. Mereka mendekatiku. Apakah mereka menyadari bahwa aku sudah bangun? Aku mencoba tersenyum.

Namun, dugaanku sungguh meleset. Wajahku terasa kaku. Aku mencoba mengeluarkan kata-kata, tetapi tidak ada suara. Apakah aku bisu akibat koma ini? Aku mencoba menggerakkan tangan dan kakiku, tetapi mereka seakan tidak mematuhi perintahku. Mereka ikut membisu. Apakah aku lumpuh setelah koma ini?

Tante Misea, dokter, dan beberapa perawat sudah berada di sampingku. Mereka berbicara panjang, tetapi telingaku tak mampu menangkap suara apapun. Bahkan, mataku yang kini sudah membuka lebar, seakan tidak mereka hiraukan. Aku semakin takut. Apa yang terjadi? Ada apa denganku dan mereka?

Sepersekian detik pertanyaanku terlontar di dalam hati, inderaku berfungsi kembali, penciuman dan pendengaran yang beberapa saat lalu sempat tak mau diajak kompromi. Bergerak pun sudah bisa kulakukan. Suara perdana yang ditangkap oleh telingaku adalah suatu komputer medis yang kusebut dengan ‘komputer tebak-tebak berhadiah’. Di telingaku, komputer itu melengkingkan suara yang panjang, yang sangat amat kukenal, dan memiliki makna yang sangat familiar. Garis lurus, akhir dari segalanya. Aku mencoba bangun dengan penuh tenaga, segera memandangi layar komputer. Dan benar saja, detak jantungku sudah berada di ambang nyawa, yaitu angka nol. Aku pun segera sadar, tubuh yang telah bangun ini bukanlah tubuhku yang sebenarnya.

***

Hidup memang penuh misteri. Selalu ada rahasia dan ambisi dibaliknya. Tak ada yang tahu pula, kapan misteri itu akan menyibakkan ulahnya. Yang pasti, kematian adalah misteri. Takkan ada yang tahu, dan takkan ada yang peduli dengan jiwa yang segera hilang dan melayang.

Aku rasa, aku sudah menemukan jawabannya. Kematian tak sedikit bergantung pada keputusan kita sendiri, disamping takdir yang sudah tertulis hakiki. Kematian tak akan membawa harta dan tahta, gurat valas yang begitu berharga, bahkan apresiasi dari pergumulan yang ada. Kematian membawa pada keabadian, diiringi dengan cinta. Kematian tak berguna tanpa cinta dari orang di sekeliling kita. Syaratnya, mencintai dan dicintai. Dicintai takkan begitu indah tanpa mencintai, dan mencintai akan begitu menyiksa tanpa dicintai. Aku menemukan makna setelah teleportasi labirin hambar mengisap tubuhku mentah-mentah. Menghargai yang ada dari yang sebelumnya melindungi kita adalah sesuatu yang membahagiakan, lebih dari sekedar kilauan emas di dalam bunker persembunyian, dan lebih sejati dari kesetiaan harta yang datang dan pergi menghiasi penadahnya.

Dari berjuta detik dari sekian masa yang ada, terdapat berbagai tiga puluh detik yang begitu berharga. Aku tak mampu meremehkannya. Ribuan waktu bersama semesta tanpa jiwa yang bersanding, takkan mampu menandingi tiga puluh detik bersama yang sesungguhnya terkasih. Namun, aku merubahnya sekaligus menghancurkannya, setelah 30 plus sepersekian detik aku terseret arus menuju raga yang sesungguhnya. Aku terlambat. Apakah aku akan masuk surga?

TAMAT

Baca Juga

Musim Semi di Melbourne

Oleh: Adhy Nugroho   AKU MEMEGANG LOLIPOP dengan tangan kiriku, di sampingku ada Ibu, saat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *